Oleh Sigit Subiantoro, Wakil Ketua DDII Kediri
Dewandakwahjatim.com, Kediri – Sebagian ulama dan ahli ibadah punya keyakinan bahwa jika seseorang beribadah dan mengharap-harap balasan akhirat yang Allah janjikan, maka ini akan mencacati keikhlasannya. Walaupun mereka tidak menyatakan batalnya amalan karena maksud semacam ini, namun mereka membenci jika seseorang punya maksud demikian.
Mereka mengatakan, “Jika aku beribadah pada Allah karena mengharapkan surga-Nya dan karena takut akan siksa neraka-Nya, maka aku adalah pekerja yang jelek. Tetapi aku hanya ingin beribadah karena cinta dan rindu pada-Nya.” Perkataan ini juga dikemukakan oleh Rabi’ah al-Adawiyah, Imam Ghazali, dan Syaikhul Islam Ismail Al Harawi. Satu di antara perkataan Rabi’ah Al-Adawiyah dalam bait syairnya, “Aku sama sekali tidak mengharap surga dan takut pada neraka (sebagai balasan ibadah). Dan aku tidak mengharap rasa cintaku ini sebagai pengganti.”
Jadi, intinya mereka bermaksud mengatakan bahwa janganlah seseorang beramal karena ingin mengharap pahala, mengharap balasan di sisi Allah, ingin mengharap surga atau takut pada siksa neraka. Ini namanya tidak ikhlas.
Namun jika kita perhatikan kembali pada Al Qur’an dan petunjuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sungguh pendapat mereka jauh dari kebenaran. Semoga Allah memberikan pemahaman.
Allah memerintahkan untuk berlomba meraih kenikmatan surga. Setelah menyebutkan berbagai kenikmatan di surga dalam surat Al-Muthaffifin, Allah memerintah untuk berlomba-lomba meraihnya,
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
ۗ وَفِيْ ذٰلِكَ فَلْيَتَنَا فَسِ الْمُتَنَا فِسُوْنَ
“… Dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba.”
(QS Al-Muthaffifiin 83: 26)
Disebutkan juga balasan dari suatu amalan,
اِنَّ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ كَا نَتْ لَهُمْ جَنّٰتُ الْفِرْدَوْسِ نُزُلًا
“Sungguh, orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, untuk mereka disediakan Surga Firdaus sebagai tempat tinggal,”
(QS Al-Kahf 18:107)
Al Qur’an memberi kabar gembira dan peringatan,
قَيِّمًا لِّيُنْذِرَ بَأْسًا شَدِيْدًا مِّنْ لَّدُنْهُ وَيُبَشِّرَ الْمُؤْمِنِيْنَ الَّذِيْنَ يَعْمَلُوْنَ الصّٰلِحٰتِ اَنَّ لَهُمْ اَجْرًا حَسَنًا
“sebagai bimbingan yang lurus, untuk memperingatkan akan siksa yang sangat pedih dari sisi-Nya dan memberikan kabar gembira kepada orang-orang mukmin yang mengerjakan kebajikan bahwa mereka akan mendapat balasan yang baik,”
(QS Al-Kahf 18: 2)
Sifat orang beriman, beribadah dengan khouf (takut) dan roja’ (harap).
Allah berfirman,
اُولٰٓئِكَ الَّذِيْنَ يَدْعُوْنَ يَبْتَغُوْنَ اِلٰى رَبِّهِمُ الْوَسِيْلَةَ اَيُّهُمْ اَقْرَبُ وَيَرْجُوْنَ رَحْمَتَهٗ وَيَخَا فُوْنَ عَذَا بَهٗ ۗ اِنَّ عَذَا بَ رَبِّكَ كَا نَ مَحْذُوْرًا
“Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah). Mereka mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya. Sungguh, azab Tuhanmu itu sesuatu yang (harus) ditakuti.””
(QS Al-Isra’ 17: 57)
Sifat ‘ibadurrahman berlindung dari siksa neraka,
وَا لَّذِيْنَ يَقُوْلُوْنَ رَبَّنَا اصْرِفْ عَنَّا عَذَا بَ جَهَـنَّمَ ۖ اِنَّ عَذَا بَهَا كَا نَ غَرَا مًا
“Dan orang-orang yang berkata, “Ya Tuhan kami, jauhkanlah azab Jahanam dari kami, karena sesungguhnya azabnya itu membuat kebinasaan yang kekal,””
(QS Al-Furqan 25: 65)
Juga pada QS Ali Imran 191-194.
Asiyah, istri Fir’aun yang beriman meminta rumah di surga,
وَضَرَبَ اللّٰهُ مَثَلًا لِّـلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا امْرَاَ تَ فِرْعَوْنَ ۘ اِذْ قَا لَتْ رَبِّ ابْنِ لِيْ عِنْدَكَ بَيْتًا فِى الْجَـنَّةِ وَنَجِّنِيْ مِنْ فِرْعَوْنَ وَعَمَلِهٖ وَنَجِّنِيْ مِنَ الْقَوْمِ الظّٰلِمِيْنَ
“Dan Allah membuat perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, istri Fir’aun, ketika dia berkata, “Ya Tuhanku, bangunkan lah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam surga dan selamatkanlah aku dari Fir’aun dan perbuatannya, dan selamatkanlah aku dari kaum yang zalim,””
(QS At-Tahrim 66: 11)
Padahal Asiyah lebih utama daripada Rabi’ah Al-Adawiyah, namun ia pun masih minta pada Allah, surga.
Nabi Ibrahim pun minta surga,
وَا جْعَلْنِيْ مِنْ وَّرَثَةِ جَنَّةِ النَّعِيْمِ
“dan jadikanlah aku termasuk orang yang mewarisi surga yang penuh kenikmatan,”
(QS Asy-Syu’ara’ 26: 85)
Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun meminta surga, dari Abu Sholih, dari beberapa sahabat Nabi, beliau pernah bertanya kepada seseorang, “Doa apa yang kamu baca di dalam salat?”
“Aku membaca tahiyyat, lalu aku ucapkan ‘Allahumma inni as-alukal jannah wa a’udzu bukan minannar’ (aku memohon pada-Mu surga dan aku berlindung dari siksa neraka). Aku sendiri tidak mengetahui kalau engkau mendengungkannya begitu pula Mu’adz”, jawab orang tersebut. Kemudian Nabi bersabda, ” Kami sendiri memohon surga (atau berlindung dari neraka)
(HR Abu Daud no. 792, Ibnu Majah no. 910, dan Ahmad (3/474) Syaikh Al-Albani mengatakan hadits ini shahih.
Dan, banyak lagi
Kesimpulan,
Yang namanya ikhlas adalah seseorang yang beramal dengan mengharap segala apa yang ada di sisi Allah, yaitu mengharap surga dengan segala kenikmatannya. Begitu juga yang namanya ikhlas adalah seseorang beribadah karena takut akan siksa neraka.
Jika seseorang tidak memiliki harapan untuk meraih surga dan takut akan neraka, maka semangatnya jadi lemah. Namun jika seseorang beramal ingin mengharap surga dan takut neraka, semakin semangat beramal dan usahanya pun akan maksimal.
Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna.
Semoga bermanfaat
Admin: Kominfo DDII Jatim
Editor: Sudono Syueb
