SAAT ILMU MEMBUKA DIRI, DAN MANUSIA DIUJI OLEH APA YANG IA KETAHUI

Oleh Muhammad Hidayatulloh, Wakil Ketua Bidang PSQ DDII Jatim dan penulis buku: Geprek Series (4 judul), Seri Epistemologi Qur’ani (6 judul)

Dewandakwahjatim.com, Surabaya – Dari Kesombongan Pengetahuan Menuju Tanggung Jawab Peradaban

Di ujung wahyu pertama, manusia tidak hanya diajak membaca, tidak hanya diingatkan asal-usulnya, dan tidak hanya diarahkan pada kemurahan Tuhan—tetapi dipaksa menghadapi satu kenyataan paling jujur: bahwa apa yang ia ketahui bukan miliknya.

Di sinilah seluruh kesombongan runtuh.
Di sinilah ilmu berhenti menjadi kebanggaan… dan berubah menjadi ujian.

Manusia membaca—namun ia tidak tahu sebelum diajarkan.
Manusia berpikir—namun akalnya bergerak dalam batas yang diberi.
Manusia menulis—namun apa yang ia wariskan hanyalah serpihan kecil dari apa yang dibukakan untuknya.

Dalam perspektif Iqra sebagai Epistemologi Esensial Manusia, ini adalah titik balik: ilmu bukan sesuatu yang dimiliki, tetapi sesuatu yang diakses, diuji, dan dipertanggungjawabkan. Ia bukan trofi intelektual, tetapi amanah eksistensial.

Karena itu, ilmu harus terbuka. Ia harus diuji, dikritik, bahkan diperdebatkan. Kebenaran tidak rapuh—ia justru menguat ketika diuji. Namun di saat yang sama, ilmu tidak boleh liar. Ia harus berdiri tegak—tidak hanya di hadapan logika, tetapi juga di hadapan wahyu dan realitas.

Di sinilah keseimbangan itu lahir:

Membaca membuka pintu.
Wahyu memberi arah.
Akal menguji.
Pena mewariskan.
Dan kesadaran “aku tidak tahu” menjaga semuanya tetap jujur.

Ketika kesadaran terakhir ini hilang, ilmu berubah wajah. Ia tidak lagi membimbing—ia mendominasi. Ia tidak lagi menerangi—ia menyilaukan. Perdebatan berubah menjadi arena ego, dan tulisan berubah menjadi warisan kesesatan yang terus hidup tanpa disadari.

Inilah tragedi manusia modern: tahu banyak, tapi kehilangan arah.
Cerdas, tapi tidak sadar.

Namun ketika manusia kembali pada posisi sejatinya—sebagai pembelajar yang selalu terbatas—di situlah ilmu menemukan kemuliaannya. Ia tidak lagi menjadi alat untuk meninggikan diri, tetapi menjadi jalan untuk memberi arti.

Ia menjadi cahaya yang jujur.
Ia menjadi arah yang menuntun.
Ia menjadi amanah yang hidup dalam denyut peradaban.

Dan di titik paling dalam itulah, wahyu menutup semuanya dengan satu kalimat yang menghancurkan seluruh ilusi manusia:

عَلَّمَ الْإِنسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ

Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.

Bukan manusia yang menemukan— tetapi manusia yang diajarkan.

Bukan manusia yang memiliki— tetapi manusia yang diberi akses.

Bukan manusia yang berkuasa atas ilmu—
tetapi manusia yang diuji oleh ilmu itu sendiri.

Karena pada akhirnya, persoalannya bukan seberapa banyak yang kita tahu— tetapi apakah kita sadar…

bahwa semua yang kita tahu, hanyalah bagian kecil dari apa yang Dia ajarkan.

Admin: Kominfo DDII Jatim

Editor: Sudono Syueb

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *