Mendidik Sambil Terus Dididik: Refleksi Epistemologi Qur’ani bagi Para Pendidik

Oleh Muhammad Hidayatulloh, Wakil Ketua Bidang PSQ DDII Jatim dan penulis buku: Geprek Series (4 judul), Seri Epistemologi Qur’ani (6 judul)

Dewandakwahjatim.com, Surabaya – Dakwah dan pendidikan kerap dipahami sebagai aktivitas menyampaikan kebenaran kepada orang lain. Dai berdiri di mimbar, guru di kelas, dosen di ruang akademik, ustadz di majelis taklim. Namun Al-Qur’an mengajarkan satu prinsip mendasar yang sering terabaikan: pendidikan sejati selalu dimulai dari diri pendidiknya sendiri.

Dalam epistemologi Qur’ani, persoalan utama pendidikan dan dakwah bukan pertama-tama terletak pada lemahnya metode, kurangnya kurikulum, atau minimnya sarana, melainkan pada kondisi batin subjek yang mengajar. Karena itu, sebelum seorang pendidik membimbing peserta didik atau seorang dai menasihati mad’u, ia dituntut untuk terus-menerus mendidik dan mengoreksi dirinya sendiri.

Al-Qur’an menegaskan bahwa memahami kebenaran adalah fungsi qalb, bukan semata kecakapan intelektual. Seseorang bisa menguasai dalil, teori, dan referensi, tetapi gagal menangkap makna jika qalb-nya tidak hidup. Di sinilah tantangan pertama bagi para pendidik: apakah ilmu yang disampaikan telah terlebih dahulu mendidik hati penyampainya. Tanpa pembinaan qalb, pendidikan berisiko melahirkan kecerdasan tanpa ketundukan dan kepandaian tanpa kebijaksanaan.

Namun pendidikan tidak berhenti pada penerimaan kebenaran. Dalam epistemologi Qur’ani, ilmu dan iman akan diuji dalam fu’ād—ruang batin tempat tekanan, kelelahan, kritik, penolakan, dan dinamika zaman menguji keteguhan. Bagi dai, guru, ustadz, maupun dosen, inilah fase ketika idealisme diuji oleh realitas: kejenuhan mengajar, problem umat, konflik institusi, hingga godaan popularitas dan kepentingan duniawi. Pendidikan yang tidak melatih pengendalian fu’ād akan mudah berubah menjadi kemarahan, sinisme, atau sikap merasa paling benar.

Puncak pendidikan dalam Al-Qur’an adalah lubb, inti kesadaran yang matang dan jernih. Pada tahap ini, pendidik tidak lagi reaktif, tidak tergesa menghakimi, dan tidak menjadikan ilmu sebagai alat dominasi. Ilmu melahirkan hikmah, ketenangan, dan keteladanan. Inilah karakter pendidik yang benar-benar berfungsi sebagai pewaris tugas kenabian: mengajar dengan adab, membimbing dengan kesabaran, dan menasihati dengan kasih sayang.

Karena itu, dalam perspektif epistemologi Qur’ani, dai, kiai, ustadz, guru, dan dosen bukan hanya pendidik bagi umat, tetapi murid seumur hidup di hadapan Al-Qur’an dan kebenaran. Mereka bukan pemilik ilmu, melainkan penjaga amanah pengetahuan. Semakin tinggi posisi mengajar, semakin besar kewajiban untuk terus belajar, membersihkan qalb, menata fu’ād, dan mematangkan lubb.

Di sinilah tantangan besar pendidikan dan dakwah hari ini. Krisis bukan semata terletak pada peserta didik, tetapi pada keberanian para pendidik untuk terus berintrospeksi. Pendidikan tidak rusak karena kurangnya pengajar, melainkan karena sebagian pengajar berhenti merasa sebagai pembelajar.

Pendidikan Qur’ani tidak pernah mengenal kata tamat. Ia berjalan sepanjang hayat, hingga ajal menjemput. Selama hati masih bisa berbolak-balik, selama batin masih diuji, dan selama kesadaran masih perlu dimurnikan, setiap pendidik tetaplah murid—dan justru dari situlah lahir pendidikan yang hidup, jujur, dan menyelamatkan.

Admin: Kominfo DDII Jatim

Editor: Sudono Syueb

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *