Belakangan ini, publik diramaikan oleh berita mengenai merosotnya nilai Tes Kemampuan Akademik (TKA) di bidang matematika bagi siswa tingkat SMA. Fenomena ini memicu diskusi hangat mengenai kualitas pendidikan nasional.
Dewandakwahjatim.com, Jakarta– Menanggapi isu tersebut, praktisi pendidikan Dr. Adian Husaini memberikan perspektif mendalam yang menghubungkan capaian akademik dengan dimensi spiritual dan pembentukan karakter siswa.
Evaluasi Internal dan Faktor Penyebab
Berdasarkan keterangan dari otoritas pendidikan, hasil rata-rata nilai tersebut saat ini masih dalam proses penyampaian secara bertahap. Informasi ini tidak bersifat konsumsi publik secara luas, melainkan diberikan secara khusus kepada siswa, sekolah, dan pemerintah daerah sebagai bahan evaluasi internal.
Beberapa faktor diduga menjadi penyebab penurunan nilai tersebut, mulai dari kualitas buku teks hingga metode pengajaran yang digunakan di kelas. Namun, kementerian menekankan pentingnya melakukan evaluasi menyeluruh daripada sekadar berspekulasi, mengingat banyaknya variabel yang memengaruhi hasil belajar siswa di lapangan.
Riset Menarik: Tujuh Sunah Nabi dan Kemampuan Berpikir Tinggi
Di tengah upaya mencari solusi atas masalah ini, Dr. Adian Husaini menyoroti sebuah penelitian akademis yang relevan. Sebuah disertasi doktor di Universitas Ibnu Khaldun Bogor yang disusun oleh Raden Ridwan Hasan Saputra—seorang pakar dan pelatih Olimpiade Matematika internasional—mengungkap temuan menarik tentang hubungan antara praktik spiritual dan kemampuan intelektual.
Penelitian tersebut menemukan adanya korelasi positif antara pengamalan tujuh amalan sunah dengan peningkatan Higher Order Thinking Skills (HOTS) atau kemampuan berpikir tingkat tinggi, khususnya di bidang matematika. Tujuh amalan tersebut meliputi:
- Shalat Tahajud dan Witir
- Shalat Berjamaah
- Sedekah
- Shalat Duha
- Membiasakan Berwudu
- Puasa Senin-Kamis
- Tadabur Al-Qur’an”
Logika Kesalehan dan Prestasi
Dr. Adian menjelaskan bahwa meskipun penelitian ini tidak secara kaku menyatakan hubungan sebab-akibat yang absolut, terdapat logika pendidikan yang rasional di baliknya. Anak-anak yang terbiasa menjalankan amalan tersebut cenderung memiliki kedisiplinan tinggi, akhlak yang baik, dan kondisi psikologis yang tenang.
“Dalam suasana psikologi yang stabil dan penuh keberkahan, anak akan lebih mudah mencintai ilmu dan fokus dalam belajar. Kesalehan sama sekali tidak menghalangi prestasi akademik; justru bisa menjadi fondasi yang kuat bagi kecerdasan intelektual,” ungkapnya.
Mengembalikan Tujuan Pendidikan Nasional
Lebih jauh, Dr. Adian mengingatkan agar sistem pendidikan nasional kembali berpegang teguh pada amanat konstitusi dan UU Sisdiknas. Tujuan utama pendidikan adalah meningkatkan keimanan, ketakwaan, dan akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa.
Ia mengusulkan agar ke depannya, standar evaluasi siswa tidak hanya bertumpu pada kemampuan akademik murni sepert matematika. Bagi siswa muslim, tes kemampuan membaca Al-Qur’an, praktik ibadah shalat, dan penilaian perilaku (akhlak) seharusnya menjadi indikator keberhasilan yang setara pentingnya.
Penutup: Pintar dan Benar
Matematika tetap merupakan ilmu yang penting, bahkan dalam perspektif Islam dapat dikategorikan sebagai ilmu yang bermanfaat bagi kemaslahatan umum (fardu kifayah). Namun, orientasi pendidikan diharapkan tidak hanya melahirkan anak-anak yang “pintar” secara angka, tetapi juga menjadi orang “baik” secara karakter.
Harapan besarnya adalah lahirnya generasi yang tidak hanya unggul di lembar ujian, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi keluarga, masyarakat, dan bangsa melalui integritas moral dan kecerdasan yang mereka miliki.
Sumber : adianhusaini.id
Link: https://youtu.be/jGv4I5WOFK8
Admin: Kominfo DDII Jatim
Editor: Sudono Syueb
