Oleh Djuwari Syaifudin, Wasek Bidang Pengembangan dan Pembinaan Daerah DDII Jatim
Dewandakwahjatim.com, Surabaya – –
حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَحْمَدَ بْنِ بَشِيرِ بْنِ ذَكْوَانَ الدِّمَشْقِيُّ، حَدَّثَنَا الْوَلِيدُ بْنُ مُسْلِمٍ، حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الْعَلَاءِ -يعني ابن زَبْرٍ- حَدَّثَنِي يَحْيَى بْنُ أَبِي الْمُطَاعِ، قَالَ سَمِعْتُ الْعِرْبَاضَ بْنَ سَارِيَةَ يَقُولُ: قَامَ فِينَا رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – ذَاتَ يَوْمٍ، فَوَعَظَنَا مَوْعِظَةً بَلِيغَةً وَجِلَتْ مِنْهَا الْقُلُوبُ، وَذَرَفَتْ مِنْهَا الْعُيُونُ، فَقِيلَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَعَظْتَنَا مَوْعِظَةَ مُوَدِّعٍ فَاعْهَدْ إِلَيْنَا بِعَهْدٍ. فَقَالَ: عَلَيْكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ، وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ عَبْدًا حَبَشِيًّا، وَسَتَرَوْنَ مِنْ بَعْدِي اخْتِلَافًا شَدِيدًا، فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ، عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ، وَإِيَّاكُمْ وَالْأُمُورَ الْمُحْدَثَاتِ، فَإِنَّ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ
Abdullah bin Ahmad bin Basyir bin Dzakwan Ad-Dimasyqi telah menceritakan kepada kami, dia berkata, Al-Walid bin Muslim telah menceritakan kepada kami, dia berkata, Abdullah bin Al-Ala’ yaitu Ibnu Zabr telah menceritakan kepada kami, dia berkata, Yahya bin Abu Al-Mutha’ telah menceritakan kepadaku, dia berkata, aku pernah mendengar Al-‘Irbadh bin Sariyah berkata, “Pada suatu hari, Rasulullah saw. berdiri di tengah-tengah kami. Beliau memberi nasihat yang sangat menyentuh hati menjadi gemetar dan air mata berlinangan. Lalu dikatakan, “Wahai Rasulullah, engkau memberikan nasihat kepada kami satu nasihat perpisahan, maka berilah kami satu wasiyat.” Beliau bersabda, “Hendaklah kalian bertakwa kepada Allah, mendengar dan taat meski kepada budak Habsyi. Sepeninggalku nanti, kalian akan melihat perselisihan yang sangat dahsyat, maka hendaklah kalian berpegang dengan sunnahku dan sunnah para Al-Khulafa’ Ar-Rasyidin yang mendapat petunjuk. Gigitlah sunnah ini dengan gigi graham, dan jangan sampai kalian mengikuti perkara-perkara yang dibuat-buat, karena sesungguhnya semua bid’ah itu adalah sesat.” Ibnu Majah Hadits 42.
Mungkin masih juga bertanya, “Siapa shajakah Sahabat Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam itu?” bila melihat hadits diatas Nabi Muhammad SAW memberikan wanti wanti yang sangat luar biasa dan hendak menjadi panutan bagi umat Islam, hal demikian adalah wajar dan sampai nanti pun kita dan anak cucu kita juga akan bertanya tentang siapakah shahabat [dekat] manusia yang mulia ini. Sekali lagi ini adalah pertanyaan yang sampai nanti kiyamat akan tetap merupakan pertanyaan yang wajar.
Adapun para ulama juga memiliki definisi yang berbeda-beda tentang siapa yang dimaksud dengan seorang Shahabat itu. Mereka telah menetapkan standar yang berbeda-beda untuk menentukan apakah seseorang yang hidup pada masa Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam yang layak disebut sebagai seorang Shahabat sebagaimana yang kita yang juga kita sebut dalam bahasa Indonesia.
Dalam satu dan lain hal, banyak sarjana menilai dengan selang waktu yang dihabiskan seseorang bersama Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam. Ada pula yang menyatakan jumlah [berapa] kali seseorang bertemu dengan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam atau melihatnya.
Sebagian ulama mendefinisikan, shahabat adalah orang yang pernah bertemu dengan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam, beriman kepada apa yang beliau ajarkan, dan meninggal dalam keadaan Muslim.
Adapun pembagian para sahabat yang paling terkenal adalah yang dilakukan oleh Hakim An Nisabori (seorang ulama besar dalam ilmu hadits) di dalam kitabnya “Ma’arifatu ulum al Hadits”. Dia telah mengurutkan para Shahabat dalam total 12 tingkatan sesuai dengan kriterianya.
Mungkin kita jadi bertanya, “Mengapa shahabat begitu penting untuk kita ketahui?” Salah satu sebab, dan yang terpenting adalah karena “Allah Yang Maha Penyayang telah memuji para shahabat dan menyebut mereka sebagai orang-orang yang jujur di dalam Al-Quran”. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,
مُحَمَّدٌ رَّسُوْلُ اللّٰهِ ۚ وَالَّذِيْنَ مَعَهٗٓ اَشِدَّآءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاۤءُ بَيْنَهُمْ ۚ تَرٰىهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَّبْتَغُوْنَ فَضْلًا مِّنَ اللّٰهِ وَرِضْوَانًا ۖ سِيْمَاهُمْ فِيْ وُجُوْهِهِمْ مِّنْ اَثَرِ السُّجُوْدِ ۚ ذٰلِكَ مَثَلُهُمْ فِى التَّوْرٰىةِ ۚ وَمَثَلُهُمْ فِى الْاِنْجِيْلِ ۚ كَزَرْعٍ اَخْرَجَ شَطْاَهٗ فَـاَزَرَهُ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوَىٰ عَلٰى سُوْقِهٖ يَعْجَبُ الزُّرَّاعَ لِيَغِيْظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ ۗ وَعَدَ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ مِنْهُمْ مَّغْفِرَةً وَّاَجْرًا عَظِيْمًا
Artinya:
Orang-orang yang mengikutinya bersikap keras terhadap orang-orang kafir dan bersikap penyayang terhadap orang-orang di sekitar mereka. Kamu melihat mereka berlutut dan bersujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya. Pada wajah mereka tampak bekas-bekas sujud mereka. Demikianlah mereka digambarkan dalam Taurat dan Injil: seperti benih yang mengeluarkan tunasnya, menjadi kuat, lebat, dan tumbuh pada tangkainya sehingga menyenangkan penaburnya. Maka Allah murka kepada orang-orang kafir melalui mereka; Allah menjanjikan ampunan dan pahala yang besar bagi orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh (QS. Al-Fath, ayat 29).
Di dalam Tafsir “Al-Muyassar / Kementerian Agama Saudi Arabia”, dijelaskan bahwa [Nabi] Muhammad adalah Rasulullah, dan orang-orang yang bersamanya di atas agamanya adalah orang-orang yang besikap keras dan tegas terhadap orang-orang kafir, tetapi mereka berkasih sayang di antara mereka.
Kita melihat mereka rukuk dan sujud dalam shalat mereka, berharap Allah melimpahkan karuniaNya kepada mereka lalu memasukkan mereka ke dalam surgaNya dan meridhai mereka. Tanda ketaatan mereka terlihat pada wajah mereka berupa bekas sujud dan ibadah. Ini adalah sifat mereka di dalam Taurat.
Sedangkan sifat mereka di dalam injil adalah seperti tanaman yang mengeluarkan batang dan cabangnya, kemudian cabangnya menjadi banyak sesudah itu, tanaman tersebut menguat, berdiri tegak kokoh di atas batang-batangnya, terlihat indah dipandang, dan para penanam mengaguminya. Allah hendak membuat orang-orang kafir jengkel dengan orang-orang beriman dalam jumlah mereka yang banyak dan kebaikan hidup mereka.
Menurut Tafsir ini, di sini terkandung dalil yang menunjukkan kafirnya orang yang membenci para sahabat, karena siapa yang dibuat Allah jengkel dengan para sahabat, berarti di dalam dirinya terdapat sesuatu yang menjengkelkannya, yaitu kekafiran. Allah menjanjikan orang-orang yang beriman dari mereka kepada Allah dan rasul-Nya, mengamalkan apa yang Allah perintahkan kepada mereka dan menjauhi apa yang Allah larang, ampunan bagi dosa-dosa mereka, pahala besar yang tidak terputus, yaitu surga. Janji Allah adalah janji yang benar dan pasti, tidak diselisihi.
Dijelaskan pula, siapapun yang meniti jejak para shahabat, maka dia masuk dalam hukum mereka, yaitu berhak atas ampunan dari Allah dan pahala yang besar. Para sahabat itu memiliki keutamaan kepeloporan dan perjuangan membela Islam yang tidak dimiliki oleh seorang pun dari umat ini selain mereka. Semoga Allah meridhai mereka dan membuat mereka ridha.
Begitulah luar biasanya shahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan itu baru gambaran oleh satu orang ahli tafsir; belum lagi gambaran oleh ahli tafsir lainnya. Sungguh luar biasa mereka. Allahu ya’lam.
Semoga yang kita baca ini menjadi pengingat dan penambah iman, dan kalau sekiranya bermanfaat bagi yang lain, mari kita share kultum ini kepada sanak saudara dan handai taulan serta sahabat semuanya, semoga menjadi jariyah kita semua, aamiin.
Admin: Kominfo DDII Jatim
Editor: Sudono Syueb
