Oleh: Akbar Muzakki
Dewandakwahjatim.com, Surabaya – Ketika angin meliuk-liuk di udara hingga menyapu daratan. Pohon-pohon tumbang, rumah-rumah rubuh dan ada yang hancur. Lalu lintas kendaraan berhenti karena terhadang pohong yang roboh menghalangi jalan. Bersamaan angin kencang, hujan pun menetes dari atas membasahi bumi. Tak lama kemudian bumi tak mampu menyerap air. Mengalirlah air menjadi banjir. Air tak tertampung di sungai, danau maupun daratan yang luas. Bandang pun meluluhlantakkan hutan, taman, rumah dan jalanan.
Apa kata manusia? Cuaca lagi tak bersahabat. Sungguh jawaban yang congkak. Manusia enggan menuduh dirinya berbuat keangkuhan alam. Malah alam jadi tertuduh.
Allah telah mengingatkan manusia janganlah kamu membuat kerusakan di bumi. Lihat surat Al Araf ayat 56, Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah Allah memperbaikinya dan berdoalah kepadanya dengan rasa takut dan harapan. Sungguh Rahmat Allah amat dekat kepada orang yang berbuat baik.
Manusia masih saja mengatakan cuaca lagi ekstrem. Ada perubahan cuaca global. Dan sepertinya selalu menyalahkan alam. Padahal manusia sendiri yang lalai atas kelakuannya terhadap alam dan lingkungannya.
Peringatan yang nyaris tak digubris penghuni bumi. Dengan alasan mengekplorasi sumber daya alam untuk kesejahteraan. Sisi lain dampak eksplorasi tak pernah mendapatkan perhatian serius. Gunung menjulang tinggi pun telah disulap menjadi ceruk piramida ke bawah yang dalam. Sementara sisir daratan area eksplorasi tak lagi ada hutan lindung, apalagi hutan produksi. Gersang , tandus dan kering lagi panas disertai dengan dering alat produksi dan dentuman bom untuk eksploitasi berikutnya.
Masihkah manusia abai dan tak mau memperbaiki diri, sebagaimana ajakan Allah.
“Dan suatu tanda kekuasaan Allah yang besar bagi mereka adalah bumi yang mati. Kami hidupkan bumi itu dan Kami keluarkan daripadanya biji-bijian, maka dari padanya mereka makan. Dan kami jadikan padanya kebun kurma dan anggur dan Kami pancarkan padanya beberapa mata air, supaya mereka dapat makan dari buahnya, dan dari apa yang diusahakan oleh tangan mereka. Maka mengapakah mereka tidak bersyukur.”
Ya, salah satu rasa syukur yang semestinya dilakukan manusia penduduk bumi adalah menyeimbangkan eksplorasi dengan kekayaan alam dengan reboisasi dan sejenisnya. Dan tak menghambat eksplorasi itu dengan menutup sumber mata air. Meski dengan dalih sumber air itu untuk minum dan air isi ulang. Namun betapa banyak tak jauh dari ekplorasi sumber air, sumber air penduduk menjadi berkurang bahkan mengering. Itu karena eksplorasi yang telah melampaui batas.
Apakah kamu tiada mengetahui bahwa kepada Allah bersujud apa ya g ada di langit, bumi, matahari, bulan, bintang gunung, pohon-pohonan, binatang-binatang melata dan sebagian besar daripada manusia. Dan banyak diantara manusia ya g telah ditetapkan azab atasnya. Dan barangsiapa yang dihinakan Allah, maka tidak seorangpun yang memuliakannya. Sungguh Allah berbuat apa yang Dia kehendaki.” (Al Hajj 18)
Sungguh bencana kali menjadikan diri kita harus segera introspeksi dan memohon ampunan Allah atas kelalaian dan sembrononya manusia dalam mengeksplorasi alam. Oleh karenanya kita mesti mendudukan secara proporsional.
- Bahaya harus dihilangkan sesuai dengan kadar kemampuannya.
- Bahaya jangan dihilangkan dengan bahaya
- Bahaya harus dicegah menurut kadar kemampuan
- Mencegah bahaya lebih diutamakan daripada mengambil manfaat
“Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala tanpa batas. (Az Zumar 10)
Saatnya manusia tak lagi sombong dan bersyukurlah atas kehendak Allah dengan mencukupkan dan tak melampaui batas.
Apa yang semestinya dilakukan oleh Dewan Da’wah dalam menyikapi bencana, selain taawun sesama manusia. Yaitu menggerakkan program reboisasi bersama pemerintah atau perubahan eksplorasi. Menyiapkan bibit-bibit tanaman produktif. Mengedukasi dai dan masyarakat bahwa Islam adalah agama ramah lingkungan.
Admin: Kominfo DDII Jatim
Editor: Sudono Syueb
