Dewan Da’wah, Pendidikan, dan Warna Emas 2045

Oleh Kemas Adil Mastjik (Wakil Ketua Dewan Dakwah Bidang Pendidikan Jatim)

Dewandakwahkjatim.com, Surabaya — Pada 4–5 Februari 2026 berlangsung Pelatihan Da’i Nasional dan Mukernas Bidang Pendidikan. Acara itu diselenggarakan Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia (DDII, atau sering disapa Dewan Da’wah saja), dan dibuka oleh Wakil Ketua Pengurus Pusat yaitu Dr. Imam Zamrozi, MA.

Temanya, “Meneguhkan Arah dan Tujuan Pendidikan Dewan Da’wah dalam Rangka Menyongsong Indonesia Emas 2045”. Kegiatan ini dilaksanakan di Hotel Multazam, Jl. Garuda Mas No. 4B, Pabelan, Kartasura, Sukoharjo.

Dalam sambutannya, Imam Zamrozi menegaskan bahwa pendidikan yang dirintis Dewan Da’wah memiliki misi strategis dalam membentuk generasi pendakwah yang unggul secara spiritual dan moral. Pendidikan yang seperti itu ”Akan melahirkan da’i ilallah dan menjadikan manusia yang beriman, bertakwa, serta berakhlak mulia,” ujar Dr. Imam Zamrozi.

Emas atau Beban?

Indonesia Emas 2045 sering dipahami sebagai puncak kemajuan ekonomi dan bonus demografi. Namun, sejarah bangsa-bangsa besar menunjukkan bahwa kemajuan material tanpa fondasi moral justru melahirkan krisis baru: disorientasi nilai, rapuhnya karakter, dan kehilangan arah peradaban. Di titik inilah pendidikan—terutama pendidikan dakwah—memegang peran strategis. Dewan Da’wah dituntut meneguhkan kembali arah dan tujuan pendidikannya agar mampu menjawab tantangan zaman tanpa kehilangan ruh perjuangan.

Sejak awal berdirinya, Dewan Da’wah tidak sekadar hadir sebagai organisasi dakwah via mimbar saja, tetapi sebagai gerakan kaderisasi umat. Pendidikan dalam pandangan Dewan Da’wah bukan hanya transfer ilmu, melainkan proses tashfiyah (pemurnian akidah) dan tarbiyah (pembinaan berkelanjutan). Inilah modal utama untuk menyiapkan sumber daya manusia yang bukan hanya cerdas, tetapi juga berkarakter dan berorientasi pengabdian.
Tantangan pendidikan hari ini semakin kompleks. Generasi muda hidup di tengah arus digital yang deras, budaya instan, dan krisis keteladanan. Laporan berbagai lembaga pendidikan dan psikologi menunjukkan meningkatnya problem kesehatan mental, lemahnya daya juang, serta menurunnya literasi moral remaja. Jika Indonesia Emas 2045 hanya diisi oleh generasi yang unggul secara teknis tetapi kosong nilai, maka emas itu bisa berubah menjadi beban sejarah.

Meneguhkan Arah

Arah pendidikan Dewan Da’wah perlu diteguhkan pada tiga pilar utama. Pertama, pendidikan tauhid sebagai fondasi peradaban. Tauhid membentuk cara pandang hidup, menanamkan makna penghambaan, dan melahirkan integritas. SDM unggul tanpa tauhid mudah tergelincir pada penyalahgunaan ilmu dan kekuasaan. Indonesia Emas membutuhkan manusia yang sadar bahwa ilmunya adalah amanah.

Kedua, integrasi keilmuan dan dakwah. Pendidikan ala Dewan Da’wah harus melahirkan profesional yang berjiwa da’i: guru, dokter, ekonom, teknokrat, dan pemimpin publik yang menjadikan nilai Islam sebagai kompas etika. Inilah jawaban atas dikotomi lama antara “alim” dan “ahli”. Menyongsong 2045, dakwah tidak cukup dilakukan di mimbar masjid, tetapi juga di ruang-ruang kebijakan, industri, media, dan teknologi.

Ketiga, penguatan karakter sosial dan kebangsaan. Dakwah yang hidup adalah dakwah yang membumi. Pendidikan ala Dewan Da’wah menanamkan kepedulian sosial, kemampuan membaca problem umat, dan semangat kebangsaan yang matang. Islam dan Indonesia bukan dua kutub yang bertentangan, tetapi saling menguatkan dalam membangun keadilan dan kemaslahatan.

Meneguhkan arah pendidikan berarti juga berani melakukan pembaruan metode tanpa mengorbankan prinsip. Kurikulum, model kaderisasi, dan pemanfaatan teknologi harus diarahkan untuk memperluas jangkauan dakwah, khususnya kepada generasi muda. Namun, modernisasi tidak boleh memutus mata rantai nilai dan keteladanan yang selama ini menjadi kekuatan. Hal ini, agar tetap teguh ke arah dan tujuan pendidikan Dewan Dawah sebagai lembaga kaderisasi dai dengan memposisikan dan memerankan dai Dewan Da’wah sebagai pengawal aqidah, penegak syariah, perekat ummat, penjaga martabat bangsa / NKRI dan penggiat solidaritas dunia Islam.

Desain Warna

Indonesia Emas 2045 bukan sekadar target demografis, tetapi proyek peradaban. Di dalamnya dibutuhkan manusia yang utuh: cerdas akalnya, bersih hatinya, dan kuat komitmen dakwahnya. Jika pendidikan Dewan Da’wah konsisten menapaki jalan ini, insya Allah ia tidak hanya ikut menyongsong Indonesia Emas, tetapi turut menentukan warna emas itu sendiri—emas yang bercahaya oleh iman, ilmu, dan akhlak. Wallahu a’lam. []

Rewwin, 7 Februari 2026

Admin: Kominfo DDII Jatim

Editor: Sudono Syueb

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *