Oleh Muhammad Hidayatulloh, Wakil Ketua Bidang PSQ DDII Jatim dan penulis buku: Geprek Series (4 judul), Seri Epistemologi Qur’ani (5 judul)
Dewandakwahjatim.com, Surabaya – Islam tidak membangun manusia hanya dengan wacana, tetapi dengan pembuktian melalui ujian kehidupan. Dalam pandangan Al-Qur’an, kebenaran iman, akhlak, dan integritas tidak cukup dinyatakan, tetapi harus diterjemahkan dalam sikap nyata ketika manusia berada di bawah tekanan realitas.
Karena itu, dakwah Islam sejak generasi awal tidak berhenti pada penyampaian konsep, tetapi menyiapkan manusia untuk lulus dalam ujian hidup.
Salah satu ungkapan hikmah Arab yang selaras dengan pendekatan Qur’ani tersebut berbunyi:
أَرْبَعَةٌ تَكْشِفُ أَرْبَعَةً
الْخُصُومَةُ تَكْشِفُ الْقُلُوبَ
وَالسَّفَرُ يَكْشِفُ الرِّفَاقَ
وَالْمَنْصِبُ يَكْشِفُ مَعَادِنَ الرِّجَالِ
وَالْفَقْرُ يَكْشِفُ وَفَاءَ الْأَهْلِ
Empat perkara menyingkap empat hakikat: perselisihan menyingkap isi hati, perjalanan menyingkap kualitas pertemanan, jabatan menyingkap jati diri manusia, dan kemiskinan menyingkap kesetiaan keluarga.
Ungkapan ini bukan hadis, namun ia mewakili kaidah besar dalam manhaj Qur’ani: bahwa ujian adalah instrumen Allah untuk menyingkap kebenaran manusia, bukan sekadar untuk menyulitkan mereka.
Perselisihan: Ujian Kejujuran Hati
Dalam Al-Qur’an, pusat penilaian manusia bukan akal semata, tetapi qalb. Karena itu penyakit yang paling sering disebut bukan kebodohan, melainkan penyakit hati.
Perselisihan menjadi momen krusial karena di sanalah hati diuji: apakah seseorang tetap adil saat dirugikan, atau justru menanggalkan nilai ketika kepentingannya terganggu.
Allah Ta‘ala berfirman:
“Apakah manusia mengira akan dibiarkan mengatakan ‘kami beriman’, sementara mereka tidak diuji?”
(QS. Al-‘Ankabut: 2)
Konflik bukan sekadar masalah sosial, tetapi alat ukur keimanan dan kejujuran batin.
Perjalanan: Ujian Ukhuwah yang Nyata
Safar dalam Islam bukan hanya aktivitas fisik, tetapi ruang pendidikan karakter. Di dalamnya ada lelah, keterbatasan, dan kebutuhan untuk saling menopang.
Dalam perjalanan, pertemanan diuji secara nyata. Bukan dengan slogan ukhuwah, tetapi dengan kesediaan berbagi beban.
Karena itu, kualitas relasi dalam Islam tidak diukur dari kebersamaan saat lapang, tetapi dari keteguhan saat sulit. Inilah ukhuwah yang memiliki nilai dakwah.
Jabatan: Amanah sebagai Batu Uji Tauhid
Islam memandang kekuasaan bukan sebagai kehormatan, tetapi amanah yang berat. Jabatan tidak menambah nilai seseorang di sisi Allah, kecuali sejauh ia menjaga keadilan dan tanggung jawab.
Kekuasaan menyingkap apakah tauhid benar-benar menata keputusan, atau hanya berhenti sebagai slogan keagamaan.
Di sinilah jabatan berfungsi sebagai alat pembaca integritas. Banyak orang memahami konsep keadilan, namun hanya sedikit yang mampu menegakkannya ketika memiliki kuasa.
Kemiskinan: Ujian Ketulusan dan Kesetiaan
Dalam dakwah Islam, kemiskinan bukan kehinaan, tetapi ujian kesabaran dan ketulusan. Ia menyingkap relasi yang tulus dari relasi yang berbasis kepentingan.
Ketika harta berkurang, solidaritas diuji. Ketika fasilitas hilang, komitmen diperlihatkan.
Di sinilah keluarga dan lingkungan terdekat diuji: apakah tetap berdiri di atas nilai iman, atau runtuh karena hilangnya manfaat dunia.
Ujian sebagai Metode Tarbiyah Ilahiah
Empat perkara ini menunjukkan satu kaidah penting dalam epistemologi Qur’ani dan manhaj dakwah:
Allah mendidik manusia melalui ujian, bukan sekadar nasihat.
Konflik mendidik kejujuran hati
Perjalanan mendidik ukhuwah sejati
Jabatan mendidik amanah dan keadilan
Kemiskinan mendidik kesabaran dan ketulusan
Inilah sebabnya dakwah tidak boleh hanya melahirkan generasi yang fasih berbicara, tetapi kokoh saat diuji.
Sebagaimana semangat dakwah yang selalu ditekankan oleh para ulama bahwa kekuatan umat tidak terletak pada retorika, tetapi pada integritas iman yang teruji oleh realitas.
Karena pada akhirnya, manusia tidak dibaca dari apa yang ia klaim, melainkan dari apa yang ia pertahankan ketika diuji.
Admin: Kominfo DDII Jatim
Editor: Sudono Syueb
