Kehidupan Bernegara Berbasis Profetik dan Bonus Kekuasaan

Oleh Dr. Slamet Muliono Redjosari, Wakil Ketua Bidang MPK DDII Jatim

Dewandakwahjatim.com, Surabaya – Kekuasaan yang kokoh hanya terwujud ketika menjadikan Allah sebagai satu-satunya sandaran. Hal ini berkonsekuensi bahwa hukum-hukum Allah dijadikan sebagai alat untuk menegakkan keadilan. Artinya, dalam mengambil kebijakan, para elite senantiasa mendasarkan dan merujuk pada apa yang diperintahkan dan dilarang Allah. Umat Islam pun mengagungkan kitab sucinya serta ikhlas menerapkannya dalam kehidupan bernegara. Ketika duakutub ini sepakat, maka kekuasaan sebagai bonus sekaligus hadiah besar dari Allah.

Muhajirin-Anshar

Dalam sejarah Islam, terlihat jelas ketika periode Madinah, dimana masyarakat Anshar dan Muhajirin bersatu menjalankan hukum Allah dengan kesadaran penuh, mengagungkan Allah, tanpa menduakan-Nya (loyalitas ganda), maka kekuasaan tumbuh dengan sendirinya. Rasulullah tidak membangun negara melalui kekerasan ataupun ambisi pribadi, tetapi melalui penerimaan tulus masyarakat terhadap wahyu sebagai landasan hidup. Hasilnya, tiga dekade berikutnya melahirkan peradaban yang kuat, adil, dan berpengaruh hingga melampaui wilayah Jazirah Arab. Inilah bonus kekuasaan sebagai perwujudan janji Allah atas komunitas yang berjuang menegakkan tauhid, sebagaimana firman-Nya :

وَعَدَ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْ وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ لَـيَسْتَخْلِفَـنَّهُمْ فِى الْاَ رْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِهِمْ ۖ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِيْنَهُمُ الَّذِى ارْتَضٰى لَهُمْ وَلَـيُبَدِّلَــنَّهُمْ مِّنْۢ بَعْدِ خَوْفِهِمْ اَمْنًا ۗ يَعْبُدُوْنَنِيْ لَا يُشْرِكُوْنَ بِيْ شَيْـئًــا ۗ وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذٰلِكَ فَاُ ولٰٓئِكَ هُمُ الْفٰسِقُوْنَ
“Allah telah menjanjikan kepada orang-orang di antara kamu yang beriman dan yang mengerjakan kebajikan, bahwa Dia sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka dengan agama yang telah Dia ridai. Dan Dia benar-benar mengubah (keadaan) mereka, setelah berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka (tetap) menyembah-Ku dengan tidak menyekutukan-Ku dengan sesuatu pun. Tetapi barang siapa (tetap) kafir setelah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (QS. An-Nur : 55)

Ayat ini menjelaskan bahwa kekuasaan bukanlah tujuan, tetapi akibat dari iman yang murni, amal salih, dan tauhid yang bersih. Allah menjanjikan kekhalifahan, tegaknya agama, dan keamanan bagi masyarakat yang tunduk sepenuhnya kepada-Nya. Kunci utamanya adalah “لا يشركون بي شيئا”—tidak menyekutukan Allah dalam aspek apa pun, termasuk dalam ketaatan politik dan penetapan hukum.


Contoh konkret, kekokohan Dinasti Umar bin Abdul Aziz tidak lahir dari kekuatan militer atau kekayaan ekonomi, tetapi dari ketauhidan yang bersih. Ketika Umar bin Abdul Aziz memurnikan kembali penerapan hukum Allah dengan menghentikan korupsi, mengembalikan harta negara, dan menegakkan keadilan, maka Allah menurunkan keberkahan pada rakyat dan negaranya. Sejarawan mencatat bahwa pada masa singkat kepemimpinannya, hampir tidak ditemukan mustahik zakat karena semua kebutuhan rakyat terpenuhi. Inilah bukti nyata bahwa tauhid melahirkan stabilitas, dan stabilitas menghadirkan kekuasaan yang kokoh.

Kepemimpinan Amanah

Untuk menopang kokohnya negara, maka dibutuhkan kriteria pemimpin. Setidaknya ada dua syarat penting seorang pemimpin, yakni, keluasan ilmu dan kekuatan fisik. Ketika negara dipimpin oleh pemimpin yang berilmu, maka dia mengetahui baik buruk, sehingga kebijakannya akan membawa kebaikan. Sementara fisik yang prima akan mudah untuk menggerakkan rakyatnya.
Thalut merupakan contoh pemimpin bukan karena keturunan bangsawan atau harta kekayaan, tetapi karena kecakapannya dalam pengetahuan dan kebugaran fisik yang memadai untuk memimpin. Sehingga di bawah kepemimpinnya bisa meruntuhkan musuh yang banyak dan kuat. Hal ini diabadikan Al-Qur’an sebagaimana firman-Nya :

وَقَا لَ لَهُمْ نَبِيُّهُمْ اِنَّ اللّٰهَ قَدْ بَعَثَ لَـکُمْ طَا لُوْتَ مَلِكًا ۗ قَا لُوْۤا اَنّٰى يَكُوْنُ لَهُ الْمُلْكُ عَلَيْنَا وَنَحْنُ اَحَقُّ بِا لْمُلْكِ مِنْهُ وَلَمْ يُؤْتَ سَعَةً مِّنَ الْمَا لِ ۗ قَا لَ اِنَّ اللّٰهَ اصْطَفٰٮهُ عَلَيْکُمْ وَزَا دَهٗ بَسْطَةً فِى الْعِلْمِ وَ الْجِسْمِ ۗ وَا للّٰهُ يُؤْتِيْ مُلْکَهٗ مَنْ يَّشَآءُ ۗ وَا للّٰهُ وَا سِعٌ عَلِيْمٌ
“Dan Nabi mereka berkata kepada mereka, “Sesungguhnya Allah telah mengangkat Talut menjadi rajamu.” Mereka menjawab, “Bagaimana Talut memperoleh kerajaan atas kami, sedangkan kami lebih berhak atas kerajaan itu darinya dan dia tidak diberi kekayaan yang banyak?” (Nabi) menjawab, “Allah telah memilihnya (menjadi raja) kamu dan memberikan kelebihan ilmu dan fisik.” Allah memberikan kerajaan-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki dan Allah Maha Luas, Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah : 247)

Contoh relevan dapat dilihat pada kepemimpinan Salahuddin Al-Ayyubi. Ia bukan hanya ahli strategi dan pakar ilmu militer, tetapi juga memiliki fisik kuat yang menopang keteguhan mentalnya. Dengan dua kualitas tersebut, ia berhasil menyatukan umat, memulihkan martabat politik Islam, dan merebut kembali Yerusalem tanpa melakukan pembantaian terhadap penduduk sipil. Ilmu dan fisik menjadi instrumen kepemimpinan profetik yang mengarah pada kemenangan dan legitimasi kekuasaan.

Hal ini menegaskan bahwa kepemimpinan yang membawa negara pada kejayaan tidak cukup dengan ketakwaan spiritual saja, tetapi harus dilengkapi kompetensi intelektual dan ketangguhan fisik. Kemenangan bukan ditentukan oleh jumlah pasukan atau kekuatan logistik, tetapi oleh kesabaran, keteguhan iman, dan kepatuhan terhadap perintah Allah. Thalut berhasil memenangkan pertempuran melawan Jalut bukan karena jumlah tentaranya, tetapi karena sebagian kecil pasukan yang beriman teguh mampu menghadapi ketakutan, godaan, dan ujian.

Fondasi profetik dalam kehidupan bernegara, tauhid, kepemimpinan berbasis ilmu dan ketangguhan fisik, serta kesabaran dan komitmen kolektif merupakan penentu kemenangan. Ketika masyarakat rela dan ikhlas menerapkan syariah secara tulus dalam urusan publik, maka kekuasaan yang datang bukanlah hasil rekayasa politik, tetapi bonus dari Allah. Pemerintahan yang berdiri di atas prinsip-prinsip profetik akan kokoh karena ia bersandar pada sumber legitimasi tertinggi. Keamanan, stabilitas, dan keberkahan bukan hanya mungkin terwujud, tetapi menjadi konsekuensi logis dari komitmen kolektif pada hukum Allah.

Sebaliknya ketika hilang basis profetik, maka kepemimpinan akan dikendalikan oleh kepentingan duniawi, melanggengkan kekuasaan dan menumpuk. Bukannya bonus kekuasaan dan keberkahan, tetapi justru bencana dan malapetaka. Banjir, tanah longsor dan bencana alam berakar dari kepemimpinan yang tidak hanya jauh dari nilai-nilai profetik tetapi dominasi kepemimpinan berorientasi dunia yang berorientasi kekuasaan dan menumpuk harta.

Surabaya, 4 Desember 2025

Admin: Kominfo DDII Jatim

Editor: Sudono Syueb

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *