KAYA ITU WAJIB (POSITIF) BAGI UMAT ISLAM

Oleh Djuwari Syaifudin, Wasek Bidang Pengembangan dan Pembinaan Daerah DDII Jatim

Dewandakwahjatim.com, Surabaya – Orang Islam harus kaya, supaya tidak terus menerus menjadi ejekan umat lain. Kemiskinan akan mendorong kekufuran dan manjadi ladang zending yang terus menggerogoti umat Islam. Untuk itu bagi umat Islam supaya berlomba dalam kebaikan mencari kekayaan positif demi izzul Islam wal muslimin.

Dalam masalah tersebut, umat Islam boleh iri, iri yang diperbolehkan dalam Islam adalah ghibthah, yaitu merasa iri secara positif terhadap nikmat Allah pada orang lain (harta untuk kebaikan atau ilmu) tanpa berharap nikmat itu hilang, melainkan berharap Allah memberinya kesempatan yang sama untuk berbuat baik. Hal ini mendorong motivasi untuk berlomba-lomba dalam kebaikan dan ketaatan, seperti iri pada orang kaya yang dermawan atau orang alim yang mengajarkan ilmu, bukan iri yang disertai dengki dan keinginan agar nikmat orang lain lenyap.

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ – رضى الله عنه – قَالَ جَاءَ الْفُقَرَاءُ إِلَى النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – فَقَالُوا ذَهَبَ أَهْلُ الدُّثُورِ مِنَ الأَمْوَالِ بِالدَّرَجَاتِ الْعُلاَ وَالنَّعِيمِ الْمُقِيمِ ، يُصَلُّونَ كَمَا نُصَلِّى ، وَيَصُومُونَ كَمَا نَصُومُ ، وَلَهُمْ فَضْلٌ مِنْ أَمْوَالٍ يَحُجُّونَ بِهَا ، وَيَعْتَمِرُونَ ، وَيُجَاهِدُونَ ، وَيَتَصَدَّقُونَ قَالَ « أَلاَ أُحَدِّثُكُمْ بِأَمْرٍ إِنْ أَخَذْتُمْ بِهِ أَدْرَكْتُمْ مَنْ سَبَقَكُمْ وَلَمْ يُدْرِكْكُمْ أَحَدٌ بَعْدَكُمْ ، وَكُنْتُمْ خَيْرَ مَنْ أَنْتُمْ بَيْنَ ظَهْرَانَيْهِ ، إِلاَّ مَنْ عَمِلَ مِثْلَهُ تُسَبِّحُونَ وَتَحْمَدُونَ ، وَتُكَبِّرُونَ خَلْفَ كُلِّ صَلاَةٍ ثَلاَثًا وَثَلاَثِينَ » . فَاخْتَلَفْنَا بَيْنَنَا فَقَالَ بَعْضُنَا نُسَبِّحُ ثَلاَثًا وَثَلاَثِينَ ، وَنَحْمَدُ ثَلاَثًا وَثَلاَثِينَ ، وَنُكَبِّرُ أَرْبَعًا وَثَلاَثِينَ . فَرَجَعْتُ إِلَيْهِ فَقَالَ « تَقُولُ سُبْحَانَ اللَّهِ ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ ، وَاللَّهُ أَكْبَرُ ، حَتَّى يَكُونَ مِنْهُنَّ كُلِّهِنَّ ثَلاَثًا وَثَلاَثِينَ »

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Ada orang-orang miskin datang menghadap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka berkata, orang-orang kaya itu pergi membawa derajat yang tinggi dan kenikmatan yang kekal. Mereka shalat sebagaimana kami shalat. Mereka puasa sebagaimana kami berpuasa. Namun mereka memiliki kelebihan harta sehingga bisa berhaji, berumrah, berjihad serta bersedekah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas bersabda, “Maukah kalian aku ajarkan suatu amalan yang dengan amalan tersebut kalian akan mengejar orang yang mendahului kalian dan dengannya dapat terdepan dari orang yang setelah kalian. Dan tidak ada seorang pun yang lebih utama daripada kalian, kecuali orang yang melakukan hal yang sama seperti yang kalian lakukan. Kalian bertasbih, bertahmid, dan bertakbir di setiap akhir shalat sebanyak tiga puluh tiga kali.”
Kami pun berselisih. Sebagian kami bertasbih tiga puluh tiga kali, bertahmid tiga puluh tiga kali, bertakbir tiga puluh empat kali. Aku pun kembali padanya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ucapkanlah subhanallah wal hamdulillah wallahu akbar, sampai tiga puluh tiga kali.” (HR. Bukhari no. 843).

Orang Islam Harus kaya (positif)
Memiliki kekayaan adalah salah satu yang dituntut dalam syariat Islam. Kekayaan yang diusahakan seorang Muslim harus diraih dan diamalkan sesuai tuntunan yang diajarkan dalam Islam.

Terdapat banyak dalil yang memerintahkan agar seorang Muslim kaya secara harta dan tentunya disalurkan di jalan yang benar. Misalnya seperti dalam Alquran surat Al Baqarah ayat 261-263.

Dalil Berikut Ini Tegaskan Islam Justru Dorong Muslim Harus Kaya dan Saleh,
Islam tak melarang umatnya untuk menjadi kaya dan mempunyai harta melimpah.

Salah satu ciri orang kaya sesuai syariat Islam, yaitu menginfakkan hartanya di jalan Allah SWT dan tidak mengumbar kebaikannya serta tidak pula menyakiti para penerimanya. Allah SWT berfirman:

مَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِائَةُ حَبَّةٍ ۗ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَنْ يَشَاءُ ۗ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ثُمَّ لَا يُتْبِعُونَ مَا أَنْفَقُوا مَنًّا وَلَا أَذًى ۙ لَهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ قَوْلٌ مَعْرُوفٌ وَمَغْفِرَةٌ خَيْرٌ مِنْ صَدَقَةٍ يَتْبَعُهَا أَذًى ۗ وَاللَّهُ غَنِيٌّ حَلِيمٌ

Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Maha Luas, Maha Mengetahui. Orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah, kemudian tidak mengiringi apa yang dia infakkan itu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan penerima), mereka memperoleh pahala di sisi Tuhan mereka. Tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati. Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik daripada sedekah yang diiringi tindakan yang menyakiti. Allah Mahakaya, Mahapenyantun.” (QS Al Baqarah ayat 261-263).

Hasad yang dibolehkan dalam Islam

Berikutnya ialah surat An Nisa ayat 32. Seorang Muslim dilarang memiliki sifat hasad dan diminta untuk memohon diberikan karunia Allah SWT.

وَلَا تَتَمَنَّوْا مَا فَضَّلَ اللَّهُ بِهِ بَعْضَكُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ ۚ لِلرِّجَالِ نَصِيبٌ مِمَّا اكْتَسَبُوا ۖ وَلِلنِّسَاءِ نَصِيبٌ مِمَّا اكْتَسَبْنَ ۚ وَاسْأَلُوا اللَّهَ مِنْ فَضْلِهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا

“Dan janganlah kamu iri hati terhadap karunia yang telah dilebihkan Allah kepada sebagian kamu atas sebagian yang lain. (Karena) bagi laki-laki ada bagian dari apa yang mereka usahakan, dan bagi perempuan (pun) ada bagian dari apa yang mereka usahakan. Mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sungguh, Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS An Nisa ayat 32)

Meski demikian, terdapat hasad yang dibolehkan, sebagaimana hadits Nabi SAW.

لا حسَدَ إلَّا في اثنتَيْنِ : رجُلٍ آتاه اللهُ مالًا فسلَّطه على هلَكتِه في الحقِّ ورجُلٍ آتاه اللهُ حِكمةً فهو يقضي بها ويُعلِّمُها

“Jangan hasad (iri dengki), kecuali terhadap dua hal. Pertama orang yang dikaruniai harta oleh Allah SWT, lalu dia menggunakannya di jalan kebenaran, dan orang yang dikaruniai hikmah (ilmu) lalu dengannya dia memberi keputusan dan mengajarkannya.” (HR Bukhari dari Abdullah bin Mas’ud)

Dalam riwayat Abu Hurairah, Rasulullah SAW juga menyampaikan tentang betapa pentingnya kehadiran orang beriman yang kuat dan tidak lemah. Beliau SAW bersabda:

المؤمنُ القويُّ خيرٌ وأحبُّ إلى اللهِ مِنَ المؤمنِ الضَّعيفِ وفي كلٍّ خيرٌ. احْرِصْ على ما يَنفعُكَ، واسْتَعنْ باللهِ ولا تَعجزْ. وإنَّ أصابك شيءٌ فلا تقلْ: لو أنِّي فعلتُ كان كذا وكذا، ولكن قُلْ: قدَرُ اللهِ وما شاءَ فَعَل، فإنَّ (لَوْ) تَفتحُ عملَ الشَّيطانِ

“Mukmin yang kuat itu lebih baik dan lebih dicintai Allah dibandingkan mukmin yang lemah. Pada keduanya terdapat kebaikan.

Bersemangatlah mengerjakan apa pun yang bermanfaat bagimu, mohonlah pertolongan Allah, dan jangan sampai lemah! Andai keinginanmu tak tercapai, jangan katakan, ‘Andai saya lakukan ini dan itu maka pasti akan begini dan begitu.’ Akan tetapi, katakanlah, ‘Qadarullahi wa ma sya’a fa’ala (ini adalah ketetapan Allah, segala sesuatu yang Dia kehendaki akan Dia lakukan).’ Ucapan andai akan membuka jalan bagi setan.” (HR Muslim)

Sahabat Nabi SAW yang termasuk jajaran orang kaya di masa awal Islam,

عَنْ سَعْدِ بْنِ أَبِي وَقَّاصٍ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: إِنَّ اللهَ يُحِبُّ الْعَبْدَ التَّقِيَّ، الْغَنِيَّ، الْخَفِيَّ

Dari Sa’ad bin Abi Waqqash RA, dia mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah mencintai seorang hamba yang bertakwa, yang kaya dan tersembunyi (tidak dilihat oleh banyak orang).” (HR Muslim)

Ciri ciri orang kaya.
Tidak bisa dipungkiri bahwa harta kuat dalam menarik manusia untuk memilikinya. Sehingga orang-orang akan saling berlomba untuk mendapatkannya. Bahkan tak sedikit dengan cara yang menyimpang.

Karena memiliki potensi membawa keburukan pada manusia, Islam memiliki pandangan tersendiri terkait orang kaya. Rasulullah SAW memberi gambaran bahwa orang kaya adalah mereka yang memiliki kekayaan jiwa.

Dari Abu Hurairah ra. Rasulullah SAW bersabda : “ Kekayaan itu bukan soal keberlimpahan harta benda dunia, melainkan kekayaan sejati adalah kekayaan jiwa”. (HR Bukhari dan Muslim)

Dengan kekayaan jiwa, seorang muslim akan melihat kehidupan penuh rasa syukur. Alih-alih ingin mendapatkan harta sebanyak-banyaknya, apa yang dimilikinya pun ingin dia bagi pada sesama.

Sedangkan untuk memiliki kekayaan sejati ini, faktor utamanya bukanlah berlebihan ekonomi. Melainkan dekatnya seorang muslim kepada ilmu.

Selain hadits tentang orang kaya sejati di atas, terdapat sikap salah seorang sahabat Rasulullah SAW berkenaan dengan harta. Suatu hari Abdurahman Bin Auf pernah berdoa agar dijadikan oleh Allah Ta’ala sebagai orang miskin setelah mendengar berita dari Nabi SAW.

Begitulah keadaan orang Islam yang kaya sebenarnya. Dirinya senantiasa merasa qona’ah dengan apa yang dimiliki. Tidak merasa iri dengan apa yang dimiliki saudaranya. Karena hakikatnya harta hanya sebatas sebagai sarana untuk menjalankan ketaatan. (Bangkalan, 18 Januari 2026)

Admin: Kominfo DDII Jatim

Editor: Sudono Syueb

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *