QURBAN DITINJAU DARI BEBERAPA ASPEK

Oleh Djuwari Syaifudin, Wakil Sekretaris Bidang Pengembangan dan Pembinaan Daerah DDII Jatim

Dewandakwahjatim.com, Surabaya – Qurban asluhu قرب يقرب قربنا (qarraba-yuqarribu-qurbanan) artinya mendekatkan diri kepada……. jadi qurban adalah wasilah untuk mendekatkan diri kepada Allah. Wasilahnya bisa berupa apa saja berupa waktu ,tenaga, harta, pikiran, dan lain sebagainya. Jadi qurban adalah jual beli dengan Allah, simudhohi mengeluarkan waktu, tenaga, harta, pikiran,dan lan sebagainya diberikan kepada Allah dan Allah membalasnya berlipat ganda.

Ibadah qurban memiliki dimensi yang luas, tidak hanya sekadar penyembelihan hewan, tetapi mencakup aspek tauhid, spiritual, sosial, moral, hingga ekonomi. Berikut adalah tinjauan qurban dari beberapa aspek:

Tauhid
Ibadah qurban mempunyai nilai ketauhidan yang sangat kental. Ritual ibadah qurban merupakan momen untuk mengenang kembali perjuangan monoteistik yang dilakukan oleh nabi Ibrahim. Yaitu seorang nabi sholeh yang dikenal sebagai bapak tauhid.

Dalam konteks ketauhidan, ibadah qurban yang dilakukan oleh nabi Ibrahim dengan mengorbankan anak yang dicintainya mengajarkan kepada manusia sikap bertauhid yang sesungguhnya.

Nabi Ibrahim mampu membebaskan dirinya dari penghambaan kepada materi (dalam hal ini anak yang dicintainya) menuju penghambaan kepada Allah semata. Melalui ibadah qurban ini nabi Ibrahim memperlihatkan keimanan, ketundukan dan ketaatannya hanya kepada Allah.

Nabi Ibrahim juga telah berhasil melepaskan diri dari kelengketannya kepada dunia, baik jasadnya, jiwanya, hatinya, maupun ruhnya, karena kelengketan kepada dunia akan menjadi penghalang seseorang untuk melakukan pengorbanan, ketaatan maupun kepatuhan dalam menjalankan perintah Allah.

 Spiritual
Ibadah qurban merupakan sarana pembuktian keimanan kita kepada Allah . Keimanan meliputi keikhlasan, yang berarti ibadah qurban yang kita lakukan harus murni dilakukan hanya semata-mata karena Allah  dan dalam rangka menjalankan perintah-Nya.

Ibadah qurban yang dilaksanakan bukan karena Allah , misalnya karena malu dilihat masyarakat bila tidak berqurban, atau karena ingin dilihat sebagai orang yang rajin melaksanakan ibadah, atau bahkan yang lebih parah berqurban yang dimaksudkan untuk sesembahan selain Allah, Ibadah seperti itu tidak akan pernah diterima disisi Allah, bahkan pelakunya akan mendapatkan dosa dari apa yang telah dilakukannya.

Jadi, dalam pelaksanaan ibadah qurban sangat dituntut adanya keikhlasan yang tumbuh dari dalam hati, sehingga dengan keikhlasan, ibadah qurban kita akan diterima disisi Allah . Dengan adanya ritual ibadah qurban, diharapkan dapat menumbuhkan dan mengasah keikhlasan, karena keikhlasan, sebagaimana halnya keimanan, akan selalu naik dan turun, akan selalu menguat dan melemah.

Keimanan juga meliputi ketaatan, yang berarti ibadah qurban yang kita laksanakan harus didasari atas ketaatan kita kepada perintah Allah  dan bukan didasari atas ketaatan kepada selain-Nya. Diharapkan dengan adanya ritual ibadah qurban  dapat meningkatkan ketaatan kita kepada Allah  dalam segala bentuk ketaatan, baik ketaatan dalam menjalankan perintah Allah , maupun ketaatan dalam menjauhi segala larangan-Nya.

Sosial
Islam adalah agama yang tidak dapat dipisahkan dari sosial, sehingga banyak kita temukan baik dalam Al-Qur’an maupun hadits yang terkandung didalamnya nilai-nilai sosial-kemanusiaan, seperti berbuat baik kepada tetangga, menolong orang lain, berbakti kepada kedua orang tua, menyantuni anak yatim, menjenguk orang sakit, memberi makan fakir miskin, dan sebagainya.

Apa yang telah disebutkan diatas adalah ajaran-ajaran Islam yang semuanya mengandung nilai-nilai sosial, karena Islam adalah agama dunia dan akhirat. Islam tidak hanya membicarakan masalah-masalah akhirat yang menjelaskan tentang tata cara ibadah yang mengatur hubungan kita dengan Allah , tapi Islam juga membicarakan bagaimana hubungan kita dengan manusia, yang semua itu kita sebut dengan hubungan sosial.

Oleh sebab itu, tujuan ibadah qurban (juga ibadah lainnnya) bukan hanya untuk mencapai kemaslahatan ukhrowi, tapi juga bertujuan bagi kemaslahatan duniawi, karena setiap pensyari’atan dalam Islam, terkandung tujuan syari’at (yang disebut oleh para ulama dengan maqoshidus syari’ah), yaitu tercapainya kemaslahatan dunia dan akhirat.

Moral karena perintah berqurban mengingatkan bahwa pada hakikatnya kekayaan itu hanyalah titipan Allah. Dari sini, seharusnya manusia menyadari bahwa pada harta yang dimilikinya ada hak orang lain, yang harus ditunaikan dengan cara mengeluarkan zakat, infaq, shadaqah, wakaf, termasuk qurban. Hikmah Spiritual, qurban yang secara bahasa berasal dari kata: qaraba-yaqrobu-qurbaanan, yang berarti “dekat”, dimaksudkan sebagai jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan cara mendekatkan diri kepada sesama manusia melalui ibadah qurban. Imam Ghazali menegaskan bahwa: Penyembelihan hewan qurban adalah sebagai simbol dari penyembelihan atau penghilangan sifat-sifat kebinatangan yang ada pada manusia, seperti sifat rakus, tamak, serakah, dan mau menang sendiri.

Dengan berqurban, diharapkan semua manusia dapat membuang sifat-sifat kebinatangan yang dapat mendatangkan musibah dan bencana itu. Dalam hubungannya dengan kehidupan kita sekarang

Begitupun dengan ibadah shalat, dalam satu riwayat,di akhirat nanti ada orang yang membawa pahala shalatnya dihadapan Allah, namun Allah melipat-lipat shalatnya  bagaikan melipat  pakaian yang kotor, kemudian dilemparkan ke wajahnya. Ini adalah gambaran orang yang shalat tetapi shalatnya bermasalah, dia tidak menjalankan pesan moral yang ada dalam shalat. Lalu bagaimana dengan ibadah kurban, Tujuan dari ibadah kurban bagaimana kita mendekatkan diri kepada Tuhan, hewan kurban sebagai wasilah, hewan kurban sebagai media atau alat untuk mendekatkan diri kepada Tuhan, endingnya adalah ketaqwaan kita semakin bertambah kepada Tuhan. Sebagaimana dalam ayat  “Tidak akan sampai kepada Tuhan daging dan darah hewan yang dikurbankan,tetapi yang sampai kepada Tuhan adalah ketaqwaan”. 

Ada dua potensi yang ada dalam diri manusia yaitu potensi pujur dan potensi ketaqwaan. Dalam salah satu ayat dikatakan “Saya telah mengilhamkan dalam diri manusia, pujur dan taqwa, pujur adalah sifat yang tidak baik,  sifat-sifat hayawania atau sifat kebinatangan, itulah yang menjadi target dari ibadah kurban atau pesan moralnya, bagaimana kita memotong sifat-sifat kebinatangan dalam diri kita dan itulah simbol dari memotong hewan dalam ber-idul adha. Sehingga dengan mengikis sifat-sifat hayawania tersebut, potensi ketaqwaan akan muncul dalam diri manusia.

Qurban adalah menunda kesenangan dunia ditukar dengan kesenangan di akhirat. Seorang membeli kambing lalu diqurbankan untuk dapat kesenangan di akhirat padahal uang pembelian kambing itu bisa digunakan untuk kesenangan di dunia, tapi dia pilih kesenangan di akhirat.

  1. Qurban adalah wasilah untuk mengurangi cinta dunia dan meningkatkan cinta akhirat. Wasilah (perantara/sarana) mendekatkan diri kepada Allah SWT, meningkatkan ketakwaan, serta meraih ampunan dosa. Ibadah ini menjadi simbol kepatuhan dan kasih sayang hamba kepada sang Pencipta, serta penolong di akhirat kelak.
  2. Qurban adalah bentuk kepedulian terhadap orang orang lemah ekonominya. Qurban meningkatkan rasa empati si pengqurban kepada faqir miskin.

Di tengah kehidupan masyarakat saat ini, semangat kurban memiliki makna sosial yang sangat besar. Daging kurban yang dibagikan mampu menghadirkan kebahagiaan bagi masyarakat yang membutuhkan, terutama mereka yang jarang menikmati makanan bergizi seperti daging.

Kurban juga mengajarkan bahwa rezeki yang dimiliki bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi ada hak orang lain di dalamnya. Dengan berbagi, tercipta rasa persaudaraan, kepedulian, dan kebersamaan di tengah masyarakat.

Selain itu, ibadah kurban menjadi sarana membersihkan hati dari sifat kikir dan cinta dunia yang berlebihan. Ketika seseorang rela mengeluarkan hartanya untuk berkurban, maka ia sedang melatih diri untuk lebih ikhlas dan peduli terhadap keadaan sekitar.

  1. Tidak ada kesuksesan tanpa berkurban, tidak ada kebahagiaan tanpa berkurban, bahkan tidak ada kebersamaan tampa berkurban. Sebagai contoh Pengorbanan Ibrahim beliau harus berpisah dengan ayahnya (Azar) tidak berhenti sampai di situ.

“Dan ingatlah ketika Ibrahim berkata kepada ayahnya, Azar, pantaskah engkau menjadikan berhala-berhala itu sebagai tuhan-tuhan. Sesungguhnya aku melihat engkau dan kaummu dalam kesesatan yang nyata!” (QS al-An’am: 75).

Menyampaikan ucapan dan sikap yang berseberangan dengan keluarga dan masyarakat, adalah pengorbanan yang sangat berat. Ibrahim paham benar akan akibatnya. Bahkan, ia berani melukan tindakan yang sangat berbahaya, yaitu menghancurkan patutng-patung sesembahan penguasa dan masyarakatnya.

Ketika mendapat keturunan, Ibrahim a.s. taat dan patut pada perintah Allah untuk berpisah dan meninggalkan Hajar dan Ismail di padang pasir. Bertahun-tahun tak berjumpa dengan Ismail, ketika bertemu pun, Ibrahim diminta mengorbankan anaknya. Hebatnya lagi, Ismail pun dengan ikhlas menyerahkan diri untuk disembelih. Mengorbankan manusia memang biasa terjadi dalam tradisi pagan.

  1. Qurban bukan sekedar penyembelihan masal hewan tapi qurban adalah bentuk ketaatan dan kepatuhan kepada aturan Allah sang pemilik alam semesta ini.

Ayok kita ramai ramai berqurban untuk menegakkan syariat Allah di negara tercinta Indonesia.
Allah selalu memberkahi hidup kita semua, aamiin.

Admin: Kominfo DDII Jatim

Editor: Sudono Syueb

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *