Tantangan Besar Agama di Tengah Magnet Hedonisme

Oleh Dr. Slamet Muliono Redjosari, Wakil Ketua Bidang MPK DDII Jatim

Dewandakwahjatim.com, Surabaya –
Menegakkan tauhid merupakan misi tunggal dan utama yang harus disampaikan nabi dan rasul kepada umatnya. Mereka memiliki tugas khusus untuk menegakkan agama ini dengan mendakwahkan tauhid dalam kehidupan. Dengan kata lain, agama akan tegak ketika tauhid dijadikan prioritas, dan sebaliknya agama hanya akan menjadi ejekan ketika mengabaikan dakwah tauhid. Tantangan besar agama saat ini berupa perlawanan yang keras dan semakin serius karena kebanyakan manusia memberhalakan hidup hedonis yang menjauhkan dari agamanya.

Misi Tauhid

Menegakkan tauhid merupakan misi tunggal dan paling fundamental yang diemban oleh seluruh nabi dan rasul. Sejak awal sejarah kenabian hingga penutupnya pada diri Nabi Muhammad, pesan tauhid menjadi inti dakwah yang tidak pernah berubah. Segala ajaran syariat, muamalah, dan akhlak berpijak pada fondasi keesaan Allah. Agama akan tegak dan berfungsi sebagai petunjuk hidup ketika tauhid dijadikan prioritas utama dalam dakwah. Sebaliknya, ketika tauhid diabaikan, agama kehilangan ruh dan berubah menjadi sekadar simbol, tradisi, atau alat legitimasi kepentingan duniawi. Al-Qur’an menegaskan bahwa misi tauhid merupakan amanah seluruh nabi dan rasul tanpa reserve. Hal ini ditegaskan Al-Qur’an sebagaimana firman-Nya :

شَرَعَ لَـكُمْ مِّنَ الدِّيْنِ مَا وَصّٰى بِهٖ نُوْحًا وَّا لَّذِيْۤ اَوْحَيْنَاۤ اِلَيْكَ وَمَا وَصَّيْنَا بِهٖۤ اِبْرٰهِيْمَ وَمُوْسٰى وَعِيْسٰۤى اَنْ اَقِيْمُوا الدِّيْنَ وَ لَا تَتَفَرَّقُوْا فِيْهِ ۗ كَبُـرَ عَلَى الْمُشْرِكِيْنَ مَا تَدْعُوْهُمْ اِلَيْهِ ۗ اَللّٰهُ يَجْتَبِيْۤ اِلَيْهِ مَنْ يَّشَآءُ وَيَهْدِيْۤ اِلَيْهِ مَنْ يُّنِيْبُ
“Dia (Allah) telah mensyariatkan kepadamu agama yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu (Muhammad) dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa, dan ‘Isa, yaitu tegakkanlah agama (keimanan dan ketakwaan) dan janganlah kamu berpecah-belah di dalamnya. Sangat berat bagi orang-orang musyrik (untuk mengikuti) agama yang kamu serukan kepada mereka. Allah memilih orang yang Dia kehendaki kepada agama tauhid dan memberi petunjuk kepada (agama)-Nya bagi orang yang kembali (kepada-Nya).” (QS. Asy-Syura : 13)

Ayat ini menegaskan bahwa dakwah para nabi tidak dimulai dari perombakan sosial atau politik, melainkan dari peneguhan akidah. Nabi Nuh misalnya, berdakwah selama ratusan tahun hanya dengan satu seruan: “Sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada tuhan selain Dia bagimu.” Namun kaumnya menolak karena telah terbiasa menyembah berhala-berhala yang mereka warisi secara turun-temurun. Berhala-berhala itu bukan sekadar patung, tetapi simbol identitas, kekuasaan elite, dan status sosial yang sulit mereka lepaskan.

Demikian pula Nabi Ibrahim, sang bapak tauhid juga menghadapi perlawanan keras dari kaumnya, bahkan dari ayahnya sendiri, karena dakwah tauhid dianggap merusak tatanan sosial dan ekonomi. Berhala-berhala yang disembah bukan hanya objek ritual, tetapi juga sumber legitimasi kekuasaan raja Namrud. Ketika Ibrahim menghancurkan berhala-berhala itu, sejatinya ia mengguncang fondasi kekuasaan dan ideologi kaumnya. Oleh karena itu, perlawanan yang muncul bukan sekadar perbedaan keyakinan, melainkan konflik kepentingan.

Nabi Musa menghadapi bentuk penolakan tauhid yang berbeda. Kaum Fir’aun tidak hanya menyembah berhala, tetapi menjadikan kekuasaan dan jabatan sebagai sesembahan. Fir’aun dengan congkaknya berkata, “Akulah tuhanmu yang paling tinggi.” Di sini, syirik tampil dalam bentuk absolutisasi kekuasaan. Tauhid menjadi ancaman langsung bagi sistem politik tiranik yang menuhankan manusia dan menindas sesama.

Bahkan Bani Israil sendiri, setelah diselamatkan dari penindasan Fir’aun, masih tergelincir dalam penyimpangan tauhid. Mereka membuat patung anak sapi untuk disembah ketika Nabi Musa pergi bermunajat. Hal ini menunjukkan bahwa penyimpangan tauhid sering kali berakar pada hawa nafsu dan kebiasaan lama yang sulit ditinggalkan, meskipun seseorang telah menyaksikan tanda-tanda kekuasaan Allah secara nyata.

Pola yang sama berulang dalam dakwah Nabi ‘Isa. Beliau menyeru kepada tauhid dan penyucian ibadah kepada Allah semata. Namun kaumnya menolak karena lebih memilih agama sebagai simbol identitas etnis dan kekuasaan keagamaan. Ketika agama diperalat untuk kepentingan dunia, tauhid selalu menjadi korban.

Puncak dakwah tauhid terwujud dalam risalah Nabi Muhammad. Beliau menghadapi masyarakat Arab yang menyembah berhala, memuliakan harta, kedudukan, dan nasab. Tauhid yang beliau serukan mengguncang struktur sosial Quraisy, karena meniadakan hierarki palsu dan menegaskan kesetaraan manusia di hadapan Allah. Oleh sebab itu, perlawanan yang dihadapi Nabi Muhammad bukan hanya berupa ejekan dan tuduhan, tetapi juga boikot, penyiksaan, dan peperangan.

Cinta Dunia

Di tengah dakwah tauhid, para nabi mengalami perlawanan dari kaumnya. Dalam beragama, kaumnya menyembah apa pun atau siapa pun yang dianggap menguntungkan. Bentuk penyembahan berhala dan patung pada era modern penyimpangan itu hadir dalam wajah yang lebih halus, sistemik, dan sering kali dianggap wajar.
Manusia masa kini tidak lagi bersujud di hadapan patung batu, tetapi tunduk sepenuhnya kepada kekuasaan, jabatan, dan harta kekayaan yang berujung hedonistik. Ketiganya menjadi “sesembahan baru” yang menentukan arah hidup, nilai moral, bahkan keyakinan seseorang. Demi kekuasaan, manusia rela mengorbankan kejujuran dan keadilan. Demi jabatan, ia menanggalkan prinsip dan amanah, dan demi harta, ia melalaikan kewajiban ibadah serta menghalalkan berbagai cara yang dilarang agama.

Oleh karena itu, tantangan dakwah tauhid hari ini sesungguhnya tidak lebih ringan dibanding masa para nabi. Bahkan, ia jauh lebih kompleks karena dibungkus oleh legitimasi sistem, normalisasi budaya, dan rasionalisasi intelektual. Menegakkan tauhid di era ini berarti membebaskan manusia dari perbudakan modern terhadap materi dan kekuasaan, serta mengembalikan orientasi hidup kepada penghambaan yang murni kepada Allah. Disinilah pentingnya spirit untuk meneguhkan kembali tauhid di tengah arus yang mengajak kepada penyimpangan. Hal ini ditegaskan Al-Qur’an sebagaimana firman-Nya :

فَلِذٰلِكَ فَا دْعُ ۚ وَا سْتَقِمْ كَمَاۤ اُمِرْتَ ۚ وَلَا تَتَّبِعْ اَهْوَآءَهُمْ ۚ وَقُلْ اٰمَنْتُ بِمَاۤ اَنْزَلَ اللّٰهُ مِنْ كِتٰبٍ ۚ وَاُ مِرْتُ لِاَ عْدِلَ بَيْنَكُمُ ۗ اَللّٰهُ رَبُّنَا وَرَبُّكُمْ ۗ لَـنَاۤ اَعْمَا لُـنَا وَلَـكُمْ اَعْمَا لُكُمْ ۚ لَا حُجَّةَ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ ۗ اَللّٰهُ يَجْمَعُ بَيْنَنَا ۚ وَاِ لَيْهِ الْمَصِيْرُ 
“Karena itu, serulah (mereka beriman) dan tetaplah (beriman dan berdakwah) sebagaimana diperintahkan kepadamu (Muhammad) dan janganlah mengikuti keinginan mereka dan katakanlah, “Aku beriman kepada Kitab yang diturunkan Allah dan aku diperintahkan agar berlaku adil di antara kamu. Allah Tuhan kami dan Tuhan kamu. Bagi kami perbuatan kami dan bagi kamu perbuatan kamu. Tidak (perlu) ada pertengkaran antara kami dan kamu, Allah mengumpulkan antara kita dan kepada-Nyalah (kita) kembali.” (QS. Asy-Syura : 15)

Dengan demikian, misi besar para rasul tetap relevan sepanjang zaman. Tauhid bukan sekadar doktrin teologis, melainkan sikap hidup yang menolak tunduk kepada apa pun selain Allah. Selama manusia masih mengagungkan dunia hingga melalaikan agamanya, selama itu pula dakwah tauhid akan selalu menghadapi perlawanan, dan selama itu pula ia tetap menjadi misi paling mulia dalam sejarah kemanusiaan. (Surabaya, 19 Januari 2026)

Admin: Kominfo DDII Jatim

Editor: Sudono Syueb

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *