Rajab Menanam, Sya’ban Menyiram, dan Ramadhan Memanen

Oleh Kemas Adil Mastjik (Wakil Ketua Bidang Pendidikan Dewan Da’wah Jatim)

Dewandakwahjatim.com, Surabaya – Setiap tahun, Ramadhan datang dengan gegap gempita. Masjid kembali ramai, tilawah Al-Qur’an meningkat, dan berbagai program ibadah bermunculan. Namun pertanyaan mendasarnya sering luput kita ajukan: mengapa tidak semua orang merasakan kualitas Ramadhan yang sama? Ada yang merasakan perubahan mendalam, ada pula yang menjalaninya sekadar sebagai rutinitas tahunan.

Para ulama salaf telah lama mengingatkan bahwa Ramadhan sejatinya bukan titik awal, melainkan puncak dari proses panjang pembinaan diri. Dalam kitab Lathā’if al-Ma‘ārif, Imam Ibnu Rajab al-Hanbali menukil ungkapan yang sangat terkenal: “Rajab adalah bulan menanam, Sya’ban bulan menyiram, dan Ramadhan bulan memanen.” Sebuah perumpamaan sederhana, tetapi menyimpan pesan mendalam tentang manajemen spiritual seorang Muslim.

Semacam Tahapan

Rajab, sebagai salah satu bulan haram ” Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram (Dzulka’dah, Dzulhijjah. Muharram, Rajab) (QS, Attaubah:36) adalah momentum menanam benih kebaikan. Menanam berarti memulai: memulai taubat yang jujur, meluruskan niat ibadah, dan membangun kembali kebiasaan amal yang sempat terabaikan. Di tengah kehidupan modern yang serba cepat dan bising, Rajab mengajarkan pentingnya berhenti sejenak untuk melakukan muhasabah. Tanpa tanah hati yang dibersihkan dari gulma dosa dan kelalaian, benih amal saleh sulit tumbuh dengan sehat.

Namun menanam saja tidak cukup. Benih yang telah ditanam memerlukan perawatan. Di sinilah makna bulan Sya’ban. Ibnu Rajab menjelaskan bahwa Sya’ban adalah bulan yang sering dilalaikan manusia karena berada di antara dua bulan besar—Rajab dan Ramadhan. Padahal, justru di bulan inilah Nabi Muhammad ﷺ memperbanyak ibadah, khususnya puasa sunnah. Sya’ban adalah fase menyiram dan merawat: menjaga konsistensi shalat malam, membiasakan puasa, memperkuat interaksi dengan Al-Qur’an, dan melatih keistiqamahan.

Dalam konteks kehidupan hari ini, Sya’ban bisa dimaknai sebagai masa latihan. Ibarat atlet, mustahil tampil prima di hari pertandingan tanpa pemanasan dan latihan yang cukup. Begitu pula Ramadhan. Tanpa pembiasaan sejak Sya’ban, Ramadhan sering terasa berat di awal, lalu perlahan kehilangan energi di pertengahan, dan berlalu tanpa meninggalkan jejak perubahan yang berarti.

Puncak Proses

Ramadhan, pada akhirnya, adalah bulan panen. Panen keimanan, panen kesabaran, dan panen ketakwaan. Mereka yang menanam dan menyiram dengan sungguh-sungguh akan memetik buahnya: puasa yang lebih khusyuk, shalat yang lebih hidup, dan Al-Qur’an yang terasa dekat. Ramadhan tidak lagi dipandang sebagai beban, tetapi sebagai anugerah dan ruang transformasi diri.

Sayangnya, realitas sosial menunjukkan bahwa tidak sedikit orang yang menjadikan Ramadhan sebatas simbol. Semangat ibadah melonjak sesaat, tetapi memudar tak lama setelah Idulfitri. Ini menandakan bahwa proses menanam dan menyiram belum dilakukan dengan benar. Ramadhan akhirnya gagal menjadi titik balik, karena ia berdiri sendiri tanpa fondasi spiritual yang kuat.

Pesan Ibnu Rajab relevan untuk direnungkan di tengah krisis makna dan kelelahan spiritual masyarakat modern. Islam tidak mengajarkan perubahan instan, melainkan perubahan bertahap dan berkelanjutan. Rajab dan Sya’ban adalah bagian dari sistem pendidikan ruhani yang menyiapkan manusia agar Ramadhan benar-benar melahirkan ketakwaan, sebagaimana tujuan puasa itu sendiri.

Kini pertanyaannya kembali kepada kita: Apa yang telah kita tanam di Rajab dan sejauh mana kita menyiramnya di Sya’ban? Jawaban atas pertanyaan itulah yang akan menentukan kualitas panen kita di Ramadhan. Hal ini, karena Ramadhan yang berkualitas tidak pernah hadir secara tiba-tiba tetapi harus disiapkan dengan kesadaran, kesungguhan, dan kesabaran.

Menuju Takwa

Pada akhirnya, Ramadhan bukan sekadar tentang seberapa ramai masjid atau seberapa panjang daftar agenda ibadah. Ramadhan adalah tentang sejauh mana hati kita siap dihadapkan kepada Allah. Kesiapan itu tidak lahir secara mendadak.
Rajab dan Sya’ban mengajarkan bahwa perubahan sejati selalu dimulai jauh sebelum momen puncak tiba. Menanam amal, menyiram iman, lalu memanen takwa adalah proses yang menuntut kesadaran dan kesungguhan. Siapa yang mempersiapkan diri, akan merasakan Ramadhan sebagai anugerah yang menghidupkan. Siapa yang lalai, sering kali hanya menyaksikannya berlalu tanpa makna.

Terkait, selagi pintu waktu masih terbuka, mari bertanya pada diri sendiri: Apa yang sedang kita tanam hari ini? Sungguh, Ramadhan akan datang sebagaimana mestinya tetapi kualitasnya—apakah ia mengubah kita atau tidak—sangat bergantung pada langkah-langkah kecil yang kita pilih sejak sekarang.

Semoga Allah ﷻ mempertemukan kita dengan Ramadhan dalam keadaan hati yang siap, amal yang tumbuh, dan tekad yang lurus menuju ketakwaan. Wallahu a’lam. []

Admin: Kominfo DDII Jatim

Editor: Sudono Syueb

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *