Oleh Muhammad Hidayatulloh, Wakil Ketua Bidang PSQ DDII Jatim dan penulis buku: Geprek Series (4 judul), Seri Epistemologi Qur’ani (5 judul)
Dewandakwahjatim.com, Surabaya – Pertanyaan ini sering dijawab dengan optimistis oleh berbagai penelitian psikologi modern: ya, uang bisa mendatangkan kebahagiaan, terutama ketika digunakan untuk memberi kepada orang lain. Membelanjakan harta demi kepentingan sosial—berbagi, menolong, dan menghadirkan manfaat—terbukti meningkatkan rasa puas dan makna hidup.
Jawaban ini tidak sepenuhnya keliru. Bahkan, secara empiris, ia dapat dibuktikan. Namun, dalam epistemologi Qur’ani, pertanyaan tentang kebahagiaan tidak berhenti pada fungsi harta, melainkan bergerak lebih dalam: kepada apa kebahagiaan itu disandarkan.
Kebahagiaan yang Disandarkan pada Harta: Nyata, tetapi Tidak Hakiki
Al-Qur’an tidak menolak bahwa harta dapat menghadirkan rasa senang. Namun ia dengan sangat jernih menunjukkan bahwa kebahagiaan yang bergantung pada kepemilikan atau distribusi harta bersifat temporer dan rapuh. Ia hadir selama sebabnya hadir, dan hilang ketika sebab itu hilang.
Inilah yang dalam epistemologi Qur’ani disebut sebagai kebahagiaan semu—bukan karena ia palsu, tetapi karena ia tidak berdiri di atas fondasi yang kokoh. Ketika kebahagiaan bergantung pada sesuatu yang berubah, maka kebahagiaan itu sendiri ikut berubah.
Al-Qur’an mengingatkan:
“Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia hanyalah permainan dan senda gurau, perhiasan dan saling berbangga tentang banyaknya harta dan anak…” (QS. al-Ḥadīd: 20)
Ayat ini bukan larangan memiliki harta, tetapi peringatan epistemologis: jangan menjadikan sesuatu yang sementara sebagai sandaran makna hidup.
Epistemologi Qur’ani: Kebahagiaan sebagai Orientasi Hidup, Bukan Hasil Kepemilikan
Dalam epistemologi Qur’ani, kebahagiaan tidak didefinisikan sebagai apa yang dimiliki, tetapi sebagai kepada siapa hidup disandarkan. Kebahagiaan sejati lahir ketika manusia menautkan hidupnya kepada Allah—dalam iman, tawakal, dan istiqamah.
Allah berfirman:
أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.”
(QS. ar-Ra‘d: 28)
Perhatikan: yang dijanjikan bukan sekadar rasa senang, tetapi ṭuma’nīnah—ketenangan batin yang stabil, tidak bergantung pada kondisi eksternal.
Mengapa Memberi Membahagiakan?
Menariknya, temuan ilmiah bahwa memberi kepada orang lain mendatangkan kebahagiaan justru selaras dengan prinsip Qur’ani. Bukan karena hartanya, tetapi karena arah hidupnya mulai bergeser dari ego menuju makna.
Dalam Islam, memberi (infak, sedekah, zakat) bukan instrumen kebahagiaan, melainkan buah dari orientasi tauhid. Orang yang hidupnya terhubung dengan Allah akan memberi bukan untuk mencari bahagia, tetapi karena taat. Dan justru dari ketaatan itulah kebahagiaan hadir sebagai konsekuensi, bukan tujuan.
Istiqamah: Kunci Kebahagiaan yang Tidak Fluktuatif
Epistemologi Qur’ani menegaskan bahwa kebahagiaan sejati tidak dibangun dari momen, tetapi dari istiqamah—konsistensi hidup dalam iman dan amal saleh. Harta boleh datang dan pergi. Kondisi boleh naik dan turun. Namun hati yang terikat kepada Allah tidak ikut runtuh.
Karena itu, ketika kebahagiaan disandarkan kepada harta: ia tergantung, bersyarat, dan rentan hilang.
Namun ketika kebahagiaan disandarkan kepada Allah: ia tenang, kokoh, dan berkelanjutan.
Penutup
Uang memang bisa mendatangkan rasa bahagia—terutama ketika digunakan untuk kebaikan. Tetapi dalam epistemologi Qur’ani, kebahagiaan yang hakiki tidak bergantung pada apa yang kita miliki atau bagikan, melainkan kepada siapa hidup ini diarahkan.
Kebahagiaan sejati lahir ketika manusia menjadikan Allah sebagai pusat orientasi hidupnya, dan istiqamah menjalaninya. Di sanalah kebahagiaan tidak lagi menjadi sesuatu yang dikejar, tetapi sesuatu yang menyertai.
Dan di sanalah Al-Qur’an mengajarkan kita:
bahwa hati yang bergantung kepada Allah tidak akan pernah benar-benar miskin, meski hartanya sedikit—dan tidak akan pernah benar-benar gelisah, meski dunia berubah.
Admin: Kominfo DDII Jatim
Editor: Sudono Syueb
