Oleh Muhammad Hidayatulloh, Wakil Ketua Bidang PSQ DDII Jatim dan penulis buku: Geprek Series (4 judul), Seri Epistemologi Qur’ani (5 judul)
Dewandakwahjatim.com, Surabaya – Diskursus mengenai Isra’ Mi‘raj selalu bergerak di antara dua wilayah yang saling beririsan: usaha akal untuk memahami dan kesiapan iman untuk menerima. Pendekatan ilmu pengetahuan modern—termasuk fisika teoritis—dapat dipahami sebagai ekspresi kegelisahan intelektual manusia yang berupaya mendekati peristiwa transenden dengan bahasa zamannya. Dalam konteks ini, sains berfungsi sebagai medium refleksi, bukan sebagai penentu kebenaran normatif.
Namun Al-Qur’an menghadirkan Isra’ Mi‘raj dalam bingkai epistemologis yang khas. Peristiwa ini tidak disertai dengan uraian mekanisme kausal atau penjelasan kosmologis yang rinci. Sejak awal, Al-Qur’an justru membukanya dengan kalimat tasbih—Subḥāna—yang secara implisit menandai batas kerja akal manusia. Dengan demikian, fokus narasi tidak diarahkan pada “bagaimana peristiwa itu terjadi”, melainkan pada kesadaran akan sumber dan maknanya.
Dalam epistemologi Qur’ani, kebenaran tidak ditetapkan oleh kemampuan akal menjelaskan secara teknis, tetapi oleh otoritas wahyu sebagai sumber pengetahuan. Prinsip ini tidak dimaksudkan untuk menafikan peran akal, melainkan untuk menempatkannya secara proporsional. Akal berfungsi sebagai instrumen pemahaman, sementara wahyu menjadi fondasi orientasi dan legitimasi kebenaran. Karena itu, Al-Qur’an tidak menjadikan penguasaan teori ilmiah sebagai prasyarat iman, sehingga kebenaran wahyu tetap dapat diakses oleh seluruh lapisan manusia.
Prinsip Iqra’ bismi rabbik menegaskan kerangka ini. Aktivitas membaca dan memahami realitas tidak dilepaskan dari kesadaran ketuhanan. Akal diberi ruang untuk bekerja, tetapi tidak dibebani kewajiban menjelaskan seluruh lapisan realitas. Dengan cara ini, epistemologi Qur’ani menjaga agar iman tidak berubah menjadi beban intelektual, dan rasionalitas tidak terjebak pada absolutisasi dirinya sendiri.
Isra’ Mi‘raj juga perlu dipahami dalam satu lanskap mukjizat yang lebih luas sebagaimana digambarkan Al-Qur’an. Kitab suci ini memuat berbagai peristiwa yang secara sadar melampaui hukum sebab-akibat biasa: api yang tidak membakar Nabi Ibrahim, laut yang terbelah bagi Nabi Musa, tongkat yang berubah menjadi ular, kelahiran Nabi ‘Isa tanpa ayah serta kemampuannya menghidupkan orang mati dengan izin Allah, dan rezeki yang datang kepada Maryam tanpa sebab material yang kasatmata. Al-Qur’an juga menuturkan kisah seorang hamba yang memiliki ilmu dari Kitab yang mampu memindahkan singgasana Ratu Bilqis sebelum mata berkedip.
Menariknya, seluruh peristiwa tersebut disampaikan tanpa penjelasan mekanisme teknis. Al-Qur’an tidak menjadikan “cara kerja” mukjizat sebagai fokus utama narasi. Yang ditonjolkan justru sumbernya: kehendak dan kekuasaan Allah. Dalam perspektif ini, mukjizat berfungsi sebagai penanda batas epistemik manusia sekaligus sebagai sarana peneguhan iman, bukan sebagai tantangan rasional yang menuntut verifikasi empiris.
Puncak Isra’ Mi‘rāj pun menguatkan kerangka ini. Dari peristiwa yang melampaui jangkauan nalar biasa, Allah menurunkan perintah shalat—sebuah praksis ibadah yang sepenuhnya berada dalam kapasitas manusia. Hal ini menunjukkan bahwa tujuan utama narasi mukjizat bukanlah penyampaian informasi kosmologis, melainkan pembentukan kesadaran penghambaan.
Dengan demikian, pembahasan Isra’ Mi‘rāj menuntut cara pandang epistemologis yang utuh, di mana wahyu, akal, dan pengalaman ditempatkan secara proporsional. Kerangka semacam ini tidak selalu dapat dirumuskan secara tuntas dalam satu artikel atau satu pembahasan tematik. Karena itu, kajian yang lebih sistematis mengenai relasi wahyu dan pengetahuan—sebagaimana dikembangkan dalam Seri Epistemologi Qur’ani—menjadi relevan sebagai upaya membangun pemahaman yang berkesinambungan dan terstruktur.
Pada akhirnya, Isra’ Mi‘rāj mengajarkan bahwa tidak semua kebenaran menuntut penjelasan teknis untuk dapat diterima. Dalam epistemologi Qur’ani, ada saatnya akal bekerja untuk memahami, dan ada saatnya ia beristirahat dalam ketundukan. Di titik inilah wahyu dalam Al-Qur’an hadir bukan untuk memberatkan manusia, tetapi untuk membimbingnya menuju kejelasan makna dan ketenangan iman.
Admin: Kominfo DDII Jatim
Editor: Sudono Syueb
