Oleh M. Anwar Djaelani, Pengurus Dewan Da’wah Jatim⁹
Dewandakwahjatim.com, Surabaya – Alhamdulillah, insya Allah 1 Sya’ban di tahun ini bertepatan dengan 20 Januari 2026. Sungguh, beruntung-lah seorang Muslim yang menjumpainya. Hal itu, antara lain, karena bisa menjadi penanda bahwa pertemuan dengan Bulan Ramadhan tinggal sebulan lagi. Terkait itu, jangan biarkan Sya’ban berlalu tanpa kita penuhi dengan berbagai amal shalih sebagai bekal di Bulan Ramadhan.
Sya’ban Istimewa
Sya’ban diapit dua bulan mulia, Rajab dan Ramadhan. Rajab adalah salah satu di antara empat bulan mulia yang ditetapkan Allah. Bulan-bulan itu adalah Dzulqaidah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab (baca QS Al-Baqarah [2]: 194 dan QS At-Taubah [9]: 36).
Rasulullah Saw menyebut Sya’ban sebagai bulan yang sering dilupakan orang. Dilupakan karena berada di antara dua bulan yang “menyita perhatian”, yaitu Rajab dan Ramadhan. Rajab diperhatikan karena–sekali lagi-merupakan salah satu dari empat bulan Haram. Sementara, Ramadhan diperhatikan karena pada bulan itu ada kewajiban berpuasa sebulan penuh.
Terkait dengan datangnya Ramadhan, benar jika kita antusias menyambutnya. Sebab, sebentuk ibadah kepada Allah yang istimewa–yaitu berpuasa-akan segera menambah catatan ketaatan kita kepada-Nya. Perhatikan ayat ini: “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa” (QS Al-Baqarah [2]: 183).
Atas berbagai keutamaan Bulan Ramadhan, lalu banyak di antara kita yang sibuk menyongsongnya dengan melakukan sejumlah persiapan. Hanya saja, sering terlihat persiapan yang kita lakukan tak menyentuh langsung kepada usaha-usaha agar kualitas amaliyah puasa Ramadhan kita menjadi lebih baik ketimbang di tahun-tahun sebelumnya.
Pendek kata, sering di Bulan Sya’ban, banyak kesibukan kita yang tak bersinggungan langsung dengan upaya agar puasa Ramadhan kita benar-benar seperti yang disunnahkan Nabi Muhammad Saw. Sebaliknya, kita sering “heboh” dengan urusan-urusan yang tak prinsip.
Lihatlah, misalnya, para pedagang sibuk memperbanyak persediaan dagangannya sebanyak mungkin untuk menghadapi gairah pembelian. Banyak yang bekerja lebih keras agar bisa mengumpulkan lebih banyak rupiah sebagai bekal pulang kampung atau mudik. Contoh serupa banyak. Intinya, tak sedikit orang yang lalai di Bulan Sya’ban. Cermatilah hadits ini: “Bulan Sya’ban adalah bulan di mana manusia mulai lalai yaitu di antara bulan Rajab dan Ramadhan” (HR An-Nasa’i).
Dalam situasi ketika banyak orang yang lalai, maka sangat dianjurkan agar kita tetap istiqomah mengerjakan ketaatan kepada Allah. Teruslah beribadah di waktu-waktu yang dilalaikan oleh kebanyakan orang. Misalnya, tetaplah tegakkan qiyamul-lail (shalat tahajjud) di saat kebanyakan orang terlelap pulas. Tetaplah tunaikan shalat dhuha di saat kebanyakan orang sibuk memburu rizki. Istiqomahlah, misalnya, dalam menunaikan puasa sunnah Senin dan Kamis.
Kecuali tiga contoh di atas, masih banyak contoh lain yang serupa. Terus lakukanlah amal shalih sebagai wujud ketaatan kita kepada Allah di saat manusia lainnya lalai. Inilah praktik amaliyah yang disukai Allah.
Di Sepanjang Bulan
Di Bulan Sya’ban kita dianjurkan untuk meningkatkan amal shalih seperti yang secara umum telah disyariatkan di bulan-bulan lain, seperti: Shalat sunnah rawatib, qiyamul-lail, membaca Al-Qur’an, bersedekah dan lain-lainnya. Kecuali itu, ada satu amaliyah yang secara khusus mendapat perhatian Nabi Muhammad Saw yaitu memerbanyak puasa sunnah di hampir sepanjang Bulan Sya’ban. Perhatikan hadits ini: “Bulan Sya’ban adalah bulan di mana manusia mulai lalai yaitu di antara bulan Rajab dan Ramadhan. Bulan tersebut adalah bulan dinaikkannya berbagai amalan kepada Allah, Rabb semesta alam. Oleh karena itu aku amat suka jika di saat amalanku dinaikkan, aku dalam kondisi berpuasa” (HR An-Nasa’i).
Mari muliakan Bulan Sya’ban dengan semestinya dan–sebaliknya-jangan melalaikannya. Lebih dekatlah kepada Allah. Di Bulan Sya’ban kita perlu melakukan persiapan menuju Ramadhan, baik fisik maupun spiritual. Hal ini penting, sebab bulan ini adalah semacam awalan untuk memasuki Bulan Puasa.
Sejumlah amal shalih berikut ini, bisa kita lakukan secara lebih bersemangat di Bulan Sya’ban:
1).Memerbanyak puasa sunnah. Nabi Muhammad Saw lebih banyak melakukan ibadah puasa sunnah di Bulan Sya‘ban ketimbang di bulan-bulan yang lain. Seberapa banyak? Sebanyak-banyaknya, asal tidak satu bulan penuh.
2).Bertaubat dan beristighfar. Memang, bertaubat dan beristighfar dapat dilakukan kapan saja. Hanya saja, menyambut Bulan Ramadhan hendaknya ditingkatkan lagi kesungguhan kita dalam bertaubat.
3).Memerbanyak dzikir dan doa.
4).Memerbanyak shalat sunnah, terutama di waktu malam.
5).Memerbanyak bersedekah.
Penuhi, Penuhilah!
Orang beruntung adalah mereka yang mencermati penggunaan waktunya. Akan beruntung jika kesehariannya-siang dan malam-digunakan untuk sebesar-besar usaha mendekatkan diri kepada Allah. Akan bermanfaat jika kesehariannya dipakai untuk sebanyak mungkin beramal-shalih.
Jangan pernah berhenti beramal-shalih, kecuali kematian benar-benar telah datang. Jika posisi kita sudah seperti itu (yaitu tak putus beramal shalih), maka kapanpun ajal menjemput tak akan menjadi masalah. Simak ayat ini: “Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal)” (QS al-Hijr [15]: 99).
Yakinilah, manusia terbaik adalah mereka yang panjang umurnya dan bagus amal-shalihnya. Sebaliknya, manusia terburuk adalah mereka yang panjang umurnya namun buruk amalnya. Maka, kata kuncinya adalah: Kelolalah waktu dengan sebaik mungkin dan kesemuanya kita isi dengan beragam ibadah kepada Allah!
Alhasil, terkait hal di atas, penuhilah Bulan Sya’ban dengan berbagai amal shalih.
Jangan abaikan kehadirannya. Semoga semua aktivitas kita di bulan Sya’ban (terutama dalam hal memerbanyak puasa sunnah) mampu mengantar kita untuk menjadi lebih siap dalam memasuki Ramadhan. []
Admin: Kominfo DDII Jatim
Editor: Sudono Syueb
