Menyelaraskan Biologi Otak dengan Tuntutan Kerja Era Digital

by Kusnadi, Pengurus DDII Pusat

DI TENGAH deru revolusi digital dan bayang-bayang kecerdasan buatan (artificial intelligence), manusia modern terjebak dalam sebuah paradoks produktivitas.

Dewandakwahjatim.com, Jakarta– Kita bekerja lebih panjang, terhubung lebih lama, dan memproses informasi lebih banyak daripada generasi sebelumnya. Namun, alih-alih pencapaian yang lebih tinggi, yang kerap dituai justru kelelahan kronis (burnout) dan penurunan kreativitas.

Kita sering kali memaksakan otak biologis yang berevolusi di sabana purba untuk bekerja dengan ritme mesin digital yang linear dan tanpa henti. Di titik inilah Dr. Mithu Storoni, seorang dokter medis sekaligus peneliti neurosains, hadir melalui karya terbarunya, Hyperefficient: Optimize your brain to transform the way you work.

Buku ini bukan sekadar kumpulan kiat manajemen waktu. Lebih dari itu, Storoni menawarkan sebuah manifesto neurobiologis untuk mendefinisikan ulang cara kita bekerja di abad ke-21. Tesis utamanya menohok: model kerja “ban berjalan” peninggalan Revolusi Industri sudah usang. Di era ekonomi pengetahuan, nilai seorang pekerja tidak lagi diukur dari durasi ia duduk di depan layar, melainkan dari kualitas pemikiran, ketajaman analisis, dan letupan inovasinya.

Melampaui Paradigma Mesin


Storoni memulai narasinya dengan membedah kekeliruan fundamental dalam budaya kerja korporat saat ini. Kita memperlakukan otak seolah-olah ia adalah hard drive yang bisa terus diisi, atau mesin uap yang bisa terus dipacu selama bahan bakarnya ada. Padahal, otak adalah organ biologis yang bekerja berdasarkan ritme.

Penulis menggunakan analogi otomotif yang cerdas untuk menjelaskan fungsi kognitif. Ia membagi mode kerja otak ke dalam beberapa “gigi” (gears). Ada “gigi rendah” untuk pekerjaan analitis yang membutuhkan detail dan logika ketat. Ada “gigi tinggi” untuk pemikiran asosiatif, kreatif, dan melihat gambaran besar. Serta, yang tak kalah penting, “gigi netral” untuk istirahat dan konsolidasi memori.

Masalah timbul ketika kita mencoba melakukan pekerjaan kreatif (gigi tinggi) dengan pola pikir dan lingkungan kerja yang dirancang untuk pekerjaan repetitif (gigi rendah), atau sebaliknya. Pemaksaan ini tidak hanya memboroskan energi mental, tetapi juga menghasilkan output yang medioker.

Relevansi di Era AI


Salah satu kekuatan terbesar buku ini terletak pada konteks zamannya. Storoni secara jeli mengaitkan neurosains dengan tantangan AI. Ketika algoritma semakin mahir menangani tugas-tugas prosedural dan rutin, keunggulan kompetitif manusia tersisa pada kemampuan yang sulit ditiru mesin: kreativitas kompleks, empati, dan pemecahan masalah yang out-of-the-box.

Buku ini memberikan panduan praktis—berbasis biologi, bukan sekadar motivasi—tentang bagaimana mengondisikan tubuh dan lingkungan untuk memfasilitasi kinerja otak tersebut. Mulai dari pengaturan pencahayaan, asupan nutrisi untuk memicu neurotransmiter tertentu (seperti dopamin atau noradrenalin), hingga pentingnya menyelaraskan tugas berat dengan ritme ultradian alami tubuh.

Kritik dan Tantangan


Meski menawarkan peta jalan yang meyakinkan, gagasan Storoni bukannya tanpa tantangan implementasi. Konsep “mengatur ritme kerja sesuai biologi” mensyaratkan tingkat otonomi yang tinggi. Bagi pekerja lepas atau eksekutif puncak, ini mungkin mudah diterapkan. Namun, bagi pekerja korporat dengan jam kerja kaku dan pengawasan ketat, strategi ini mungkin berbenturan dengan realitas birokrasi.

Selain itu, penjelasan teknis mengenai mekanisme otak di beberapa bab awal mungkin terasa agak berat bagi pembaca awam, meski hal ini justru menunjukkan ketatnya basis ilmiah yang digunakan penulis.

Penutup


Hyperefficient adalah bacaan wajib yang menyegarkan di tengah gempuran buku-buku self-help yang sering kali dangkal. Storoni berhasil meyakinkan pembaca bahwa menjadi efisien bukan berarti bekerja lebih keras bak robot.

Justru sebaliknya, efisiensi puncak tercapai ketika kita berhenti melawan biologi kita dan mulai bekerja selaras dengannya.

DATA BUKU

Judul: Hyperefficient: Optimize your brain to transform the way you work

Penulis: Dr. Mithu Storoni

Penerbit: Little, Brown Spark

Tahun Terbit: 2024

Tebal: 304 Halaman

Genre: Bisnis/Sains Populer

Sumber: https://wartapilihan.com/menyelaraskan-biologi-otak-dengan-tuntutan-kerja-era-digital/

Admin: Kominfo DDII Jatim

Editor: Sudono Syueb

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *