NKRI Harga Mati: Tapi Siapa yang Membunuhnya Pelan-Pelan?

Oleh Muhammad Hidayatulloh, Wakil Ketua Bidang PSQ DDII Jatim, Kepala Pesantren Kader Ulama Pondok Pesantren Islamic Center (PPIC) Elkisi Mojosari, Mojokerto, Jawa Timur dan Penulis buku Geprek! Resep Anti Galau Rahasisa Hidup

Dewandakwahjatim.com, Surabaya – Di negeri ini, tiga kata sering terdengar gagah: NKRI Harga Mati. Tapi yang membuat hati miris adalah: yang paling sering berteriak justru kadang menjadi orang pertama yang mengebiri maknanya.
Sebab kalau NKRI benar-benar harga mati, mengapa kekayaan negeri ini dirampok hidup-hidup oleh tangan-tangan yang semestinya menjaga? Bagaimana mungkin kita memuja negeri, tetapi di waktu yang sama, kita menyayat-nyayat tubuhnya sendiri?

Indonesia ibarat ibu pertiwi—penuh kasih, penuh anugerah, penuh kekayaan. Tapi anugerah itu berubah luka karena ulah anak-anaknya yang rakus. Bukan musuh luar negeri. Bukan penjajah berseragam. Tapi pejabat tamak, pengusaha serakah, dan oknum yang menjual integritasnya dengan harga grosir.
Ketika hutan ditebang tanpa aturan. Ketika tambang digali tanpa ampun. Ketika sungai dibiarkan menjadi kuburan limbah. Ketika pulau-pulau kecil hilang dicuri satu per satu. Ketika anggaran negara digerogoti seperti rayap. Maka bukan hanya bumi yang rusak—hati manusianya lebih dulu mati.
Tidak heran jika firman Allah menggema dengan kebenaran yang menyentuh tulang:

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut karena perbuatan tangan manusia.” (Ar-Rūm: 41)

Ayat ini bukan cerita zaman dulu. Ini berita hari ini. Ini cermin kita. Banjir bukan sekadar hujan berlebih. Longsor bukan sekadar tanah yang lelah. Cuaca panas bukan sekadar musim ekstrem.

Itu semua adalah jawaban alam terhadap kerakusan manusia. Karena ketika manusia menjadikan bumi sebagai harta rampasan perang, bumi akan membalas dengan cara yang tidak pernah kita sangka.
Pertanyaannya sekarang: NKRI harga mati untuk siapa?

Untuk rakyat kecil yang saban hari keringatnya disedot pajak, tapi haknya disedot koruptor? Untuk petani yang ladangnya digusur? Untuk nelayan yang lautnya diracuni? Untuk anak-anak yang menghafal Pancasila, sementara para pemimpin menghafal celah-celah hukum?

Atau untuk pejabat rakus yang memperlakukan negeri ini seperti proyek pribadi? Jika NKRI benar-benar harga mati, mestinya:
• Integritas harga mati.
• Kejujuran harga mati.
• Pengawasan anggaran harga mati.
• Penegakan hukum harga mati.
Karena negeri tanpa integritas bukan negara—itu pasar gelap.

Banyak orang bangga berteriak cinta tanah air. Tapi cinta tanah air bukan soal seberapa lantang suara kita, melainkan seberapa bersih hati kita dari keinginan merampas.

Yang mencintai negeri akan bertanya:
“Apa yang bisa aku persembahkan untuk Indonesia?”
bukan
“Apa yang bisa aku rampas sebanyak-banyaknya dari negeri ini?”
Pertanyaan pertama adalah ruh hubbul wathan minal iman. Pertanyaan kedua adalah akar dari setiap skandal: dari korupsi, illegal logging, illegal fishing, perburuan jabatan, sampai proyek-proyek yang hanya menguntungkan segelintir orang.

Dan jangan lupa, Nabi sudah mengingatkan dengan kalimat yang seharusnya menjadi kompas moral seluruh pejabat di negeri ini:
خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.”

Sayangnya, sebagian orang berlomba menjadi yang paling mengambil manfaat dari rakyatnya. Kita tidak sedang menghadapi krisis politik. Kita sedang menghadapi krisis akhlak. Sumber daya alam bisa pulih, hutan bisa ditanam ulang, laut bisa dibersihkan— tapi ketika moral sudah keropos, negeri runtuh dari dalam.
NKRI harga mati bukan slogan. Itu sumpah. Itu amanah. Itu tanggung jawab yang akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah.

Karena negeri adalah titipan. Dan setiap titipan akan ditanya: “Apa yang kau lakukan dengannya?” Jika kita merusaknya, itu bukan hanya pengkhianatan pada bangsa— itu pengkhianatan pada Tuhan yang menitipkannya.

Hari ini, semoga kita mulai sadar: Indonesia tidak butuh lebih banyak pejabat pintar.
Indonesia butuh pejabat yang takut berbuat dosa. Indonesia tidak butuh lebih banyak aktivis yang orasinya keras. Indonesia butuh manusia yang hatinya jernih dan tangannya bersih. Indonesia tidak butuh slogan baru. Indonesia butuh jiwa-jiwa yang berani berkata:
“Cukup. Hari ini aku berhenti mengambil. Aku mulai memberi.”
Saat itu terjadi, barulah NKRI benar-benar harga mati. Bukan di mulut—tapi di hati, di akhlak, dan di tindakan.

Admin: Kominfo DDII Jatim

Editor: Sudono Syueb

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *