Oleh M. Anwar Djae lani
Dewandakwahkjatim.com, Surabaya – “Pak Presiden, 12 Hari Banjir Aceh Tidak Ada Bantuan dari Pemerintah Indonesia…”. Ini, judul berita pada 7 Desember 2025 di https://regional.kompas.com. Intinya, pengungsi korban banjir di Kecamatan Sawang, Kabupaten Aceh Utara, Provinsi Aceh mengeluhkan belum adanya bantuan dari pemerintah pusat hingga 12 hari pascabencana.
Di atas, hanya sebagian dari sangat banyak berita memprihatinkan di Sumatra. Ini, terkait banyaknya daerah di Sumatra yang dilanda banjir bandang dan longsor pada 24/11/2025. Korban jiwa dan harta-benda, tak sedikit. Kita patut menunduk. Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.
Dari berita yang beredar; Dalam musibah ini ratusan orang wafat, ribuan orang luka-luka, lebih satu juta jiwa yang terdampak, dan banyak warga yang mengungsi. Juga, ada ribuan rumah rusak, ratusan fasilitas pendidikan rusak, dan ratusan jembatan rusak. Ada puluhan kabupaten yang terdampak.
Ini musibah besar. Musibah adalah kejadian (peristiwa) menyedihkan yang menimpa. Musibah adalah malapetaka atau bencana (https://kbbi.web.id/musibah, akses 07/12/2025 pukul 08.54).
Kita sedih atas musibah ini. Kita doakan semoga yang terdampak diberi Allah kekuatan iman dan kesabaran. Di saat yang sama, berbagai bantuan patut diulurkan kepada saudara-saudara kita yang pasti membutuhkannya.
Adapun hal lain yang mesti juga ada adalah perhatian dan kehadiran pemimpin. Mengapa itu penting? Mengapa itu perlu?
Dua Kisah
Kata Hamka di buku Falsafah Hidup, pandai menarik hati dan pintar membalas jasa serta cakap menata hati yang terasa renggang dengan orang lain, termasuk sendi-sendi muru’ah (harga diri). Hal yang demikian, tak dapat kita abaikan. Dengan sikap-sikap yang telah disebut tadi, kita bisa memperbanyak kawan. Kita bisa mengundang simpati banyak orang.
Sebaliknya, barangsiapa yang tidak pandai menghargai jasa dan tidak pula sanggup menjalin hati yang telah renggang, niscaya dia akan hidup terpencil. Orang yang seperti ini tidak pandai menjalin hubungan baik dan hanya pandai membuat jarak. Orang yang sejenis ini tidak tahu kepayahan orang lain sehingga jerih-payah orang tidak berharga pada pandangannya. Orang seperti ini hanya tuturnya saja yang mesti didengarkan orang lain, sementara tutur orang lain tidak dia dengarkan. Sesudahnya, yang terjadi, hanya dia sendiri yang bicara dan orang lain diam sambil menggangguk-angguk. Bukan mengangguk tanda setuju, tetapi mengangguk sambil berharap mudah-mudahan lekas berhenti dia berbicara dan tidak usah disambung lagi.
Kalau tidak sanggup menarik hati orang dengan harta, maka tariklah hatinya dengan lisan yang manis. Dalam hal ini, lisan yang manis kadang-kadang lebih mahal dari harta. Lisan yang bisa menyenangkan orang lain sering lebih mahal dari benda-benda berharga (2002: 248).
Hamka lalu merujuk kepada dua kisah. Tentang dua presiden yang berperforma manis di depan rakyatnya yang sedang prihatin bahkan menderita. Kisah pertama tentang George Washington, tokoh yang kemudian menjadi presiden Amerika yang pertama (yaitu pada periode 1789–1797). Kisah kedua terkait Mustafa Ismet Inounou, presiden Turki kedua (periode 1938-1950).
Ikut Merasakan
Ini kisah pertama. Washington, yang lahir pada 1732 dan wafat pada 1799, pada suatu hari melihat serdadu Amerika mengangkat kayu-kayu berat di tengah rimba ketika terjadi perang kemerdekaan Amerika. Ada kayu besar yang belum juga selesai dipindahkan karena terlalu besar. Para serdadu kelihatan malas untuk meneruskan pekerjaan itu.
Dengan diam-diam, tidak bicara sepatah juga, Washington pergi ke tengah para serdadu. Dia turut mengangkat bersama-sama mereka. Semua serdadu merasa mendapat tenaga baru. Mereka bersorak, gembira, karena Kepala Perang sendiri yang turut bekerja bersama-sama. Sang Pemimpin tidak hanya menyuruh-nyuruh dan menunjuk-nunjuk dari jauh saja (2002: 248).
Empati Tulus
Berikutnya, kisah kedua. Ismet Inounou, yang lahir pada 1884 dan wafat pada 1973, punya performa kejujuran. Ini terlihat ketika terjadi gempa bumi di Turki. Dia pergi ke daerah yang ditimpa gempa.
Didatanginya orang-orang yang kehilangan rumah. Kepada mereka ditunjukkan mukanya yang sedih. Dia menyapa semua anak-anak. Dia menemui perempuan-perempuan yang sedang ditimpa kesusahan.
Seorang perempuan tua berdiri menggapai Ismet, sambil mengadukan hal yang dideritanya. Sikapnya seperti seorang anak yang sedang mengadu kepada sang ayah. Ismet dengan hati terharu meminta agar perempuan tua itu bersabar. Atas pemandangan itu, para pengawal presiden termenung melihat bagaimana kejujuran hati dan air muka sang pemimpin saat berada di desa-desa yang sedang menghadapi kesulitan hidup (2002: 248).
Muka Manis
Hamka menutup uraian dua kisah di atas dengan mengutip pepatah orang tua-tua:
Tak usah kami diberi kain/
dipakai kain akan luntur/
Tak usah kami diberi nasi/
dimakan nasi akan habis/
Berilah kami hati yang suci, muka jernih/
budi dibawa mati (2002: 249).
Dua kisah yang disampaikan Hamka dan pepatah yang dikutip Hamka di buku Falsafah Hidup di atas, terasa sangat relevan jika kita hayati di hari-hari ini. Hari-hari ketika warga Sumatra menderita karena banjir bandang dan longsor. Juga, di hari-hari ketika warga di sekitar Gunung Semeru sedang menghadapi musibah karena erupsinya yang berkali-kali.
Datanglah, Bersamalah!
Pemimpin, datangilah warga yang sedang mendapat musibah atau bencana! Sapalah warga dengan manis! Dekatilah mereka dengan muka jernih! Berilah mereka semangat bahwa insya Allah keadaan akan terus membaik. Terus membaik, bersama perhatian dan bantuan semua pihak.
Sungguh, dua kisah yang dituturkan Hamka di atas berharga. Dua kisah, yang bisa menginspirasi kita dalam berbuat baik kepada sesama terutama kepada rakyat yang kita pimpin. Allahu Akbar, alhamdulillah! []
Admin: Kominfo DDII Jatim
Editor: Sudono Syueb
