Materi khutbah Jum’at di masjid Al Huda Berbek.
Oleh Muhammad Hidayatulloh, Wakil Ketua Bidang PSQ DDII Jatim dan penulis buku: Geprek Series (4 judul), Seri Epistemologi Qur’ani (5 judul)
Dewandakwahjatim.com, Surabaya – Tahun boleh berganti, kalender boleh berpindah angka, tetapi satu pertanyaan besar tetap menghantui manusia modern: mengapa hidup terasa semakin canggih, namun jiwa semakin gelisah? Mengapa informasi melimpah, ilmu berkembang pesat, teknologi melesat jauh, tetapi kebenaran justru semakin kabur?
Masalah utama manusia hari ini bukan sekadar krisis moral, bukan pula hanya krisis sosial atau ekonomi. Akar terdalamnya adalah krisis epistemologi—krisis cara manusia mengenali, menimbang, dan menerima kebenaran. Manusia tidak lagi bingung karena tidak tahu, tetapi karena tidak jujur terhadap apa yang sudah ia ketahui.
Fenomena ini bukan hal baru. Al-Qur’an mengabadikan sejarah umat-umat terdahulu yang menyaksikan kebenaran secara nyata, namun tetap menolaknya. Mukjizat dihadirkan, hujjah ditegakkan, rasul diutus dengan akhlak dan bukti yang terang. Namun apa yang terjadi?
Kebenaran ditawar, ditunda, dinegosiasikan dengan hawa nafsu.
Bani Israil melihat laut terbelah, tetapi setelah itu masih bertanya dan membantah. Kaum ‘Ad dan Tsamud menyaksikan peringatan, namun kesombongan membuat mereka merasa paling benar. Bahkan di sekitar para nabi, selalu ada orang-orang yang mengetahui kebenaran, tetapi memilih menolaknya karena tidak sesuai kepentingan, tradisi, atau gengsi diri.
Inilah penyakit lama yang kini menjelma dengan wajah baru.
Jika dahulu kebenaran ditolak karena berhala batu, hari ini ia ditolak karena berhala akal yang sombong, ego intelektual, dan kepentingan pribadi. Jika dahulu kebenaran dilawan dengan pedang, hari ini ia dilemahkan dengan narasi: “relatif”, “subjektif”, “tergantung sudut pandang”.
Dunia modern tidak kekurangan data, tetapi kekurangan kejujuran batin. Banyak orang tahu mana yang benar, namun tidak siap menanggung konsekuensi dari kebenaran itu. Maka kebenaran pun ditawar:
“Sedikit saja.”
“Nanti dulu.”
“Yang penting niat baik.”
Padahal iman tidak runtuh karena kebodohan semata, tetapi karena ketidakjujuran terhadap nurani.
Tahun baru sejatinya bukan tentang resolusi duniawi, tetapi tentang keberanian menata ulang cara pandang. Apakah kita masih menjadikan wahyu sebagai standar kebenaran, atau sekadar pelengkap yang dipakai saat menguntungkan? Apakah kita benar-benar mencari kebenaran, atau hanya mencari pembenaran?
Al-Qur’an tidak menuduh manusia karena kurang cerdas, tetapi karena mengetahui lalu berpaling. Di situlah letak krisis epistemologi yang paling berbahaya: ketika hati menolak tunduk, meski akal sudah mengakui.
Maka, refleksi dari 2025 menuju 2026 bukan sekadar evaluasi amal lahiriah, tetapi audit kejujuran batin. Sejauh mana kita jujur pada Allah, pada kebenaran, dan pada diri sendiri? Sebab keselamatan bukan milik orang yang paling banyak tahu, melainkan milik mereka yang paling jujur menerima kebenaran dan bersedia tunduk kepadanya.
Semoga tahun yang baru bukan hanya menambah usia, tetapi mengembalikan kejernihan cara pandang. Dari menawar kebenaran, menuju berserah pada kebenaran. Dari membela ego, menuju tunduk pada cahaya wahyu.
Admin: Kominfo DDII Jatim
Editor: Sudono Syueb
