Melampaui Kecepatan Cahaya: Membedah Isra Mi’raj Melalui Lensa Fisika Teoritis Modern

Analisis Ilmiah tentang Perjalanan Lintas Dimensi dan Dilatasi Waktu

Oleh Muhammad Ramdan, Fisikawan

Dewandakwahjatim.com, Surabaya – – Selama berabad-abad, peristiwa Isra dan Mi’raj—perjalanan malam Nabi Muhammad SAW dari Mekkah ke Yerusalem lalu naik melintasi langit ke Sidratul Muntaha—sering kali dipandang oleh kaum skeptis sebagai metafora belaka atau fiksi. Alasannya sederhana: keterbatasan logika manusia tentang jarak, waktu, dan kecepatan.
Namun, di abad ke-21, narasi “ketidakmungkinan” itu mulai runtuh. Kemajuan dalam Fisika Teoritis (Theoretical Physics) dan Kosmologi justru menyajikan kerangka kerja matematis yang memungkinkan perjalanan semacam itu terjadi secara harfiah. Berikut adalah pembuktian ilmiah mengapa Isra Mi’raj sejalan dengan sains modern.

  1. Isra dan Konsep Wormholes (Jembatan Einstein-Rosen)
    Perjalanan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa (Isra) yang berjarak sekitar 1.239 km ditempuh dalam waktu yang sangat singkat. Dalam fisika klasik Newton, ini mustahil tanpa kecepatan supersonik yang menghancurkan tubuh biologis. Namun, Teori Relativitas Umum Albert Einstein menawarkan jalan pintas.
    Jurnal ilmiah Physical Review (1935) menerbitkan makalah karya Albert Einstein dan Nathan Rosen yang memperkenalkan konsep Jembatan Einstein-Rosen, yang kini dikenal sebagai Wormhole (Lubang Cacing).

Sainsnya: Ruang dan waktu bukanlah lembaran datar, melainkan kain yang bisa melengkung. Jika energi yang cukup besar dikerahkan untuk melengkungkan ruang-waktu, dua titik yang berjauhan (Mekkah dan Yerusalem) dapat “ditempelkan” sehingga jarak tempuhnya menjadi nol atau sangat dekat.

Dalam konteks ini, Isra bukan tentang bergerak melewati ruang dengan kecepatan tinggi, melainkan melipat ruang itu sendiri. Ini adalah konsep yang dipelajari secara serius oleh fisikawan seperti Kip Thorne (pemenang Nobel Fisika) dalam studi tentang traversable wormholes.

  1. Mi’raj dan Fisika Dimensi Tinggi (Multiverse & String Theory)
    Mi’raj digambarkan sebagai perjalanan naik menembus “tujuh lapis langit”. Astronomi klasik hanya melihat satu alam semesta yang terlihat. Namun, String Theory (Teori Dawai) dan M-Theory, yang merupakan kandidat terkuat untuk Theory of Everything dalam fisika modern, menyaratkan adanya dimensi tambahan.
    Fisikawan teoritis seperti Michio Kaku dan Brian Greene menjelaskan bahwa alam semesta kita mungkin terdiri dari hingga 10 atau 11 dimensi, bukan hanya 3 dimensi ruang dan 1 waktu yang kita rasakan.
  • Perspektif Ilmiah: Apa yang disebut sebagai “langit ke-1 hingga ke-7” sangat mungkin merujuk pada dimensi-dimensi ekstra atau parallel branes dalam bulk universe.
  • Bukti Teoritis: Perpindahan antar dimensi ini tidak memerlukan perjalanan roket jutaan tahun cahaya, melainkan perpindahan fase atau frekuensi materi, yang memungkinkan seseorang berpindah dari satu “lapisan” realitas ke lapisan lainnya secara instan.
  1. Dilatasi Waktu (Time Dilation): Mengapa Waktu Berhenti?
    Salah satu aspek paling membingungkan dari Isra Mi’raj adalah durasinya. Nabi melakukan perjalanan melintasi alam semesta, namun kembali ketika tempat tidurnya masih hangat atau air bejananya belum tumpah. Ini adalah manifestasi sempurna dari Dilatasi Waktu Gravitasi dan Relativitas Khusus.
    Rumus Dilatasi Waktu Einstein dijelaskan dimana:
  • t’ adalah waktu yang dialami pengamat diam (di Bumi).
  • t adalah waktu bagi pelaku perjalanan (Nabi).
  • v adalah kecepatan, dan c adalah kecepatan cahaya.
    Jika Nabi bergerak mendekati kecepatan cahaya (v \approx c), atau berada di dekat objek dengan gravitasi masif (seperti Black Hole atau singularitas di Sidratul Muntaha), waktu bagi beliau akan berjalan normal, namun bagi pengamat di Bumi, waktu seolah berhenti atau melambat secara drastis.
    Sebuah studi dalam jurnal Classical and Quantum Gravity secara konsisten membuktikan bahwa jam atom yang diletakkan di orbit (kecepatan tinggi) berjalan lebih lambat dibanding jam di permukaan bumi. Isra Mi’raj adalah versi makro dari fenomena yang sudah terbukti ini.
  1. Annihilasi Materi-Energi (E=mc^2)
    Kritik terbesar adalah: “Bagaimana tubuh fisik manusia bertahan dalam perjalanan secepat itu tanpa hancur oleh gaya G?”
    Jawabannya mungkin terletak pada konversi materi menjadi energi. Persamaan Einstein E=mc^2 menyatakan bahwa materi dan energi adalah dua sisi mata uang yang sama. Dalam narasi Islam, Nabi dibedah dadanya dan disucikan sebelum perjalanan. Dalam hipotesis fisika spekulatif, ini bisa dianalogikan sebagai proses Quantum Teleportation atau perubahan fase tubuh biologis menjadi bentuk energi (cahaya/foton) atau materi eksotik yang tidak terikat gesekan dan inersia.
    Jurnal Nature telah mempublikasikan keberhasilan ilmuwan melakukan teleportasi kuantum pada partikel foton. Meskipun teleportasi makroskopik (manusia) masih jauh, prinsip fisikanya valid: materi dapat ditransfer melintasi jarak secara instan jika informasi kuantumnya dipertahankan.
    Kesimpulan: Fiksi yang Menjadi Fakta
    Apa yang diceritakan 1.400 tahun lalu sebagai mukjizat, kini memiliki nomenklatur ilmiah: Wormholes, Extra Dimensions, dan Time Dilation.
    Sains modern tidak “membuktikan” Isra Mi’raj dalam artian empiris (karena kita tidak memiliki data pengamatan saat kejadian), namun sains modern telah menghapus kata “mustahil” dari peristiwa tersebut.
    Jika jurnal-jurnal astrofisika hari ini mendiskusikan perjalanan melintasi waktu dan dimensi sebagai peluang teoritis yang valid, maka menolak Isra Mi’raj dengan alasan “tidak masuk akal secara ilmiah” adalah argumen yang sudah kedaluwarsa. Peristiwa ini bukan lagi fiksi, melainkan fenomena yang mendahului kemampuan sains kita untuk menjelaskannya sepenuhnya.

Wallahu a’lam.

Sumber: WAG Cangkrukan Bandung

Admin; Kominfo DDII Jatim

Editor: Sudono Syueb

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *