Akibat Penguasaan Sains dan Teknologi tanpa Kendali Akhlaq (“Atheis”)

The Fall of Caracas: Opera Geopolitik AS–Venezuela dan Runtuhnya Miraflores

Oleh Abas Tohar Niners, Pengamat Politik Internasional

Dewandakwahjatim.com, Surabaya —
I. Prolog: Ketika Mesiu Menggantikan Retorika.

Di atas panggung geopolitik Amerika Latin, Amerika Serikat tidak lagi sekadar memainkan aria klasik. Hari ini, 3 Januari 2026, genderang perang yang ditabuh sejak akhir 2025 telah pecah menjadi dentuman rudal.

Doktrin Monroe bukan lagi sekadar bisikan diplomasi; ia telah menjadi naskah eksekusi. Jika dulu Trump meminjam retorika Roosevelt tentang Big Stick Policy, kini kita menyaksikan tongkat besar itu benar-benar menghantam. Operasi Southern Spear telah mendarat di pesisir La Guaira, membawa pesan tunggal: “Latin America, obey.”

II. Breaking News: Konfirmasi Penangkapan sang Presiden.

Menjawab simpang siur informasi yang merayap cepat pagi ini: Presiden Donald Trump telah mengonfirmasi bahwa Nicolas Maduro telah ditangkap. Setelah serangan udara skala besar yang mengguncang Caracas sejak pukul 02.00 dini hari, pasukan khusus AS dilaporkan telah menahan Maduro beserta istrinya dan menerbangkan mereka keluar dari Venezuela.

Pihak Caracas sempat memberlakukan status darurat eksternal, namun istana Miraflores tampaknya telah lumpuh sebelum matahari terbit. Kabut asap masih membubung dari pangkalan militer Fuerte Tiuna, menandai berakhirnya sebuah era.

III. Analisis Deep-Dive: Pengkhianatan dari Dalam – Anatomi Faksi Militer.

Penangkapan ini bukan sekadar keberhasilan teknologi siluman asing, melainkan hasil dari proksi domestik yang menjadi pemicu (trigger) utama. Analisis mendalam menunjukkan adanya keretakan fatal di tubuh FANB (Fuerza Armada Nacional Bolivariana) yang selama ini dianggap solid:

Faksi Pragmatis (The Turncoats): Sebagian jenderal tinggi diam-diam menyadari bahwa kapal rezim akan tenggelam akibat sanksi dan tekanan militer. Mereka melakukan negosiasi rahasia dengan Washington demi jaminan keamanan pasca-Maduro. Merekalah yang “membuka pintu” dengan mematikan sistem radar dan membocorkan rute evakuasi darurat kepresidenan.

Sabotase Intelijen (DGCIM): Pembelotan di tubuh Direktorat Intelijen Militer menjadi belati di punggung rezim. Tanpa data real-time dari proksi domestik ini, operasi surgical strike Delta Force akan mustahil dilakukan di jantung kota yang padat seperti Caracas.

Pemberontakan Perut (Bintara & Tamtama): Di level bawah, loyalitas telah lama runtuh bukan karena ideologi, tapi karena rasa lapar. Ketika intervensi dimulai, mayoritas unit militer reguler memilih untuk tidak menarik pelatuk, membiarkan milisi colectivos bertempur sendirian melawan mesin perang tercanggih di dunia.

IV. Southern Spear: Ketika Armada Laut.

Menjadi Alat Eksekusi
Operasi Southern Spear terbukti bukan sekadar gertakan anti-narkoba. Penempatan kapal induk USS Gerald R. Ford di Karibia adalah pernyataan hegemon yang absolut. AS membuktikan adagiumnya: “Navy is diplomacy by other means.” Blokade total telah melumpuhkan komunikasi dan pasokan energi Caracas, memastikan rezim terisolasi secara digital dan fisik sebelum serangan terakhir dilakukan.

V. Panama 1989: Bukan Lagi Ilusi, Tapi Realita.

Dunia sempat mengira Venezuela akan menjadi “Vietnam baru.” Namun, penangkapan cepat ini menunjukkan Washington berhasil menduplikasi blueprint invasi Panama 1989 untuk menggulingkan Manuel Noriega. Maduro kini menghadapi nasib serupa: seorang pemimpin yang dituduh “narco-tyrant” dan harus menghadapi pengadilan di tanah asing.

VI. Narco-State Narrative: Legitimasi yang Terpenuhi.

Dalam securitization theory, siapa yang berhasil mem-frame ancaman, dialah pemegang legitimasi. Washington berhasil membingkai narasi “narco-state” hingga ke titik di mana serangan militer hari ini dianggap oleh sebagian publik AS sebagai “penegakan hukum internasional.” Bagi Caracas, ini kolonialisme baru; bagi Washington, ini adalah pembersihan lingkungan.

VII. Epilog: Opera yang Belum Usai.

​Peristiwa Venezuela hari ini adalah lesson learned yang sangat pahit bagi dunia. Ini adalah penegasan brutal atas doktrin luar negeri AS di bawah Trump: “Either you are with us, or you are against us.”

Tidak ada lagi karpet merah bagi mereka yang hobi berdansa di dua kaki. Ruang untuk bersikap “impartial” telah ditutup rapat. Di wilayah pengaruh Paman Sam, jargon “Bebas-Aktif”—yang sering kita agungkan sebagai resep sakti mencari jalan tengah—kini tak lebih dari sekadar mantra usang yang kehilangan daya magisnya. Di hadapan moncong meriam, diplomasi “mendayung di antara dua karang” hanya akan membuat pendayungnya karam jika tidak segera menentukan arah kompas.

​Di era ini, bersikap netral sering kali dibaca sebagai pembangkangan yang tertunda. Pertanyaan besarnya bukan lagi kapan konflik berakhir, melainkan: “Where do you actually stand?”

Realitas pahit ini menunjukkan bahwa bagi negara adidaya, hukum internasional hanyalah bersifat opsional dan dekoratif. Pada akhirnya, kekuatan militer adalah hukum tertinggi (Vis militaris summa lex est) yang menentukan siapa yang berhak memimpin dan siapa yang harus tumbang. Di bawah langit Karibia yang mendung, kita kembali pada adagium klasik:

“Inter arma silent leges.” (Ketika senjata berbicara, hukum membisu).

Dan dalam kebisuan hukum itu, kedaulatan direduksi menjadi hiasan panggung, sementara kapal induk tetap berlayar megah, menandai kemenangan The New Monroe.

Salam akal-sehat wal khair wal barakah 🙏

Sumber: Pos Pantau Perbatasan (Zona Krisis), 3 Januari 2026.

Foto: Jet tempur siluman F-35 AS tiba di Puerto Riko setelah Presiden Donald Trump mempertimbangkan untuk menyerang wilayah Venezuela. Foto/USMC/Chief Petty Officer Omar Dominque)

Admin: Kominfo DDII Jatim

Editor: Sudono Syueb

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *