Oleh Dr. Slamet Muliono Redjosari, Wakil Ketua Bidang MPK DDII Jatim
Dewandakwahjatim.com, Surabaya – Ketika manusia tidak mengenal Tuhan berpotensi besar mudah melakukan kejahatan profetik. Ketidaktahuan tentang Tuhan mendorong dirinya melakukan apa saja tanpa peduli baik dan buruk. Oleh karenanya ketika datang utusan untuk mengajarkan kebaikan, serta merta menolaknya. Fir’aun merupakan manusia yang tidak mengenal Tuhannya. Oleh karena itu, ketika dia berlimpah kenikmatan, jabatan dan kekuasaan tinggi, maka terjadi penyalahgunaan atas nikmat itu hingga tersebar kejahatan. Nabi Musa pun diutus untuk mengingatkan Fir’aun agar takut kepada Tuhan. Alih-alih bersyukur, Fir’aun justru mempertanyakan siapa Tuhan itu dan menolak apa pun yang disampaikan Nabi Musa. Fir’aun merupakan simbol manusia tak mengenal Tuhan, hingga lahir berbagai kejahatan profetik yang berujung menghinakan dirinya.
Ketidaktahuan Tentang Tuhan
Ketidaktahuan manusia terhadap Sang Maha Kuasa, menginspirasi dirinya untuk berbuat apa saja, tanpa peduli terhadap nilai-nilai ketuhanan. Pelanggaran nilai profetik atau kemanusiaan tidak dipedulikannya. Ketika ditegur atas kedzalimannya, dan diajak untuk takut kepada Allah, mereka justru mempertanyakan siapa Allah itu.
Ketika mendapat ajakan untuk mengagungkan Allah dengan merendahkan diri dan bersujud bukannya ingin mengetahui hakekat Allah, tetapi mereka justru mempertanyakan eksistensi-Nya. Mereka justru lari dari peringatan dan terus melakukan pelanggaran. Hal ini ditegaskan Al-Qur’an sebagaimana firman-Nya :
وَاِ ذَا قِيْلَ لَهُمُ اسْجُدُوْا لِلرَّحْمٰنِ قَا لُوْا وَمَا الرَّحْمٰنُ اَنَسْجُدُ لِمَا تَأْمُرُنَا وَزَا دَهُمْ نُفُوْرًا
“Dan apabila dikatakan kepada mereka, “Sujudlah kepada Yang Maha Pengasih,” mereka menjawab, “Siapakah Yang Maha Pengasih itu? Apakah kami harus sujud kepada Allah yang engkau (Muhammad) perintahkan kepada kami (bersujud kepada-Nya)?” Dan mereka makin jauh lari (dari kebenaran).” (QS. Al-Furqan : 60)
Allah merekam manusia paling angkuh, hingga mengaku dirinya sebagai Tuhan. Dia berbuat sewenang-wenang, seperti memecah belah kaumnya, membunuh bayi laki-laki, serta puncaknya mengingkari keberadaan Allah. Ketika Nabi Musa memperkenalkan ilmu ketuhanan dan mengajaknya untuk mengenal-Nya, Fir’aun justru mempertanyakan siapa Allah itu. Hal ini ditegaskan Al-Qur’an sebagaimana firman-Nya : .
قَا لَ فِرْعَوْنُ وَمَا رَبُّ الْعٰلَمِيْنَ.
“Fir’aun bertanya, “Siapa Tuhan seluruh alam itu?” (QS. Asy-Syu’ara’ : 23)
Hilangnya kesadaran akan keberadaan Tuhan, maka membuat manusia jauh dari sifat ramah kepada orang lain, dan berganti dengan sikap semena-mena. Dengan kata lain, ketika hidayah tidak menempel di hati, maka akan melahirkan berbagai perilaku menyimpang. Oleh karenanya, ketika datang peringatan untuk mengagungkan Allah, mereka justru menghinakan-Nya. Dikatakan menghina karena berbagai kebesaran Allah sudah ditunjukkan di hadapannya, justru mata hatinya semakin tertutup, hingga melahirkan tindakan bodoh yang merugikan dirinya. Hal ini ditegaskan Allah sebagaimana firman-Nya :
وَمَا قَدَرُوْا اللّٰهَ حَقَّ قَدْرِهٖ ۖ وَا لْاَ رْضُ جَمِيْعًا قَبْضَتُهٗ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ وَا لسَّمٰوٰتُ مَطْوِيّٰتٌ بِۢيَمِيْنِهٖ ۗ سُبْحٰنَهٗ وَتَعٰلٰى عَمَّا يُشْرِكُوْنَ
“Dan mereka tidak mengagungkan Allah sebagaimana mestinya padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari Kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya. Maha Suci Dia dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka sekutukan.” (QS. Az-Zumar : 67)
Ketika manusia mengetahui kekuasaan Allah yang demikian besar dan kokoh, maka tertahan dirinya untuk bermaksiat, dan bahkan terdorong dalam dirinya untuk mengagungkan-Nya.
Kekokohan Tauhid
Salah satu di antara manfaat mengenal Tuhan akan mendorong manusia untuk melakukan amalan yang agung. Bersyukur merupakan salah satu di antaranya amalan yang mengagungkan Allah. Itulah kekokohan manusia yang bertauhid. Kenikmatan yang demikian besar dan dirasakan, seperti rejeki lancar, anak dan istri yang patuh.
Bahkan manusia yang menggunakan akalnya merasa bahwa kekuasaan Allah tak ada yang menandingi. Dia pun mengagungkan Allah dengan menyembah-Nya dengan sabar sebagai wujud Syukur kepada-Nya. Hal ini ditegaskan Al-Qur’an sebagaimana firman-Nya :
بَلِ اللّٰهَ فَا عْبُدْ وَكُنْ مِّنَ الشّٰكِرِيْنَ
“Karena itu, hendaklah Allah saja yang engkau sembah dan hendaklah engkau termasuk orang yang bersyukur.” (QS. Az-Zumar : 66)
Oleh karenanya, banyak perbuatan mulia yang dilakukan oleh para rasul. mereka mengagungkan Allah dengan seagung-agungnya serta sabar dalam meniti jalan terjal dengan tantangan dengan resiko dirinya terluka atau terbunuh. Mereka sabar dalam menjalani perintah-Nya.
Nabi Nuh rela berdakwah ratusan tahun meski kaumnya mendustakannya. Nabi Ibrahim begitu gigih dan sabar dalam menasehati bapak dan kaumnya untuk menjauhi penyembahan berhala meskipun berakhir dibakar. Nabi Musa berani mendatangi Fir’aun agar menghentikan praktek pengagungan dirinya. Termasuk Nabi Muhammad yang mendakwahkan agar kaumnya meninggalkan berhala-berhala.
Mereka merupakan contoh manusia yang memahami kebesaran dan keagungan Allah. Hidup mereka diperuntukkaan di jalan dakwah. Kecerdasan dan kesempurnaan fisik mereka dimaksimalkan untuk tunduk kepada aturan Allah. mereka menyembah Allah secara total. Hal ini ditegaskan Al-Qur’an sebagaimana firman-Nya :
قُلْ اَفَغَيْرَ اللّٰهِ تَأْمُرُوْٓنِّيْۤ اَعْبُدُ اَيُّهَا الْجٰـهِلُوْنَ
“Katakanlah (Muhammad), “Apakah kamu menyuruh aku menyembah selain Allah, wahai orang-orang yang bodoh?” (QS. Az-Zumar : 64)
Para nabi mengenal Tuhannya dengan sempurna sehingga melahirkan perbuatan mulia. Allah pun memuliakan mereka dengan kedudukan istimewa di sisi-Nya. Hal ini berbeda dengan manusia seperti Fir’aun yang tidak mengenal Tuhannya, sehingga melahirkan kejahatan profetik yang membuatnya hina dan tercela. Allah pun menempatkan Fir’aun di tempat terhina, neraka.
Surabaya, 14 Januari 2025
Admin: Kominfo DDII Jatim
Editor: Sudono Syueb
