Oleh Muhammad Hidayatulloh, Wakil Ketua Bidang PSQ DDII Jatim dan penulis buku: Geprek Series (4 judul), Seri Epistemologi Qur’ani (6 judul)
Dewandakwahjatim.com, Surabaya — Hidup manusia tidak pernah hadir sebagai ruang kosong tanpa makna. Ia adalah rangkaian ujian yang mengandung amanah, sekaligus ladang bagi manusia untuk menegaskan orientasi dan tujuan hidupnya. Setiap individu menjalani hidup dengan keterbatasan yang serupa—usia, waktu, dan kemampuan—namun perbedaannya terletak pada bagaimana semua itu diarahkan.
Al-Qur’an sejak awal telah meletakkan dasar konseptual tentang hakikat hidup. Allah berfirman:
الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا
“Dialah yang menciptakan mati dan hidup untuk menguji kalian, siapa di antara kalian yang paling baik amalnya.” (QS. Al-Mulk: 2)
Ayat ini menegaskan bahwa hidup bukan dinilai dari kuantitas aktivitas, melainkan dari kualitas amal dan kejelasan orientasi. Kesibukan tidak selalu berbanding lurus dengan kebermaknaan, dan produktivitas tidak otomatis menunjukkan kebenaran arah hidup.
Kesadaran akan orientasi hidup ini menjadi perhatian utama para ulama. Imam Al-Ghazali dalam banyak karyanya menekankan bahwa inti kecerdasan manusia terletak pada kemampuan mengenali tujuan hidup dan menempatkan dunia secara proporsional. Dunia diperlukan, namun tidak layak dijadikan tujuan akhir.
Al-Qur’an sendiri mengingatkan manusia agar tidak terjebak pada pesona dunia yang menipu:
وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ
“Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (QS. Ali ‘Imran: 185)
Ayat ini tidak menafikan peran dunia dalam kehidupan manusia, tetapi mengoreksi orientasi yang keliru. Dunia adalah sarana untuk beramal, bukan tujuan yang berdiri sendiri. Ketika dunia dijadikan tujuan utama, manusia mudah terjebak dalam kelelahan batin, kecemasan, dan kehilangan ketenangan spiritual.
Dalam tradisi tasawuf, keseimbangan antara usaha dan ketenangan batin ditegaskan oleh Ibnu Atha’illah As-Sakandari melalui ungkapannya yang masyhur:
“Istirahatkan dirimu dari mengatur urusan dunia, karena apa yang telah diatur Allah untukmu tidak akan meleset darimu.”
Ungkapan ini tidak mengajarkan sikap pasif, melainkan mengarahkan manusia agar tidak menggantungkan ketenangan hati pada hasil semata. Usaha tetap dijalankan secara optimal, namun hasilnya diserahkan sepenuhnya kepada Allah.
Prinsip tersebut sejalan dengan tuntunan Al-Qur’an:
فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ
“Apabila engkau telah bertekad, maka bertawakallah kepada Allah.” (QS. Ali ‘Imran: 159)
Ayat ini menunjukkan urutan etis dalam Islam: perencanaan dan ikhtiar dilakukan dengan kesungguhan, lalu diakhiri dengan tawakal yang utuh. Dengan demikian, hidup seorang Muslim tidak didominasi oleh kecemasan, tetapi dibingkai oleh kesadaran akan keterbatasan manusia dan keagungan kehendak Ilahi.
Pada akhirnya, menata arah hidup bukanlah upaya mencari kenyamanan semata, melainkan usaha menempatkan hidup dalam koridor nilai yang benar. Hidup yang bermakna adalah hidup yang dijalani dengan kesadaran tujuan, kejernihan orientasi, dan kesiapan untuk mempertanggungjawabkannya di hadapan Allah.
Sebab hidup mungkin singkat, namun arah hidup menentukan nilai dan akhirnya.
Admin: Kominfo DDII Jatim
Editor: Sudono Syueb
