Oleh Kemas Adil Mastjik (Wakil Ketua Bidang Pendidikan Dewan Da’wah Jatim)
Dewandakwahjatim.com, Surabaya – Aksi Bela Islam (ABI), 9 tahun lalu, punya banyak pesan postif. Bahwa, persatuan dapat bangkit ketika iman dan cinta negeri bertemu dalam satu hati. Bahwa, umat Islam adalah penggerak harmoni bangsa. Bahwa, Indonesia bukan sekadar negara tetapi karunia Allah yang harus dijaga bersama.
Sembilan tahun setelah Aksi Bela Islam (ABI), patut kita berefleksi. Bahwa, persatuan dapat bangkit ketika iman dan cinta negeri bertemu dalam satu hati. Bahwa, umat Islam adalah penggerak harmoni bangsa. Bahwa, Indonesia bukan sekadar negara tetapi karunia Allah yang harus dijaga bersama.
Sembilan tahun lalu, Jum’at 2 Desember 2016, hari dan tanggal yang tidak boleh dilupakan oleh umat Islam. Hari itu, sebuah episode perjuangan monumental umat Islam Indonesia yang dahsyat. Tajuknya, AKSI BELA ISLAM (ABI). Misinya, membela Alquran dan ulamanya, yang dinista oleh seorang Gubernur.
Alkisah, di Pulau Seribu Jakarta Utara, dengan pakaian dinas Gubernurnya orang itu mengucapkan ujaran kebencian sekaligus dengan kalimat penghinaannya terhadap Alquran dan para ulama. “Jadi jangan percaya sama orang, kan bisa saja dalam hati kecil Bapak-Ibu nggak bisa pilih saya ya, kan? Dibohongi pakai Surat Al-Maidah 51, macam-macam itu. Itu hak Bapak-Ibu, ya. Jadi kalau Bapak-Ibu perasaan enggak bisa kepilih nih, karena saya takut masuk neraka karena dibodohin gitu ya, nggak apa-apa” (news.detik.com, 9 Mei 2017).
Bhinneka yang Mempesona
Dalam lintasan sejarah bangsa, Indonesia bukan sekadar sebuah wilayah yang terbentang dari Sabang sampai Merauke. Ia adalah sebuah negeri mukjizat—sebuah anugerah besar yang diberikan Allah kepada bangsa yang mampu merangkul keberagaman sebagai kekuatan, bukan kelemahan.
Negeri ini berdiri kokoh di atas perbedaan yang bagi banyak bangsa lain justru menjadi sumber perpecahan. Di banyak tempat di dunia, satu suku dengan satu bahasa dan satu agama saja dapat terpecah menjadi puluhan negara yang terus dibalut konflik. Indonesia justru tumbuh menjadi bangsa besar yang bersatu di tengah perbedaan aneka ragam.
Mari bandingkan dengan fenomena yang sering disampaikan para pengamat internasional: Di suatu belahan bumi, ada satu hamparan tanah luas, dihuni oleh satu suku bangsa yang jumlahnya ratusan juta jiwa. Mereka memiliki bahasa yang sama, adat yang berdekatan, bahkan menganut agama yang sama. Namun apa yang terjadi? Konflik tak berkesudahan, perpecahan yang menyakitkan, hingga akhirnya negeri itu tercerai-berai menjadi puluhan negara kecil yang hingga kini masih bergejolak.
Fenomena itu membuat banyak bangsa dunia menengok ke Indonesia dengan kekaguman: Bagaimana mungkin sebuah negara kepulauan yang terdiri dari lebih dari 17.000 pulau, dihuni ratusan suku bangsa, ratusan bahasa daerah, beragam agama, adat, dan budaya, justru mampu menyatu sebagai satu bangsa? Ini, sebuah keajaiban sejarah—the Indonesian miracle.
Itu sebabnya Indonesia sering dijuluki negeri mukjizat. Karena hal yang menjadi sumber konflik bagi bangsa lain, justru menjadi perekat persatuan bagi bangsa kita.
ABI: Pelajaran Besar
Tepat sembilan tahun lalu, bangsa Indonesia menyaksikan salah satu momentum sejarah terbesar umat Islam: Aksi Bela Islam. Jutaan umat dari berbagai penjuru negeri datang ke Jakarta. Mereka datang bukan sebagai perwakilan suku tertentu, bukan sebagai penduduk daerah tertentu, dan bukan pula hanya sebagai kelompok organisasi tertentu. Mereka datang sebagai satu identitas: umat Islam Indonesia yang cinta keadilan dan cinta negeri.
Aksi ini menjadi penanda bahwa umat Islam adalah pilar penting persatuan bangsa. Di tengah perbedaan manhaj, ormas, latar belakang pendidikan, dan posisi sosial, mereka hadir dengan satu suara dan satu misi: menegakkan kehormatan agama dan menjaga keutuhan bangsa.
Dunia menyaksikan bagaimana lautan manusia berkumpul dalam suasana damai, tertib, penuh keikhlasan dan keteduhan. Tidak ada kekerasan. Tidak ada perusakan, bahkan taman-taman kota tetap bersih selepas aksi.
Inilah karakter bangsa mukjizat: Ketika diuji, mereka justru bersatu. Mengapa Indonesia Tetap Bersatu?
Para ahli politik dan sosiologi dunia mengatakan bahwa Indonesia seharusnya menjadi negara paling rentan konflik, karena keberagamannya terlalu besar. Namun sejarah berkata lain.
Ada beberapa hal yang membuat Indonesia tetap utuh:
- Falsafah Nasional yang Mempersatukan.
Pancasila bukan hanya rumusan filosofis, tetapi titik temu antara semua identitas bangsa. Ia adalah rumah bersama yang memberi ruang bagi semua anak bangsa untuk hidup damai. - Budaya Gotong Royong.
Gotong royong adalah energi sosial bangsa ini. Ia muncul dalam bentuk solidaritas ketika terjadi bencana, aksi kemanusiaan, bahkan dalam momen-momen kejernihan politik seperti Aksi Bela Islam. Nilai ini membuat masyarakat Indonesia lebih mudah saling menolong daripada saling menjatuhkan. - Pengaruh Islam sebagai Ajaran Rahmatan lil ‘Alamin.
Mayoritas rakyat Indonesia adalah Muslim, dan ajaran Islam menjadi cahaya moral yang menuntun bangsa ini untuk menjaga persaudaraan. Islam mengajarkan ukhuwah, toleransi, dan adl (keadilan). Ketika umat Islam bersuara, mereka tidak hanya berbicara untuk golongannya, tetapi juga menjaga keutuhan bangsa. - Kesadaran Sejarah sebagai Bangsa Pejuang.
Bangsa Indonesia lahir dari perjuangan panjang. Dari Aceh sampai Papua, darah para pahlawan tumpah untuk satu cita-cita: Indonesia merdeka. Kesadaran historis ini menahan bangsa dari godaan perpecahan.
Merajut Kembali
Sembilan tahun setelah Aksi Bela Islam, dunia berubah cepat. Media sosial semakin bising, hoaks mudah tersebar, polarisasi politik mudah muncul, dan perbedaan pandangan sering memicu pertengkaran. Di titik inilah kita perlu merajut kembali kesadaran sebagai negeri mukjizat. Apa yang harus dilakukan?
- Menghidupkan Kembali Semangat Kebersamaan.
Bangsa ini besar karena kebersamaan, bukan saling curiga. Kita memerlukan kembali semangat persatuan seperti yang tampak pada Aksi Bela Islam: tenang, teduh, bermartabat, dan saling menghormati. - Membangun Dialog dan Kesalingpahaman. Perbedaan suku, ras, agama, dan pilihan politik bukan alasan untuk saling menjauh. Justru perbedaan adalah ladang pahala untuk saling memahami dan saling memuliakan.
- Memperkuat Pendidikan Akhlak dan Adab.
Tidak ada bangsa besar tanpa akhlak. Akhlak adalah fondasi moral masyarakat. Jika akhlak diperkuat—terutama kejujuran, sopan santun, dan rasa hormat—maka perbedaan tidak akan melahirkan konflik.
- Memperkuat Pendidikan Akhlak dan Adab.
- Menjaga Spirit Persatuan Umat.
Umat Islam Indonesia telah terbukti menjadi pilar persatuan bangsa. Namun persatuan itu harus dirawat melalui adab berdakwah, kebijaksanaan, kesantunan, dan keikhlasan. Semangat ini tidak boleh padam oleh isu-isu politik sesaat.
Amanah Besar
Ketika bangsa lain pecah karena hal-hal sepele, Indonesia justru berdiri kokoh dengan segala kerumitannya. Ini bukan karena kita lebih hebat, tetapi karena Allah memberikan karunia yang besar dan amanah yang besar pula. Negeri mukjizat bukan berarti bebas dari masalah, tetapi negeri yang diberi kekuatan untuk mengatasi masalah dengan cara yang luar biasa: dengan persatuan.
Oleh sebab itu, sembilan tahun momentum Aksi Bela Islam harus menjadi bahan renungan. Bahwa persatuan dapat bangkit ketika iman dan cinta negeri bertemu dalam satu hati. Bahwa umat Islam adalah penggerak harmoni bangsa. Bahwa Indonesia bukan sekadar negara, tetapi karunia Allah yang harus dijaga bersama.
Mari rajut kembali negeri mukjizat ini dengan kasih sayang, persaudaraan, dan semangat ukhuwah. Mari rawat keberagaman sebagai anugerah, bukan ancaman. Mari buktikan kepada dunia bahwa Indonesia layak menjadi teladan peradaban: Negeri yang besar, kuat, religius, dan damai di tengah segala perbedaannya.
Semoga Allah menjaga Indonesia dan menyatukan hati seluruh anak bangsanya. Indonesia, negeri mukjizat dan akan tetap menjadi mukjizat jika kita merawatnya bersama. Wallahua’alamu.
Rewwin, 2 Desember 2025
Admin: Kominfo DDII Jatim
Editor: Sudono Syueb
