KESABARAN DAN KEIKHLASAN DIUJI UNTUK MENENTUKAN NILAI

Oleh Djuwari Syaifudin, Wakil Sekretaris Bidang Pengembangan dan Pembinaan Daerah DDII Jatim

Dewandakwahjatim.com, Surabaya – Dihina seseorang seringkali memicu rasa sakit hati, kecewa, sedih, bahkan marah. Jika situasi ini terjadi, ada baiknya untuk tetap sabar dan berbesar hati atas hinaan orang lain. Meski tidak mudah menerima dengan sabar dan ikhlas, cara ini menjadi respon terbaik untuk diri kalian dalam mengontrol emosi yang memuncak. sabar dihina orang, untuk menguatkan hati renungkan firman Allah Subahanhu wa Ta’ala

قال الله تعالى:وَلَقَدْ نَعْلَمُ أَنَّكَ يَضِيقُ صَدْرُكَ بِمَا يَقُولُونَ (97) فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَكُنْ مِنَ السَّاجِدِينَ (98) وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّى يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ [الحجر/97- 99 ]

Dan kami sungguh-sungguh mengetahui, bahwa dadamu menjadi sempit karena apa yang mereka ucapkan. Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan jadilah kamu di antara orang-orang yang bersujud (shalat). Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal). [Al-Hijr’/15: 97-99].

Ada beragam faktor atau penyebab seseorang melontarkan hinaan untuk orang lain mulai dari rasa benci, iri hati, atau bahkan kritik. Ya, ini bisa terjadi pada siapa saja dan dilakukan oleh siapapun baik dengan ucapan ataupun tindakan. Rasa sakit memang bisa menyelimuti hati saat kalian menerima hinaan orang lain, di mana ada keinginan untuk meluapkan semua emosi karena hinaan.

Hal ini wajar terjadi terutama jika kalian tidak melakukan kesalahan apapun, namun dia justru menghina dengan ucapan yang menyakitkan. Akan tetapi ada baiknya buat kalian agar tetap sabar atas hinaan orang lain. Sebab cara ini bisa mengajarkan kalian arti sebuah kesabaran yang dapat menguatkan hati setelah tersakiti. Allah Ta’ala berfirman,

فَاصْبِرْ عَلَىٰ مَا يَقُولُونَ وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ غُرُوبِهَا ۖوَمِنْ آنَاءِ اللَّيْلِ فَسَبِّحْ وَأَطْرَافَ النَّهَارِ لَعَلَّكَ تَرْضَىٰ

“Maka sabarlah kamu atas apa yang mereka katakan, dan bertasbihlah dengan memuji Rabbmu, sebelum terbit matahari dan sebelum terbenamnya dan bertasbih pulalah pada waktu-waktu di malam hari dan pada waktu-waktu di siang hari, supaya kamu merasa senang.” (QS. Thaha: 130)

Ketika engkau dihina, jangan biarkan hatimu ikut menjadi hina. Jika ucapan itu benar,
Jadikan ia cermin untuk memperbaiki diri. Jika ia dusta, biarkan ia berlalu seperti angin.

Maka jangan sampai kita turun ke derajat mereka. Allah Ta’ala berfirman,

فَاصْدَعْ بِمَا تُؤْمَرُ وَأَعْرِضْ عَنِ الْمُشْرِكِينَ

“Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik.” (QS. Al-Hijr: 94)

فَاصْبِرْ إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ ۖوَلَا يَسْتَخِفَّنَّكَ الَّذِينَ لَا يُوقِنُونَ

“Dan bersabarlah kamu, sesungguhnya janji Allah adalah benar dan sekali-kali janganlah orang-orang yang tidak meyakini (kebenaran ayat-ayat Allah) itu menggelisahkan kamu.”(QS. Ar-Rum: 60)

وَٱصْبِرْ عَلَىٰ مَا يَقُولُونَ وَٱهْجُرْهُمْ هَجْرًا جَمِيلًا

Artinya: Dan bersabarlah terhadap apa yang mereka ucapkan dan jauhilah mereka dengan cara yang baik. QS. Al-Muzzammil 10.

Ayat ini memerintahkan bersabar terhadap apa saja yang mereka katakan, yang menyakitimu dan tinggalkanlah mereka dengan cara yang baik sehingga mereka tidak merasa bahwa engkau memusuhi mereka dan menaruh dendam terhadap mereka.

Nilaimu tidak ditentukan oleh lisan manusia, tetapi oleh kesabaran dan akhlakmu.
Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ

“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az-Zumar: 10)

كان أحسن الناس خلقا، لم يكن فاحشا ولا متفحشا، ولا سخابا في الأسواق، ولا يجزي بالسيئة السيئة، ولكن يعفو ويصفح

Artinya: “Adalah Rasulullah SAW orang yang paling bagus akhlaknya: beliau tidak pernah kasar, berbuat keji, berteriak-teriak di pasar, dan membalas kejahatan dengan kejahatan. Malahan beliau pemaaf dan mendamaikan.” (HR Ibnu Hibban)

وَمَنْ يَسْتَعْفِفْ يُعِفَّهُ اللَّهُ ، وَمَنْ يَسْتَغْنِ يُغْنِهِ اللَّهُ ، وَمَنْ يَتَصَبَّرْ يُصَبِّرْهُ اللَّهُ ، وَمَا أُعْطِيَ أَحَدٌ عَطَاءً خَيْرًا وَأَوْسَعَ مِنْ الصَّبْرِ

Artinya: “Barang siapa yang berusaha menjaga diri, maka Allah menjaganya, barangsiapa yang berusaha merasa cukup, maka Allah mencukupinya. Barangsiapa yang berusaha bersabar, maka Allah akan menjadikannya bisa bersabar dan tidak ada seorang pun yang dianugerahi sesuatu yang melebihi kesabaran.” (HR Bukhari No 1469)

Sesungguhnya hanya orang-orang yang sabar yang diberi pahala di akhirat tanpa batasan, hitungan, dan kadar. Ini adalah pengagungan terhadap balasan bagi orang-orang yang sabar dan pahala mereka.

Sabar bukan berarti lemah
Ketika seseorang memilih untuk bersabar, bukan berarti ia lemah tak berdaya, diam, dan tidak melakukan sesuatu. Sebaliknya, sabar adalah sumber kekuatan dan dapat mendatangkan pertolongan Allah Ta’ala.

Allah Ta’ala berfirman,

وَاسْتَعِينُواْ بِالصَّبْرِ وَالصَّلاَةِ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلاَّ عَلَى الْخَاشِعِينَ

“Jadikanlah sabar dan salat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk.” (QS. Al-Baqarah: 45)

Dalam firman-Nya yang lain,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اسْتَعِينُواْ بِالصَّبْرِ وَالصَّلاَةِ

“Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan salat sebagai penolongmu.” (QS. Al-Baqarah: 153)

Orang yang kuat bukan orang yang pandai membalas, melainkan yang mampu menahan diri saat mampu membalas.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ: لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ

“Dari Abu Hurairah raḍiyallāhu ‘anhu, bahwa Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Orang yang kuat bukanlah orang jago dalam bergulat dan berkelahi, namun orang yang kuat adalah orang mampu mengendalikan dirinya ketika sedang marah.’” HR. Bukhari (6114) dan Muslim (2609).

Firman Allah,

وَا لْكٰظِمِيْنَ الْغَيْظَ وَا لْعَا فِيْنَ عَنِ النَّا سِ ۗ وَا للّٰهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَ 

“… dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan.” (QS Ali ‘Imran 3: 134)

Ayat ini secara implisit menunjukkan bahwa menahan emosi dan amarah sangat berat, apalagi memaafkan, bahkan lebih berat daripada upaya untuk menang dalam berkelahi. Sebab, sejatinya seseorang apabila telah terjajah oleh emosi, apalagi jika sampai membuncah kemarahannya, maka seakan dunia begitu sempit baginya, tiada cita-cita tertinggi baginya kecuali meluapkan emosinya dengan mengucapkan sumpah serapah dan cacian, bahkan kalau bisa, tentu ia berhasrat untuk menelan mentah-mentah orang yang menjadi obyek kemarahannya tersebut.

Kekuatan bukan terletak pada kekuatan badan, tapi pada kekuatan akalnya yang dapat mengendalikan emosi dan amarahnya.

Mengajarkan kita, untuk menganggap marah sebagai musuh yang harus ditundukkan dan dikendalikan, sebab marah diikuti emosi dan dilampiaskan dapat membawa dampak yang sangat buruk.

Orang yang Paling Kuat Menurut Nabi Umumnya badan yang kuat identik dengan tubuh yang kekar, badan tegap, dan berotot. Layaknya pegulat dan petinju handal yang siap bertarung dengan lawannya. Namun, orang yang paling kuat menurut Nabi saw. bukanlah seperti itu. Hal ini sebagaimana disabdakan dalam riwayat-riwayat sebagaimana berikut.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ (رواه البخاري ومسلم)

Dari Abu Hurairah r.a. bahwasannya Rasulullah saw. bersabda, “Orang yang kuat bukanlah yang pandai bergulat, sungguh orang yang kuat adalah yang mampu menguasai dirinya ketika marah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

عَنْ أَبَيْ هُرَيْرَةَ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ ». قَالُوا فَالشَّدِيدُ أَيُّمَ هُوَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ « الَّذِى يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ ». (رواه مسلم)

Dari Abu Hurairah r.a., ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda, “Orang yang kuat bukanlah yang pandai bergulat.” Para sahabat pun bertanya, “Lalu orang yang paling kuat itu yang seperti apa wahai Rasulullah?.” Beliau bersabda, “Orang yang mampu menguasai dirinya ketika marah.” (HR. Muslim)

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مَا تَعُدُّونَ الرَّقُوبَ فِيكُمْ ». قَالَ قُلْنَا الَّذِى لاَ يُولَدُ لَهُ. قَالَ«لَيْسَ ذَاكَ بِالرَّقُوبِ وَلَكِنَّهُ الرَّجُلُ الَّذِى لَمْ يُقَدِّمْ مِنْ وَلَدِهِ شَيْئًا ». قَالَ « فَمَا تَعُدُّونَ الصُّرَعَةَ فِيكُمْ ». قَالَ قُلْنَا الَّذِى لاَ يَصْرَعُهُ الرِّجَالُ.قَالَ « لَيْسَ بِذَلِكَ وَلَكِنَّهُ الَّذِى يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ ». (رواه مسلم)

Dari Abdullah bin Mas’ud, ia berkata, (Suatu hari) Rasulullah saw. bertanya, “Menurut kalian, siapa orang yang mandul itu ?” ‘Abdullah bin Mas’ud mengatakan, ‘Kami menjawab, ‘Orang yang tidak mempunyai anak’. Beliau bersabda, “Orang yang mandul itu bukan demikian. Akan tetapi orang yang mandul itu adalah seorang laki-laki yang tidak mampu memberikan apapun kepada anaknya.” Beliau bertanya lagi, “Menurut kalian siapa orang yang kuat?” ‘Abdullah bin Mas’ud r.a. mengatakan, ‘Kami menjawab, ‘Orang yang kuat adalah lelaki yang tidak terkalahkan’. Beliau bersabda,“Orang yang kuat adalah orang yang dapat menguasai dirinya ketika marah.” (HR. Muslim)

Berdasarkan riwayat-riwayat tersebut, maka Nabi saw. telah menegaskan kepada umatnya bahwa orang paling kuat bukanlah yang pandai bergulat sehingga tak terkalahkan. Tetapi orang yang mampu mengendalikan dirinya ketika ia marah.

Imam Ibnu Hajar di dalam kitabnya Fathul Bari mengutip pendapat imam Ibnu Battal tentang hadis tersebut. Menurut imam Ibnu Battal, hadis tersebut menunjukkan bahwa berjuang mengendalikan nafsu itu lebih berat dari pada berjuang melawan musuh. Oleh karena itu Nabi saw. menjadikan orang yang dapat mengendalikan nafsunya (dirinya) ketika marah sebagai manusia yang paling kuat.

Sedangkan imam Ibnu Hajar sendiri berkomentar bahwa musuh terbesar bagi seseorang adalah syaithan yang ada pada dirinya dan nafsunya. Sementara marah itu timbul dari keduanya. Oleh karana itu, maka siapa yang bisa berjuang melawannya sampai bisa mengalahkannya disertai juga dengan melawan nafsunya dari syahwat (keinginan-keinginan) maka ialah yang paling kuat.

Memang musuh terbesar adalah melawan diri sendiri, khususnya ketika marah. Meskipun berat, tetapi hal itu bisa dilatih dengan terus menerus mengendalikan dan menahan diri untuk terbawa emosi. Sehingga kita dapat tergolong orang yang paling kuat menurut Nabi saw.
Wa Allahu A’lam bis Shawab.

Admin: Kominfo DDII Jatim

Editor: Sudono Syueb

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *