Oleh Djuwari Syaifudin, Wasek Bidang Pengembangan dan Pembinaan Daerah DDII Jatim
Dewandakwahjatim.com, Surabaya – lslam sungguh kaya akan nilai-nilai pendidikan. Saat membaca Alquran, kita akan dengan mudah menemukan ayat yang secara tersurat atau tersirat menyuruh kita untuk mempelajari dan merenungi kekuasaan Allah.
Ayat pertama yang diwahyukan kepada Rasulullah SAW bahkan secara tersurat berisi perintah untuk membaca. “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah (a’laqah). Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.”
Konteks “membaca” dalam ayat ini tidak terlepas dari tanda-tanda kekuasaan Allah. Artinya, membaca dalam upaya untuk mengenali Sang Maha Pencipta. Itulah mengapa perintah membaca tersebut bersifat umum dengan meliputi ayat qauliyah (teks Alquran) dan ayat kauniyah (alam semesta).
Iqra dalam konteks ayat qauliyah dan kauniah mengacu pada kewajiban universal dalam Islam untuk membaca, mengamati, memahami, dan belajar dari dua sumber utama petunjuk Allah. Perintah “Iqra” (bacalah) yang diterima Nabi Muhammad SAW dalam surah Al-Alaq ayat 1, tidak hanya berlaku untuk teks wahyu (qauliyah) tetapi juga untuk alam semesta (kauniyah.
Alam yang juga ayat Allah dinyatakan secara eksplisit dalam QS Ali Imran ayat 190-191:
اِنَّ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَاخْتِلَافِ الَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَاٰيٰتٍ لِّاُولِى الْاَلْبَابِۙ
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang, terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal,
لَّذِيْنَ يَذْكُرُوْنَ اللّٰهَ قِيَامًا وَّقُعُوْدًا وَّعَلٰى جُنُوْبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُوْنَ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۚ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هٰذَا بَاطِلًاۚ سُبْحٰنَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Mahasuci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.”
Hamka, dalam tafsirnya surat Ali Imron 190 – 191, “Orang-orang berakal yaitu orang-orang yang senantiasa memikirkan ciptaan Allah, merenungkan keindahan ciptaan-Nya, kemudian dapat mengambil manfaat dari ayat-ayat kauniyah yang terbentang di jagat raya ini, seraya berzikir kepada Allah dengan hati, lisan, dan anggota tubuh. Mereka mengingat Allah sambil berdiri dan berjalan dengan melakukan aktivitas kehidupan. Mereka berzikir kepada-Nya seraya duduk di majelis-majelis zikir atau masjid, atau berzikir kepada-Nya dalam keadaan berbaring menjelang tidur dan saat istirahat setelah beraktivitas, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi sebagai bukti kekuasaan Allah yang Maha Agung seraya berkata, “Ya Tuhan kami! Kami bersaksi bahwa tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia melainkan mempunyai hikmah dan tujuan di balik ciptaan itu semua. Mahasuci Engkau, kami bersaksi tiada sekutu bagi-Mu. Kami mohon kiranya Engkau melimpahkan taufik agar kami mampu beramal saleh dalam rangka menjalankan perintah-Mu, dan lindungilah kami dari murka-Mu sehingga kami selamat dari azab neraka.”
Setelah berdzikir memikirkan kekuasaan Allah dan Ke Esaan Allah, ada gambaran sikap sekelompok orang yang justru berbuat merusak. Namun, mengaku bahwa tindakan mereka adalah bentuk perbaikan. Sikap seperti ini menunjukkan betapa mudahnya manusia tertipu oleh perbuatannya sendiri, merasa benar, merasa berjasa, padahal apa yang dilakukan justru membawa mudarat bagi lingkungan dan kehidupan.
Akhir-akhir ini, bencana banjir kembali melanda Pulau Sumatera, mulai dari Aceh, Sumatera Utara, hingga Sumatera Barat. Tentu saja, musibah seperti ini tidak muncul begitu saja. Ada banyak faktor yang memicunya, dan salah satu yang paling berpengaruh adalah rusaknya lingkungan akibat ulah manusia. Penggundulan hutan, misalnya, membuat ekosistem kehilangan keseimbangannya. Akar-akar pohon yang seharusnya menahan air hilang, tanah menjadi gersang, dan akhirnya alam tidak lagi mampu menjalankan fungsinya secara normal. Ketika keseimbangan itu terganggu, bencana pun menjadi lebih mudah terjadi karena ulah tangan tangan yang tidak bertanggung jawab.
Perusakan itu terjadi akibat perilaku manusia. Perilaku itu tidak mungkin dilakukan orang yang beriman dengan keimanan yang sesungguhnya karena ia tahu bahwa semua perbuatannya akan dipertanggungjawabkan nanti di depan Allah.” Ar Rum ayat 41.
ظَهَرَ ٱلْفَسَادُ فِى ٱلْبَرِّ وَٱلْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِى ٱلنَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ ٱلَّذِى عَمِلُوا۟ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ
“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” Surat Ar Rum Ayat 41
Seorang ahli tafsir dari kalangan tabi’in, Ad-daḥḥāk, menafsirkan ayat ini dengan larangan merusak sumber air dan menebang pohon dengan cara yang membahayakan:
وقال الضحاك: معناه لا تعوروا الْمَاءَ الْمَعِينَ، وَلَا تَقْطَعُوا الشَّجَرَ الْمُثْمِرَ ضِرَارًا.
Artinya; “Janganlah kalian mengotori air yang jernih dan janganlah menebang pohon yang berbuah dengan cara yang menimbulkan bahaya.” (Imam Qurthubi, Tafsīr al-Jami’ li Ahkami Al-Qur’an, (Kairo: Dār al-Kitāb al-Miṣriyyah, 1963 M), juz 7, hlm. 226).
Kerusakan bumi akibat ulah manusia sangat beragam, meliputi polusi udara (gas buang kendaraan, limbah pabrik), pencemaran air dan tanah (limbah kimia, sampah plastik), deforestasi (penebangan hutan liar), eksploitasi sumber daya berlebihan, hingga perusakan ekosistem laut yang menyebabkan kepunahan flora dan fauna, semuanya berujung pada perubahan iklim, bencana alam (banjir, longsor), dan ancaman kelangsungan hidup makhluk hidup, termasuk manusia sendiri.
Masihkah kita membela diri, akibat pembalakan hutan mengakibatkan bencana alam nasional, walaupun status bencana nasional sampai sekarang belum disematkan oleh Presiden Prabowo, tapi bukti telah menunjukan bencana itu belum terselesaikan sampai sekarang.
Dengan bencana tersebut, mengalirlah amal jariyah para dermawan untuk meletakkan pundi pundi jalan ke SurgaNya. Ayoo beramal mumpung masih ada waktu.
Wallahu a’lam bishowab
Admin: Kominfo DDII Jatim
Editor: Sudono Syueb
