FENOMENA SAKINAH WAWADDAH WA RAHMAH, KALANGAN KITA

Oleh Djuwari Syaifudin, Wasek. Bidang Pengembangan dan Pembinaan Daerah

Dewandakwahjatim.com, Surabaya – Melihat penomena muslim dalam membentuk sakinah mawadah warrahmah, akhir akhir ini dikejutkan oleh kondisi keputusan Pengadilan Agama di Jawa Timur tahun 2025 Sidoarjo dan Bojonegoro. Dan daerah lain seperti Surabaya, Blitar, Banyuwangi, Kediri dan lain sebagainya.

Dimana, angka gugal cerai, yang disampaikan oleh Panitera Muda Pengadilan Agama Sidoarjo Kelas 1A memutus 3.408 perkara perceraian sepanjang 2025, dengan cerai gugat yang diajukan istri mendominasi. Bayu Endragupta menjelaskan, dari total perkara yang dikabulkan, 2.591 adalah cerai gugat 76 % sedang gugat 817 perkara atau 24 % lainnya merupakan cerai talak.

Sedang Bojonegoro yang di sampaikan oleh Panitera Drs. H. Sholihin Jami’ , MH. Pada tahun 2025 dari total 2.774 perkara, gugat cerai menduduki rangking tertinggi 2.591 atau 75 % sedang talak 688 atau 25 %.

Baik Bayu Endragupta maupun Drs. H. Sholihin Jami’, MH mengatakan bahwa para istri tidak puas atas kinerja Suami (mohon jangan diterjemahkan), dari sini timbul masalah yang seolah olah tidak bisa diatasi. Melihat prosentase diatas penulis memberi entry ponit adanya :

  1. Tidak Bersyukur Kepada Suami
    Allah subhanallah wara Allah memerintah hambanya selalu bersyukur, seperti diterangkan dalam surat Ibrahim ayat 7 bahwa jika manusia bersyukur atas nikmat-Nya, nikmat itu akan ditambah, namun jika kufur (mengingkari nikmat), maka azab-Nya sangat pedih : وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat.'”.

Syukur adalah Kunci Nikmat: Mensyukuri nikmat Allah (kesehatan, keluarga, rezeki,) akan membuat Allah menambahkan nikmat tersebut (rezeki bertambah, keluarga damai dan hati tenang).

Kufur Mendatangkan Azab: Mengingkari atau tidak mensyukuri nikmat, bahkan menggunakannya untuk hal maksiat, akan mendatangkan azab yang pedih, baik di dunia maupun akhirat.

Syukur Meliputi Ucapan, Hati, dan Perbuatan: Menunjukkan rasa syukur tidak hanya dengan lisan (ucapan terima kasih), tapi juga dengan hati (kecintaan pada Allah) dan anggota badan (taat dan patuh).
Menghilangkan Insecure: Ayat ini menjadi pengingat untuk tidak membandingkan diri dengan orang lain, karena setiap orang memiliki nikmatnya sendiri, dan rasa syukur adalah fondasi kebahagiaan. Surah Ibrahim 7

Maka kewajiban istri adalah bersyukur kepada Allâh Azza wa Jalla kemudian kepada suaminya. Tidak bersyukur kepada suami menjadi sebab kemurkaan Allâh kepada seorang istri, sebagaimana dijelaskan di dalam hadits Nabi berikut ini:

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَا يَنْظُرُ اللهُ إِلَى امْرَأَةٍ لَا تَشْكَرُ لِزَوْجِهَا وَهِيَ لَا تَسْتَغْنِي عَنْهُ

Dari Abdullah bin ‘Amr, dia berkata: Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allâh tidak akan melihat seorang istri yang tidak berterima kasih kepada (kebaikan) suaminya padahal ia selalu butuh kepada suaminya”. [HR. An-Nasa’i dalam as-Sunan al-Kubra, no. 9086]

Bahkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bahwa sikap istri yang tidak bersyukur kepada suami merupakan sebab banyaknya wanita masuk neraka.

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رضي الله عنه ، قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : أُرِيتُ النَّارَ فَإِذَا أَكْثَرُ أَهْلِهَا النِّسَاءُ، يَكْفُرْنَ قِيلَ: أَيَكْفُرْنَ بِاللَّهِ؟ قَالَ: يَكْفُرْنَ العَشِيرَ، وَيَكْفُرْنَ الإِحْسَانَ، لَوْ أَحْسَنْتَ إِلَى إِحْدَاهُنَّ الدَّهْرَ، ثُمَّ رَأَتْ مِنْكَ شَيْئًا، قَالَتْ: مَا رَأَيْتُ مِنْكَ خَيْرًا قَطُّ

Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu anhu , dia berkata, “Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Neraka telah diperlihatkan kepadaku, ternyata mayoritas penghuninya adalah wanita, mereka kufur (mengingkari)”. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya, “Apakah mereka kufur (mengingkari) Allâh?” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Mereka mengingkari suami dan mengingkari perbuatan kebaikan. Jika engkau telah berbuat kebaikan kepada seorang wanita (istri) dalam waktu lama, kemudian dia melihat sesuatu (yang menyakitkannya-red) darimu, dia berkata, “Aku sama sekali tidak melihat kebaikan darimu!”. [HR. Al-Bukhâri, no. 29 dan Muslim, no. 884]

  1. Menyakiti Suami
    Termasuk kewajiban istri adalah mentaati perintah suami dan menyenangkan ketika dilihat suami. Ketika istri berbuat sebaliknya, yaitu menyakiti suami yang Mukmin, dengan bentuk apapun, maka dia akan mendapatkan murka Allâh Azza wa Jalla , bahkan murka bidadari surga yang akan menjadi istrinya. Di dalam hadits shahih disebutkan:

عَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: لاَ تُؤْذِي امْرَأَةٌ زَوْجَهَا فِي الدُّنْيَا، إِلاَّ قَالَتْ زَوْجَتُهُ مِنَ الحُورِ العِينِ: لاَ تُؤْذِيهِ، قَاتَلَكِ اللَّهُ، فَإِنَّمَا هُوَ عِنْدَكَ دَخِيلٌ يُوشِكُ أَنْ يُفَارِقَكِ إِلَيْنَا

Dari Mu’adz bin Jabal, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , beliau bersabda, “Tidaklah seorang istri menyakiti suaminya di dunia, melainkan istrinya dari kalangan bidadari akan berkata, “Janganlah engkau menyakitinya, semoga Allâh memusuhimu. Dia (sang suami) hanyalah tamu di sisimu, hampir saja ia akan meninggalkanmu menuju kepada kami.” [HR. At-Tirmidzi, no. 1174; Ibnu Majah, no. 2014. Hadits ini dihukumi sebagai hadits shahih oleh syaikh al-Albani]

Sebaik-baiknya wanita untuk suami adalah yang menyenangkan saat dilihat, taat saat diperintah, dan tak menentang suaminya baik dalam hatinya serta tak membelanjakan (Memakai) hartanya pada perkara yang dibenci suaminya” (H. R. Ahmad)

Sebagaimana anak dapat dikira durhaka pada orang tua, jadi istri dapat juga dikatakan durhaka pada suami saat berani membentaknya. Bahkan, Bidadari pun geram pada Istri yang memarahi suaminya jika seseorang suami dibentak atau didzalimi oleh istrinya.

Ini seharusnya jadi pelajaran untuk para istri tidak untuk mendzalimi suaminya. Saingannya berat, saingannya bukanlah lagi madumu atau yang lain. tetapi sainganmu yaitu bidadari yang Allah subhaanahu wa ta’ala mensifatkannya di dalam al-Qur’an. (QS an-Naba’ : 31-33), (QS. At-Tur : 20), (QS. Ar-Rahman : 70)

Solusi Bila Ingin Marah Pada Suami

Bila kemarahan menempa dan telah tidak tertahankan, tentunya tidak dianjurkan untuk mengekspresikan lewat cara meledak-ledak di depan pasangan. Terlebih dengan cara membentak. Ada beberapa hal yang dapat dikerjakan bila tengah geram pada suami.

Hal yang pertama dilakukan ialah katakan istighfar. Mohon ampunlah pada Allah. Istighfar bakal memperingan hati. Setelah itu, klarifikasi secara detail duduk persoalan. jangan ikuti nafsu lantaran emosi bakal makin meluap-luap. Namun sebisa mungkin, tahanlah dahulu emosi.

Lantaran bicara dalam kondisi emosi cuma bakal memperburuk kondisi, lantaran terkadang menginginkan menumpahkan kekesalan, bahkan juga kekesalan yang sudah lalu. Bila dirasa sudah bisa mengendalikan diri, Ambil air wudhu kemudian lakukan salat dan berdoalah. Adukan semua masalah pada Allah. Semua kekesalan, kecewa, adukan saja. Dan tidak lupa, mintalah pada-Nya untuk diberikan jalan keluar.

Jika diri telah tenang, awalilah bicara dengan suami. Ingat, yang bakal dibicarakan yakni dalam rangka mencari jalan keluar, bukanlah untuk menambahkan kericuhan. Tidak lupa, ada unsur saling menasehati dalam rumah tangga. Berikan nasehat pada pasangan atas kesalahan yang dikerjakan.

Catatan pinggir ini semoga ada manfaatnya.
Wallahu a’lam bishowab

Afmin: Kominfo DDII Jatim

Editor; Sudono Syueb

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *