Oleh : Nofa Miftahudin
Alumni YTP 2008
Dewandakwahjatim.com, Malang – Pernahkah kita merasa dulu semangat itu begitu menyala?. Dulu, setiap kali ada kegiatan dakwah, sosial, atau kajian, kitalah yang paling dulu datang. Kalau ada seruan, cepat-cepat kita jawab, “Siap, ana ikut!”
Namun kini, entah sejak kapan semangat itu mulai memudar. Langkah terasa berat, panggilan amanah terasa beban, dan hati yang dulu bergetar karena Allah… kini terasa datar. Ya, rasa itu telah ambyar.
Kita semua pernah melewati masa itu, masa ketika hijrah terasa manis, ketika setiap membaca ayat Al-Qur’an meneteskan air mata, ketika melihat teman semangat berdakwah membuat hati ikut bergetar.
Kita merasa sedang menapaki jalan yang benar. Kita ingin berubah, ingin menjadi bagian dari perjuangan Rasulullah SAW di zaman ini.
Namun, perjalanan dakwah tidak selalu semudah awalnya. Waktu berjalan, ujian datang, kecewa karena manusia, dan lelah yang menumpuk… Pelan-pelan membuat semangat itu luntur.
Rasa itu mulai pudar bukan karena dakwahnya salah arah,
tapi karena hati kita mulai berpaling dari tujuan awal. Atau sebagai muhasabah diri kita, boleh jadi Rasa Itu Telah Ambyar karena maksiat telah menyambar kita tanpa sadar.
Dulu kita berjuang karena Allah, kini kadang kita bertahan karena manusia. Dulu hadir untuk menebar manfaat, kini sekadar menunaikan formalitas.
Padahal Allah telah mengingatkan dalam firman-Nya:
قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
“Katakanlah: Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.” (QS. Al-An‘am [6]: 162)
Ayat ini seakan menampar lembut hati kita bahwa semua perjuangan, semua aktivitas, seharusnya kembali pada satu tujuan: Allah semata. Lalu, Bagaimana mengembalikannya, supaya rasa itu tidak ambyar?
- Perbaharui Niat Dan Ingatlah Ni’mat Manisnya Iman yang Pernah Kita Rasakan
Ambil waktu sejenak untuk bertanya pada diri sendiri:
“Aku berjuang ini karena siapa?”
Imam Ibnul Qayyim berkata:
مَنْ أَصْلَحَ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ اللَّهِ أَصْلَحَ اللَّهُ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ النَّاسِ
“Barangsiapa memperbaiki hubungannya dengan Allah, maka Allah akan memperbaiki hubungannya dengan manusia.”
(Madarij As-Salikin, 2/91)
Kalau niat kita lurus karena Allah, lelah pun akan berubah menjadi lillah. Serta ingat-ingatlah ni’mat manisnya iman yang dulu pernah kita rasakan. Begitu merasakan ni’mat membaca Al Qur’an, begitu ni’mat ketika dalam pelukan dakwah bersama, ingatlah ni’mat ukhuwah islamiyah yang terukir indah, ingatlah derasnya air mata bahagia ketika menemukan kebenaran dan masih banyak bila disebutkan. Dengan mengingat-ingat ni’mat dan mensyukurinya semoga Allah menumbuhkan rasa sehingga dapat merasakan manisnya iman kembali.
- Dekat Lagi dengan Sumber Energi: Iman
Semangat dakwah tidak lahir dari motivasi luar, tapi dari iman di dalam dada. Hati yang jarang diisi dzikir dan ilmu akan cepat kering. Maka kembalilah pada sumber energi sejati : Al-Qur’an dan shalat adalah boster iman untuk kita. Allah berfirman :
اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ
“Mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat.”
(QS. Al-Baqarah [2]: 45)
Shalat dan kesabaran adalah dua “charger spiritual” bagi seorang aktivis dakwah.
Tanpanya, semangat akan mudah padam.
- Dekat dengan Teman yang Mengingatkan
Kita semua butuh teman seperjuangan yang saling meneguhkan.
Karena iman itu naik dan turun, maka Allah perintahkan kita untuk terus saling menguatkan. Allah Ta’ala mengingatkan :
وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ
“Dan mereka saling berpesan untuk berpegang pada kebenaran dan saling berpesan untuk tetap bersabar.” (QS. Al-‘Ashr [103]: 3)
Lingkungan yang shalih akan menjaga hati agar tetap istiqamah, meski rasa kadang goyah.
- Ingat Tujuan Akhir
Dakwah bukan tentang siapa yang paling sering tampil di depan,
tapi siapa yang paling kuat bertahan hingga akhir.
Rasulullah SAW bersabda:
أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ
“Amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah yang paling terus-menerus meskipun sedikit.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Allah tidak menuntut kesempurnaan, tapi konsistensi dan ketulusan.
Sahabat fillah…
rasa Ambyar itu boleh jadi pernah menyambar, tapi jangan biarkan terus menerus sehingga iman menjadi terlantar. Karena Allah masih menatap kita dengan kasih, masih membuka pintu untuk kembali, masih ingin melihat kita berjuang dengan hati yang ikhlas.
Mungkin semangat kita kini meredup, tapi percayalah api kecil yang kau jaga karena Allah, akan Allah tiup kembali hingga menyala besar.
إِنَّ اللَّهَ لَا يُضِيعُ أَجْرَ الْمُحْسِنِينَ
“Sesungguhnya Allah tidak akan menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.”
(QS. At-Taubah [9]: 120)
Bangkitlah, Sahabat fillah. Perjalanan ini belum selesai. Allah masih menunggumu di setiap langkah yang tulus. Teruslah melangkah bukan karena siapa-siapa, tapi karena Dia yang selalu menjaga hatimu agar tetap hidup di jalan kebaikan.
Semoga Allah Ta’ala senantiasa menjaga hati kita tetap berkobar dalam keimanan, ikhlas dan istiqomah dalam setiap kebaikan. Aamiin yaa Robb
Admin: Kominfo DDII Jatim
Editor: Sudono Syueb
