Oleh Djuwari Syaifudin, Wakil Sekretaris Bidang Pengembangan dan Pembinaan Daerah DDII Jatim
Dewandakwahjatim.com, Surabaya —
فَوَيۡلٌ لِّلۡمُصَلِّيۡنَۙالَّذِيۡنَ هُمۡ عَنۡ صَلَاتِهِمۡ سَاهُوۡنَۙالَّذِيۡنَ هُمۡ يُرَآءُوۡنَۙوَيَمۡنَعُوۡنَ الۡمَاعُوۡنَ
Artinya: Celakalah orang-orang yang melaksanakan salat, (yaitu) yang lalai terhadap salatnya, yang berbuat riya, dan enggan (memberi) bantuan.”
Diberi rasa gelisah dan merasa tidak tenang ketika belum sholat adakah salah satu nikmat yang wajib disyukuri. Bersyukur, karena Allah masih mengingatkan dengan rasa gelisah, tidak tenang, tidak nyaman dan merasa ada sesuatu yang kurang atau tertinggal.
Belum mendirikan sholat, belum menunaikan sholat namun di dalam hati muncul perasaan gelisah dan tidak nyaman ini merupakan tanda Allah SWT menganugerahkan nikmat yang luar biasa kepada kita.
Mendapatkan hidayah berupa peringatan untuk sholat adalah salah satu nikmat terbesar dari Allah Subhanahu wata’ala ta ala. Hal ini menunjukkan bahwa Allah masih sayang, Allah masih rindu, dan masih ingin melindungi hamba-Nya agar terhindar dari perbuatan keji dan munkar, serta memastikan hati selalu tenang dalam ridho-Nya. Mensyukuri nikmat tersebut dapat diwujudkan melalui beberapa cara utama.
لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ وَلَىِٕنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ
“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku benar-benar sangat keras.”QS. Ibrahim 7.
Bersegera Memenuhi Panggilan, Menjawab adzan dengan langkah ringan untuk sholat tepat waktu adalah bukti cinta kita kepada Allah Subhanahu wata ala. Menjadikan Sholat merupakan Kebutuhan utama. Merasa ada yang kurang dalam keseharian jika sholat terlewat, menjadikan sujud sebagai tempat mencurahkan segala keluh kesah, Sarana Introspeksi Diri.
Sholat menghubungkan hati kita, dan dialok langsung dengan Allah atau menyampaikan permohonan (do’a) melalui do’a do’a dalam sholat.
Shalat artinya do”a. Doa artinya permintaan dan harapan kepada Allah sang penguasa alam semesta.
Menurut Kamus Al-Munawwir karya KH. Ahmad Warson Al-Munawwir, kata Sholat (الصلاة) berasal dari bahasa Arab dengan bentuk akar kata yaitu ص – ل – و (Sh-L-W). Secara bahasa, arti kata sholat dari akar tersebut meliputi beberapa makna: الدعاء (Do’a) الاستغفار (Permohonan ampun). الرحمة (Rahmat)
Shalat berisi doa doa yang lengkap untuk kebutuhan dan kepentingan hidup semua manusia di dunia wal akhiroh. Doa doa ini diajarkan oleh Allah untuk semua manusia untuk meminta dan memohon kepada Allah, jadi doa ini dari Allah untuk meminta kepada Allah.
Salah satu nikmat Allah yang wajib sekali untuk kita syukuri adalah saat kita belum menunaikan sholat, Allah hadirkan dalam hati kita rasa gelisah,”
Maka bersyukurlah karena masih ada iman dihatimu. Jika hatimu tidak gelisah karena belum medirikan sholat. Maka hati-hatilah itu tanda imanmu bermasalah.
Gelisah Belum Sholat Pertanda Sebuah Nikmat, Patut Disyukuri dan Kerjakan Segera.
Gelisah, merasa tidak tenang ketika belum melaksanakan sholat maka itu adalah suatu nikmat maka bersyukurlah dan segeralah mengerjakan sholat.
“Janganlah sampai kita berjuang keras untuk ikhlas dan meningkatkan kualitas ibadah, seperti puasa dan haji, namun pada akhirnya di timbangan amal kita di sisi Allah menjadi buruk karena kurangnya kualitas shalat kita,”
وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – ، قَالَ : قاَلَ رَسُولُ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – : (( إنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ العَبْدُ يَوْمَ القِيَامَةِ مِنْ عَمَلِهِ صَلاَتُهُ ، فَإنْ صَلُحَتْ ، فَقَدْ أفْلَحَ وأَنْجَحَ ، وَإنْ فَسَدَتْ ، فَقَدْ خَابَ وَخَسِرَ ، فَإِنِ انْتَقَصَ مِنْ فَرِيضَتِهِ شَيْءٌ ، قَالَ الرَّبُ – عَزَّ وَجَلَّ – : اُنْظُرُوا هَلْ لِعَبْدِي مِنْ تَطَوُّعٍ ، فَيُكَمَّلُ مِنْهَا مَا انْتَقَصَ مِنَ الفَرِيضَةِ ؟ ثُمَّ تَكُونُ سَائِرُ أعْمَالِهِ عَلَى هَذَا )) رَوَاهُ التِّرمِذِيُّ ، وَقَالَ : (( حَدِيثٌ حَسَنٌ ))
Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya amal yang pertama kali dihisab pada seorang hamba pada hari kiamat adalah shalatnya. Maka, jika shalatnya baik, sungguh ia telah beruntung dan berhasil. Dan jika shalatnya rusak, sungguh ia telah gagal dan rugi. Jika berkurang sedikit dari shalat wajibnya, maka Allah Ta’ala berfirman, ‘Lihatlah apakah hamba-Ku memiliki shalat sunnah.’ Maka disempurnakanlah apa yang kurang dari shalat wajibnya. Kemudian begitu pula dengan seluruh amalnya.” (HR. Tirmidzi, ia mengatakan hadits tersebut hasan.) [HR. Tirmidzi, no. 413 dan An-Nasa’i, no. 466. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini shahih.]
“Jika baik shalatnya, maka beruntung dan selamat. Jika tidak, maka kebalikanya yaitu rugi dan rugi.” (Syarah Riyadush Shalihin 5/103)
Salah satu cara untuk meningkatkan kualitas shalat adalah dengan “mengisi” kekurangan kualitas shalat wajib melalui pelaksanaan shalat-shalat sunnah. Allah akan memperhatikan shalat sunnah kita sebagai tambahan jika terdapat kekurangan pada pelaksanaan shalat wajib (sebagaimana dalam hadits qudsi).
Secara umum, ketika kita kurang baik dalam melaksanakan ibadah wajib, kita melengkapi dengan amalan yang bersifat sunnah. Ibnu Taimiyah telah menjelaskan hal ini.
Lihatlah di zaman sekarang betapa banyak orang yang tetap bisa tertawa terbahak-bahak dan tidak merasa bersalah sedikitpun saat dia tidak pernah mengerjakan sholat.
Ketahuilah hatinya telah mati sebelum kematian jasadnya, Dan itu adalah hukuman terberat dari Allah yang kadang tidak kita disadari…!
Admin: Kominfo DDII Jatin
Editor: Sudono Syueb
