Dari Penyangkalan hingga Kesadaran yang Menyelamatkan
Oleh Muhammad Hidayatulloh, Wakil Ketua Bidang PSQ DDII Jatim dan penulis buku: Geprek Series (4 judul), Seri Epistemologi Qur’ani (5 judul)
Dewandakwahjatim.com, Surabaya – Shalat bukan sekadar kewajiban ritual.
Ia adalah bahasa eksistensial seorang hamba—cara manusia menyatakan siapa yang ia akui sebagai pusat hidupnya.
Karena itu Al-Qur’an dan Sunnah tidak memperlakukan shalat sebagai satu kondisi tunggal, tetapi sebuah spektrum kesadaran. Dari fase paling gelap hingga puncak paling terang. Dari penolakan total hingga kehadiran jiwa yang utuh.
Fase Pertama: Kafir Hakiki — Putusnya Perjanjian
Rasulullah ﷺ bersabda:
العهد الذي بيننا وبينهم الصلاة فمن تركها فقد كفر
Perjanjian antara kami dan mereka adalah shalat. Barangsiapa meninggalkannya, maka ia telah kafir.
Ini adalah fase penolakan prinsipil.
Bukan sekadar malas, bukan lalai, tetapi menolak shalat sebagai kewajiban ilahi.
Secara filosofis, ini adalah manusia yang menolak tunduk, menobatkan dirinya sebagai pusat nilai, dan memutus tali vertikal dengan Allah.
Di titik ini, shalat tidak lagi ditinggalkan—ia disangkal. Dan ketika shalat disangkal, iman runtuh dari akarnya.
Fase Kedua: Kufrun Dūna Kufrin — Iman yang Terkoyak
Berbeda dengan fase pertama, di sini seseorang meyakini shalat itu wajib, mengakui perintah Allah, tetapi meninggalkannya dalam praktik.
Inilah kufur kecil, bukan pembatal iman, tetapi pengkhianatan amal.
Ia seperti orang yang tahu arah kiblat, namun memilih berjalan menjauh.
Imannya hidup, tetapi tidak berdaya. Dan iman yang tidak melahirkan ketaatan akan mengering perlahan.
Fase Ketiga: Qāmū Kusālā — Shalat Orang Munafik
Allah berfirman:
وَإِذَا قَامُوا إِلَى ٱلصَّلَوٰةِ قَامُوا كُسَالَىٰ يُرَآءُونَ ٱلنَّاسَ
Ini fase shalat yag dilakukan, tetapi tanpa kerinduan, tanpa orientasi ilahi.
Shalat di sini bukan perjumpaan, melainkan panggung sosial.
Secara batin, ini adalah shalat yang bergerak tanpa arah, berdiri tanpa hadir, hidup di tubuh, mati di jiwa.
Fase Keempat: Sāhūn — Lalai yang Mengosongkan Fungsi
Allah berfirman:
فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّينَ. ٱلَّذِينَ هُمْ عَن صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ
Ancaman ini tidak ditujukan kepada yang meninggalkan shalat,
tetapi kepada yang melalaikannya.
Ini shalat yang sah secara hukum, tetapi tidak bekerja secara moral. Ia tidak mencegah maksiat, karena tidak pernah benar-benar menyentuh kesadaran.
Fase Kelima: “Lā Taqrabūṣ-Ṣalāta wa Antum Sukārā” — Mabuk Kesadaran
Allah berfirman:
لَا تَقْرَبُوا ٱلصَّلَوٰةَ وَأَنتُمْ سُكَٰرَىٰ حَتَّىٰ تَعْلَمُوا مَا تَقُولُونَ
Mabuk di sini bkan hanya zat, tetapi segala hal yang mematikan kesadaran: mabuk dunia, mabuk ambisi, mabuk luka, mabuk pikiran.
Shalat tetap dilakukan,
tetapi makna tidak masuk. Lisan membaca,
namun hati tidak tahu apa yang diucapkan.
Fase Terakhir: Khusyuk — Shalat yang Menghidupkan
Allah berfirman:
قَدْ أَفْلَحَ ٱلْمُؤْمِنُونَ. ٱلَّذِينَ هُمْ فِى صَلَاتِهِمْ خَٰشِعُونَ
Inilah puncak
Shalat yang: didirikan untuk mengingat Allah,
أَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ لِذِكْرِى
menjadi penopang hidup,
وَٱسْتَعِينُوا بِٱلصَّبْرِ وَٱلصَّلَوٰةِ
dan menjadi penntu nasib akhirat,
أَوَّلُ مَا يُحَاسَبُ بِهِ الْعَبْدُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ الصَّلَاةُ
Shalat khusuk bukan sekadar ibadah yang sah, tetapi ibadah yang berdampak. Ia: mencegah keji dan mungkar, menata ulang orientasi hidup, dan menjadikan pelakunya lebih bersih setelah sujud.
Di Mana Kita Berdiri?
Shalat adalah cermin diri. Ia tidak bertanya seberapa fasih bacaan kita, tetapi seberapa hadir jiwa kita.
Isra Mi‘raj adalah perjalanan Nabi ﷺ. Shalat adalah undangan harian bagi kita.
Dan hanya shalat yang khusyuklah
yang benar-benar mengangkat manusia-bukan sekadar dari lantai ke sajadah, tetapi dari gelapnya diri menuju terang ilahi
Admin: Kominfo DDII Jatim
Editor: Sudono Syueb
