Oleh: Adham Syarqawi, Pegiat Literasi lslam
Dewandakwahjatim.com, Surabaya – Musa as berangkat bukan untuk mengajar seseorang, melainkan untuk belajar. Seolah-olah perjalanan itu, sejak awal, mengatakan bahwa betapapun tingginya kedudukan seseorang, ia akan selalu membutuhkan pengingat bahwa hakikat lebih luas daripada pemahamannya, dan bahwa jalan menuju hikmah (kearifan) dimulai ketika kita mengakui bahwa kita tidak bisa melihat gambaran secara utuh.
Ia menemani Khidir, dengan syarat ia tidak mengajukan pertanyaan, bukan karena bertanya itu salah, tetapi karena sebagian pertanyaan akan kehilangan maknanya jika diajukan terlalu dini. Tidak semua hikmah mudah dipahami, dan tidak semua peristiwa dijelaskan saat terjadi.
Kapal dirusak, dan pemandangan itu lebih menyakitkan hati daripada pikiran! Anak dibunuh, dan timbangan keadilan pun bergetar!
Tembok didirikan di tempat yang tidak ada rasa terima kasih maupun balas budi.
Semua tindakan tampaknya bertentangan dengan pemahaman kita tentang keadilan, dan karena itu keberatan itu manusiawi, tulus, bukan karena kurangnya iman, tetapi merupakan ungkapan rasa sakit dari pandangan yang tidak utuh.
Dan ketika perpisahan datang, pemahaman pun datang bersamanya!
Perusakan kapal itu bukan kezaliman, melainkan keselamatan!
Pembunuhan itu bukan kejahatan, melainkan untuk mencegah penderitaan yang lebih besar!
Tembok yang didirikan itu bukan sia-sia, melainkan penjagaan hak yang ditunda!
Baru kemudian hakikat yang tenang muncul: bahwa sebagian takdir tidak bisa dipahami pada saat itu, dan bahwa waktu adalah bagian dari makna.
Dan dari sinilah dimulai hubungannya dengan kita. Dalam kehidupan sehari-hari, kita mengalami berbagai peristiwa yang sama, dengan nama-nama yang berbeda: Pekerjaan yang tidak terwujud, hubungan yang hancur, jalan yang tiba-tiba tertutup tanpa penjelasan.
Kita melihat kerugian itu dengan jelas, tetapi kita tidak melihat apa sebab yang membuat kita dijauhkan darinya. Kita mempertahankan momen itu dan berjuang lebih keras dari apa yang semestinya, karena hari esok belum mengungkapkan rahasianya.
Kita sering menilai peristiwa dari sudut yang sempit karena rasa sakit bisa mempertajam penglihatan kita dan membuatnya picik. Kita menginginkan alasan yang jelas dan hasil yang cepat, seolah-olah hidup berutang penjelasan segera kepada kita. Dan ketika penjelasan itu tidak kunjung datang, penantian berubah menjadi kecemasan, dan keheningan menjadi beban alih-alih ruang untuk memahami.
Namun pengalaman, seiring berjalannya waktu, mengajarkan kita sesuatu yang berbeda: bahwa apa yang tidak kita pahami kemarin mungkin menjadi titik balik besok, bahwa sebagian kegagalan adalah perlindungan, sebagian penundaan adalah persiapan, dan sebagian kerugian adalah pengalihan—bukan akhir jalan.
Dalam menghadapi kehidupan, kita tidak membutuhkan jawaban siap pakai, melainkan kapasitas batin yang dapat mentolerir ambiguitas, hati yang tidak hancur setiap kali makna tertunda, dan tidak kehilangan keseimbangan karena gambaran belum lengkap.
Dalam pekerjaan, kita seringkali menyerupai pemilik kapal; sebuah proyek terkendala, sebuah kesempatan hilang, sebuah pintu tertutup—yang kita kira menjadi penyelamat kita. Kita marah karena perusakan itu terlihat, tanpa menyadari bahwa di sana ada seorang raja perampas, dan seandainya kita memasuki wilayahnya, kita akan kehilangan lebih banyak lagi. Beberapa waktu setelah itu baru kita memahami bahwa apa yang kita anggap sebagai kerugian sebenarnya adalah penyelamatan dari jalan yang memang bukan untuk kita.
Dalam berbagai hubungan, perpisahan seringkali terasa sangat keras, dan patah hati merupakan kezaliman yang tidak punya penjelasan. Kita lupa bahwa sebagian hati, seandainya tetap dekat, akan menyusahkan jiwa kita, dan bahwa sebagian kasih sayang, ketika berakhir, justru mencegah penderitaan yang lebih besar. Tidak setiap perpisahan itu buruk, dan tidak setiap kebersamaan itu rahmat, tetapi kita baru menyadari hal ini setelah emosi mereda dan pandangan kita jernih.
Dalam kehilangan, ketika kematian merenggut orang-orang yang kita cintai, pemandangan itu tampak sangat keras hingga membuat kita terdiam. Tidak ada makna yang dapat meredakan rasa sakit, dan tidak ada penjelasan yang dapat menyampaikan beban kehilangan itu dengan cukup baik. Seiring waktu, rasa sakit itu tidak hilang, tetapi berubah. Kita menemukan bahwa mereka yang telah pergi telah meninggalkan jejak yang tak terhapuskan pada kita, dan bahwa sebagian kepergian bukanlah akhir, tetapi transisi menuju sesuatu yang lebih dalam daripada sekadar kehadiran.
Adapun kesetiaan Allah, itu adalah tembok yang dibangun secara tersembunyi: Amal saleh yang dampak positifnya tidak kita lihat, kesabaran yang buahnya tidak segera kita tuai, doa yang kita lupakan tetapi tetap disimpan untuk kita.
Hari-hari berlalu, kemudian kita sampai pada saat di mana kita mengerti bahwa sesuatu sedang menunggu kita, dan bahwa Allah tidak mengabaikan kita, tetapi dengan hati-hati menundanya.
Mungkin aspek terindah dari kisah Musa as dan Khidhir adalah bahwa kisah itu menata kembali hubungan kita dengan realitas. Kisah itu mengajarkan kita untuk hidup di tengah berbagai pertanyaan tanpa terbakar olehnya, untuk memberi hak waktu untuk mengungkapkan segalanya, dan untuk menyadari bahwa banyak hal yang kita lihat hari ini sebagai keretakan, tetapi besok bisa menjadi bentuk kepedulian yang lain. Karena ketenangan itu bukan terletak pada memahami segala sesuatu, tetapi pada meyakini bahwa apa yang belum jelas tidak berarti sudah berakhir! (ars)
Foto: Hanya ilustrasi
Admin: Kominfo DDII Jatim
Editor: Sudono Syueb
