Harus Paham Tujuan Hidup

Oleh Anwar Djaelani, Pengurus Dewan Da’wah Jatim

Dewandakwahjatim.com — Semua kegiatan seorang Hamba Allah, baik yang berupa ibadah kepada Allah maupun yang berupa muamalah, semua itu dilakukan untuk mengabdi kepada Allah. Tujuannya, untuk meraih ridha-Nya
(Natsir, Fiqhud Da’wah, 1983: 30)


Apa tujuan hidup manusia? Pertanyaan itu tampak sederhana, tetapi sesungguhnya sangat mendasar. Banyak orang hidup tanpa pernah benar-benar menemukan jawabannya. Akibatnya, hidup berjalan sekadar mengikuti arus: Bekerja, mencari harta, mengejar kedudukan, lalu selesai. Padahal, manusia tidak diciptakan tanpa arah.

Ibadah dan Ibadah

Natsir dalam buku Fiqhud Da’wah mengingatkan bahwa hidup seorang Muslim harus bertolak dari tauhid. Dari sanalah manusia memahami untuk apa dia hadir di muka bumi. Tanpa tauhid, hidup kehilangan pusat orientasi. Orang bisa cerdas, kaya, dan terkenal, tetapi batinnya kosong.

Allah telah menjelaskan tujuan hidup manusia dalam Al-Qur’an: “Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka mengabdi kepada-Ku” (QS Adz-Dzariyaat [51]: 56). Ayat ini menjadi fondasi penting dalam pandangan Natsir. Bahwa, inti kehidupan adalah menyembah Allah. Hidup manusia untuk beribadah ⁷6kepada-Nya.

Seluruh aktivitas hidup semestinya bergerak menuju pengabdian kepada Allah.
Lalu, apakah ibadah hanya berarti shalat, puasa, zakat, dan haji? Tentu tidak, sebab dalam Islam, ibadah memiliki makna yang luas. Bekerja dengan jujur adalah ibadah. Menuntut ilmu adalah ibadah. Berdakwah adalah ibadah. Menolong sesama adalah ibadah. Bahkan, senyum yang tulus pun bernilai ibadah jika diniatkan karena Allah.

Oleh karena itu, manusia yang jauh dari ibadah sesungguhnya sedang jauh dari fitrahnya sebab menyembah Allah adalah kebutuhan ruhani manusia. Ibarat ikan membutuhkan air, manusia membutuhkan hubungan dengan Tuhan-nya. Ketika hubungan itu rusak, lahirlah kegelisahan, kehampaan, dan hilangnya makna hidup.

Dakwah, Perlu!

Harap diperhatikan, bahwa tujuan hidup manusia hanya beribadah kepada Allah, jangan diterjemahkan untuk sama sekali meninggalkan kehidupan duniawi. Islam tidak mengajarkan sikap meninggalkan kehidupan dunia. Seorang Muslim tidak diperintahkan lari dari kehidupan.

Sebaliknya, ada amanah kepada manusia untuk mengolah dunia. Manusia bertugas memakmurkannya dan memanfaatkannya untuk kebaikan. Allah berfirman:
“Carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu kebahagiaan negeri akhirat dan janganlah kamu melupakan bagianmu di dunia” (QS QS Al-Qashash [28]: 77).

Ayat di atas menunjukkan keseimbangan. Bagi Islam, dunia bukan tujuan akhir tetapi juga tidak boleh diabaikan. Seorang Muslim harus bekerja, berkarya, membangun peradaban dan menghadirkan manfaat bagi sesama.

Kita harus seimbang berkarya di dunia, karena manusia adalah khalifah di bumi. Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.” (QS Al-Baqarah [2]: 30).

Menjadi khalifah berarti memikul amanah besar. Manusia tidak hidup sekadar untuk dirinya sendiri. Dia punya tanggung-jawab memakmurkan bumi, menjaga keadilan, menebarkan kebaikan, dan mengajak manusia menuju jalan Allah.

Oleh karena itu pula, Natsir menegaskan bahwa Islam adalah agama dakwah. Seorang Muslim tidak cukup hanya menjadi baik untuk dirinya sendiri. Dia juga harus mengajak orang lain menuju kebaikan. Dakwah bukan sekadar berceramah di mimbar.

Hidup yang Benar

Dakwah adalah menghadirkan nilai Islam dalam kehidupan. Guru yang sabar, sejatinya sedang berdakwah. Pedagang yang amanah, sebenarnya berdakwah. Penulis yang menyampaikan kebenaran, sesungguhnya sedang berdakwah. Pemimpin yang adil, sejatinya sedang berdakwah.

Pada sedikit contoh di atas, tampak Islam yang indah. Islam tidak memisahkan kehidupan dunia dan akhirat secara kaku. Islam membangun keseimbangan. Di bawah naungan Islam, otak dan hati berjalan bersama. Kecerdasan tanpa iman akan melahirkan kesombongan. Semangat beragama tanpa ilmu bisa melahirkan kekeliruan.

Islam menyeimbangkan amal dan ibadah. Seorang Muslim tidak cukup rajin berdzikir tetapi malas bekerja. Sebaliknya, dia juga tidak boleh sibuk bekerja hingga melupakan shalat dan ibadah lainnya.

Doa dan ikhtiar harus berjalan seiring. Ada orang yang hanya berdoa tanpa usaha. Ada pula yang hanya mengandalkan usaha tanpa doa. Islam mengajarkan keduanya. Berdoalah karena semua bergantung kepada Allah. Bekerjalah karena
keberhasilan menuntut kesungguhan yang maksimal.

Begitu pula kecakapan hidup dan akhlak. Hari ini, banyak orang pintar tetapi miskin adab. Padahal, ilmu tanpa akhlak bisa menjadi bencana. Dalam pandangan Islam, kemajuan sejati bukan hanya kemajuan teknologi, tetapi juga kemuliaan akhlak.

Oleh karena itu, tujuan hidup menurut Natsir bukan sekadar mencapai kesenangan duniawi. Tujuan hidup adalah meraih kehidupan yang sebenar-benarnya hidup yaitu hidup dalam penghambaan kepada Allah. Kita usahakan, agar hidup bermanfaat, hidup yang menghadirkan kebaikan bagi sesama, dan hidup yang berujung kepada keselamatan di akhirat. Inilah hidup yang memiliki arah.

Hidup seperti gambaran di atas, adalah hidup yang tidak kosong. Hidup yang tidak habis hanya untuk mengejar pujian manusia. Hidup yang penuh berkah.

Ketika seorang Muslim memahami tujuan hidupnya, dia tidak akan mudah putus asa. Dia tidak akan gampang menyerah. Hal ini karena dia sadar bahwa seluruh hidupnya, jika diniatkan karena Allah, akan bernilai ibadah.

Ibadah dan Dakwah

Jadi, tujuan hidup manusia itu untuk beribadah kepada Allah. Makna ibadah di sini dalam pengertian yang luas. Kesemuanya bisa diberi muatan dakwah, sebab kata Natsir dakwah itu tak hanya menyerukan kebaikan dari atas mimbar. []

Admin: Kominfo DDII Jatim

Editor: Sudono Syueb

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *