Usulan Natsir Agar Pendakwah Tak Terpeleset

Oleh M. Anwar Djaelani, pengurus Dewan Da’wah Jatim

Dewandakwahjatim.com, Surabaya – Pendakwah, karena berbagai kelebihan yang dimilikinya, potensial memiliki pengaruh di tengah-tengah masyarakat. Nilai lebih itu, antara lain misalnya, ceramahnya dianggap berbobot dan cara penyampaiannya dinilai sangat menarik. Contoh lain, jika dakwahnya lewat tulisan, isi tulisannya dipandang mantap dan bahasanya dirasakan mengalir.

Pendakwah, yang sudah punya pengaruh, harap berhati-hati. Hal ini karena boleh jadi, dia akan menerima penghormatan atau penghargaan yang berlebihan dari masyarakat. Hal-hal yang seperti ini, bukan tak mungkin bisa membuat pendakwah menjadi ”tergelincir”.

Kata Natsir, bagi pendakwah, pengaruh itu seperti pedang bermata dua. Bila tidak awas, pedang bisa memakan si tuan. Penghormatan dari masyarakat yang berlebihan dan dibiarkan oleh si pendakwah, bisa membuatnya dihinggapi penyakit riya’, takabbur, antikritik, dan hal-hal yang seperti itu (1983: 263-264).

Selalu Hati-Hati

Terkait, keras sekali Rasulullah Saw membendung dan mengawasi tiap-tiap gejala kecenderungan pemujaan yang bisa timbul dari rasa cinta dan hormat kepada pendakwah. Dulu, pernah para Sahabat bangun berdiri dari tempat duduk mereka untuk menghormati Rasulullah Saw di waktu Beliau baru masuk di sebuah majelis. Nabi Saw dengan cepat berkata, agar mereka tetap duduk saja sebab dirinya bukan seorang Raja Persia. ”Jangan kamu bangkit berdiri seperti orang-orang asing itu, yang agung-mengagungkan antara satu sama lain,” kata Nabi Saw.

Kita pun, ingat ayat ini: ”Katakanlah, ’Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa’. …..” (QS Al-Kahfi [18]: 110).

Berikut ini kisah lain. Bila Rasul Saw hendak menyampaikan suatu amanat yang penting, sering Beliau Saw memulainya dengan kalimat, ”Demi yang diriku di Tangan-Nya”. Juga dengan kalimat senada, ”Demi yang diri Muhammad di Tangan-Nya”

Rasul Saw, lewat kata-kata sumpah seperti di atas itu, mengingatkan kepada umatnya bahwa segala persembahan adalah kepada Allah semata-mata.
Bahwa, dia adalah manusia yang dalam hal hidup dan mati sama-sama tidak berdaya, persis sebagaimana manusia lainnya.

Intinya, tiap-tiap bentuk penghormatan atau pun ketaatan, sama sekali tidak boleh sampai mengganggu kemurnian tauhid. Tidak boleh mengganggu keimanan kepada Allah, satu-satunya arah segala pemujaan dan ketaatan yang mutlak.

Arah Pertanyaan

Suatu ketika Ali bin Abi Thalib Ra baru saja turun dari mimbar. Kala itu, beliau baru selesai memberikan khutbah yang sangat mengagumkan dan mengharukan semua pendengar. Lalu, terjadilah dialog Ali Ra dengan salah seorang Sahabat.

”Bagaimana dengan khutbah saya,” tanya Ali Ra.

”Bagus dan menarik sekali. Hanya ada satu kekurangannya, sedikit,” jawab si Sahabat.

”Apa kekurangannya,” tanya Ali Ra.

”Ya, pertanyaan engkau tadi itu,” jawab si Sahabat.

Pada dialog di atas, ada pelajaran yang bisa kita petik. Rupanya, si Sahabat yang ditanya itu paham bahwa pertanyaan Ali Ra sejatinya punya maksud agar mendapatkan pujian dari yang ditanya. Oleh karena itu, langsung dia mengingatkan Ali Ra bahwa memang ceramahnya bagus tapi pertanyaan (yang mungkin bertujuan untuk minta dipuji) adalah yang tidak bagus.

Murnikan Niat

Jika sekelas Ali bin Abi Thalib Ra bisa terpeleset seperti itu, maka kita harus lebih berhati-hati. Terutama para pendakwah, tentu, harus lebih waspada. Godaan berupa harapan untuk dipuji, ada saja pintu masuknya.

Oleh karena itu, kata Natsir, penting dan perlu agar semua pendakwah berusaha:
Agar pengaruh yang diperolehnya tetap bersih dari unsur-unsur yang tidak sehat. Kecintaan dan penghormatan umat kepadanya jangan dihinggapi oleh gejala-gejala fanatik buta dan sifat pemujaan yang berbahaya.
Supaya tidak terpedaya oleh popularitas dan pengaruh yang diperolehnya, sehingga dia lupa daratan, yaitu menyimpang dari tujuan dakwah yang sebenarnya (1983: 268).

Mari di aspek kehidupan apa saja, terutama bagi pendakwah, murnikan niat kita. Bahwa, semua yang kita kerjakan semata-mata hanya untuk mendapatkan ridho Allah. Perhatikan ayat ini: ”Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus” (QS Al-Bayyinah [98]: 5).

Semoga Allah kuatkan kita. Mudah-mudahan Allah jaga kemurnian niat dakwah kita. Alhamdulillah, Allahu Akbar []

Admin: Kominfo DDIIVJatim

Editor: Sudono Syueb

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *