Antara Lapang dan Sempit: Falsafah Hidup dalam Syukur dan Sabar

Oleh Muhammad Hidayatulloh, Wakil Ketua Bidang PSQ DDII Jatim, Kepala Pesantren Kader Ulama Pondok Pesantren Islamic Center (PPIC) Elkisi Mojosari, Mojokerto, Jawa Timur dan Penulis buku Geprek! Resep Anti Galau Rahasisa Hidup

Dewandakwahjatim.com, Surabaya —
نعيشُ دائمًا بين يُسرٍ وعُسر
ففي اليُسر يكونُ الشُّكر
وسيجزي اللهُ الشّاكرين
وفي العُسر يكونُ الصبر
إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ
الْحَمْدُ لِلَّهِ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ

Kita senantiasa hidup di antara kemudahan dan kesulitan.
Dalam kelapangan, seharusnya hadir rasa syukur, dan Allah akan membalas orang-orang yang bersyukur.
Sedangkan dalam kesempitan, hendaklah hadir kesabaran,
karena sesungguhnya Allah memberi ganjaran kepada orang-orang yang sabar tanpa batas.
Maka, segala puji bagi Allah dalam keadaan lapang maupun sempit.

Refleksi dan Hikmah

Hidup manusia, sejatinya, adalah perjalanan antara dua musim: musim kemudahan (yusr) dan musim kesulitan (‘usr).
Keduanya datang silih berganti seperti siang dan malam — bukan untuk menyiksa, melainkan untuk menyeimbangkan jiwa.

Dalam setiap kelapangan, Allah menuntut syukur,
karena syukur adalah bentuk kesadaran tertinggi bahwa semua yang kita miliki hanyalah titipan.
Sedangkan dalam kesulitan, Allah memerintahkan sabar,
karena sabar adalah kekuatan batin yang meneguhkan harapan ketika logika sudah tak sanggup memahami rencana Tuhan.

Seni Hidup di Antara Dua Kutub

Syukur dan sabar bukan dua hal yang terpisah, melainkan dua sisi dari satu koin yang sama.
Syukur menjaga hati dari kesombongan di saat berlimpah,
sementara sabar menjaga hati dari keputusasaan di saat kekurangan.
Keduanya adalah keseimbangan spiritual yang membuat seorang mukmin tetap tenang meski badai datang berganti.

Ibnul Qayyim al-Jauziyyah rahimahullah berkata:

“الإيمان نصفان: نصف صبر ونصف شكر.”

“Iman itu terdiri dari dua bagian: separuhnya adalah sabar dan separuhnya adalah syukur.”

Kalimat ini menegaskan bahwa keutuhan iman bukan diukur dari banyaknya ibadah lahiriah semata, melainkan dari kemampuan seseorang menjaga sikap batinnya — apakah ia mampu bersyukur ketika diberi, dan bersabar ketika diuji.

Ketika Ujian Menjadi Rahmat Terselubung

Dalam pandangan orang beriman, tidak ada peristiwa yang sia-sia.
Kesenangan adalah ladang syukur, kesulitan adalah ladang pahala, dan keduanya sama-sama merupakan ujian cinta dari Allah.

Rasulullah ﷺ bersabda:

عَجَبًا لأَمْرِ المُؤْمِنِ، إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ لَهُ خَيْرٌ، وَلَيْسَ ذَاكَ لأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ، إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ.

“Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin. Segala urusannya baginya adalah kebaikan.
Jika ia mendapat kesenangan, ia bersyukur dan itu baik baginya; dan jika ia tertimpa kesusahan, ia bersabar dan itu pun baik baginya.” (HR. Muslim)

Hadis ini meneguhkan pandangan bahwa kebahagiaan seorang mukmin tidak bergantung pada keadaan, melainkan pada cara ia memaknainya.
Ia tidak menolak ujian, karena tahu di baliknya tersembunyi kasih sayang Ilahi.

الحمد لله في السراء والضراء

Ungkapan di akhir teks, “Alhamdulillah fi as-sarraa’i wa ad-dharraa’,”
mengandung makna spiritual yang sangat tinggi: memuji Allah dalam segala keadaan, baik dalam kelapangan maupun kesempitan.

Ungkapan ini adalah tanda kematangan iman — bahwa cinta kepada Allah tidak bergantung pada situasi yang menyenangkan,
tetapi bersumber dari keyakinan bahwa setiap takdir mengandung hikmah.

Imam al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumiddin menulis:

“ليس الشكر باللسان فقط، ولكن رؤية المنعم في كل حال.”

“Syukur bukan sekadar dengan lisan, tetapi dengan melihat Sang Pemberi nikmat dalam setiap keadaan.”

Dengan demikian, syukur dan sabar adalah dua pintu menuju keutuhan jiwa.
Syukur menjaga dari kufur nikmat,
sabar menjaga dari keluh kesah.
Dan di antara keduanya, manusia belajar untuk menemukan kedamaian sejati — bukan dari apa yang dimiliki, tetapi dari bagaimana ia memahami makna hidup.

Penutup

Kita hidup di antara dua arus yang terus bergulir — kelapangan dan kesempitan, tawa dan air mata, datang dan pergi.
Namun, bagi hati yang terlatih, semuanya adalah bentuk kasih Allah yang menyamar dalam rupa yang berbeda.

Maka, siapa pun kita hari ini — dalam nikmat ataupun ujian — marilah kita ucapkan dengan sepenuh kesadaran:

الْحَمْدُ لِلَّهِ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ

Segala puji bagi Allah dalam lapang maupun sempit.

Admin: Kominfo DDII Jatim

Editor: Sudono Syueb

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *