Oleh Muhammad Hidayatulloh, Wakil Ketua Bidang PSQ DDII Jatim, Kepala Pesantren Kader Ulama Pondok Pesantren Islamic Center (PPIC) Elkisi Mojosari, Mojokerto, Jawa Timur dan Penulis buku Geprek! Resep Anti Galau Rahasisa Hidup
Dewandakwahjatim.com, Surabaya –
النِّفَاقُ الْحَقِيقِيُّ الَّذِي يُظْهِرُ الإِيمَانَ وَيُبْطِنُ الْكُفْرَ، فَالْفَرْقُ هُوَ أَنَّ الْمُخَالَفَةَ هُنَا بَيْنَ الظَّاهِرِ فِي الْعِبَادَةِ وَالْبَاطِنِ فِي النِّيَّةِ.
Kemunafikan sejati adalah ketika seseorang menampakkan iman, namun menyembunyikan kekufuran. Perbedaannya terletak pada pertentangan antara yang tampak dalam ibadah dan yang tersembunyi dalam niat.
Ada orang yang suaranya gemetar kala membaca ayat,
tapi hatinya tak pernah bergetar karena ayat itu.
Ia mengulang kalamullah tiap hari, namun tak satu pun ayat yang benar-benar hidup di dirinya.
Bibirnya bergetar menyebut “Allah”, tapi di dalam dadanya bersemayam “manusia”.
Inilah wajah halus dari nifaq ‘amali — kemunafikan amal:
ketika ibadah jadi panggung, dan niat berubah jadi naskah sandiwara.
Orang tampak suci di mihrab, tapi jiwanya tersungkur di hadapan dunia.
Allah sudah menyingkap tabir mereka dalam kalam-Nya:
يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَالَّذِينَ آمَنُوا وَمَا يَخْدَعُونَ إِلَّا أَنْفُسَهُمْ وَمَا يَشْعُرُونَ
“Mereka menipu Allah dan orang-orang beriman, padahal mereka tidak menipu siapa pun kecuali diri mereka sendiri, dan mereka tidak sadar.” (QS. Al-Baqarah: 9)
مِنْ أَمْثِلَةِ هَذَا النِّفَاقِ، أَنْ يَكُونَ الْقَارِئُ مُنْشَغِلًا بِالِارْتِبَاطِ بِأَهْلِ الدُّنْيَا وَالْمُلُوكِ طَلَبًا لِمَا فِي أَيْدِيهِمْ، أَوْ أَنْ يَقْرَأَ الْقُرْآنَ لِيُبْعِدَ عَنْ نَفْسِهِ تُهْمَةً مَا، دُونَ أَنْ يَعْمَلَ بِمُقْتَضَى الْقُرْآنِ.
Contoh kemunafikan semacam ini ialah ketika seorang pembaca Al-Qur’an lebih sibuk menjalin hubungan dengan para pemilik dunia demi apa yang ada di tangan mereka, atau membaca Al-Qur’an hanya untuk menepis tuduhan — tanpa mengamalkan kandungannya.
Betapa banyak suara yang merdu, tapi niatnya palsu.
Betapa banyak qāri’ yang dikenal di bumi, tapi tak dikenal di langit.
Ia membaca kitab Allah, tapi kitab itu tidak lagi mengenal namanya.
Sebagian ulama terdahulu pernah menasihati, meski riwayatnya tidak sahih namun maknanya menggigit:
“رُبَّ قَارِئٍ لِلْقُرْآنِ وَالْقُرْآنُ يَلْعَنُهُ”
“Banyak orang membaca Al-Qur’an, namun Al-Qur’an itu melaknatnya.”
(riwayat ini lemah, tapi maknanya dalam dan diakui hikmahnya oleh para ulama salaf)
Mereka mengingatkan: jangan sampai lidahmu memuliakan Al-Qur’an, tapi perilakumu menghina isinya.
Jangan sampai engkau membaca “أَلَا لَعْنَةُ اللَّهِ عَلَى الظَّالِمِينَ” sementara engkau sendiri berlaku zalim.
Jangan sampai engkau melafazkan “إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ” tapi engkau justru menyakiti.
Rasulullah ﷺ juga memperingatkan tentang amal yang kehilangan niat suci:
“Orang yang pertama kali diadili pada hari kiamat adalah seseorang yang membaca Al-Qur’an. Dikatakan kepadanya: Engkau membaca agar disebut qāri’, dan engkau telah mendapatkannya. Maka diseretlah ia ke neraka.” (HR. Muslim)
Sungguh menakutkan —
ketika ayat yang dibaca untuk mencari pahala malah menjadi saksi yang menuntut.
Ketika kalamullah yang dihafal justru bersaksi:
“Ya Rabb, dia tahu kebenaran, tapi tak pernah hidup di dalamnya.”
Dan di penghujung kisah dunia nanti, akan datang satu ayat yang mengguncang seluruh hati yang lalai.
Ayat yang bukan sekadar peringatan, tapi mungkin… penghakiman.
وَقَالَ الرَّسُولُ يَا رَبِّ إِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوا هَذَا الْقُرْآنَ مَهْجُورًا
“Dan berkatalah Rasul: Wahai Tuhanku, sesungguhnya kaumku telah menjadikan Al-Qur’an ini sesuatu yang ditinggalkan.” (QS. Al-Furqan: 30)
Bayangkan — jika saat ayat itu dibacakan,
kita bukan termasuk orang yang membacanya… tapi orang yang disebut olehnya.
Bayangkan bila Rasulullah ﷺ sendiri berkata kepada Allah tentang kita:
“Ya Rabb, mereka membaca Kitab-Mu tapi meninggalkan maknanya. Mereka memperindah suaranya, tapi menutupi hatinya.”
Na‘ūdzu billāh — jangan sampai ayat ini bukan yang kita renungkan, tapi yang sedang membicarakan kita.
Penutup:
Jangan biarkan Qur’an hanya mengalun di lisan, tapi mati di perbuatan.
Bacalah ia bukan untuk nama, tapi untuk nur.
Sebab di hari ketika suara dibungkam, yang berbicara adalah ayat-ayat yang dulu kita baca dengan niat yang keliru.
Biarlah Al-Qur’an menjadi saksi yang mengenalmu — bukan yang memanggil namamu di hadapan Allah sebagai “mereka yang meninggalkannya.”
Ungkapan:
“رُبَّ قَارِئٍ لِلْقُرْآنِ وَالْقُرْآنُ يَلْعَنُهُ”
tidak sahih dari Nabi ﷺ menurut para ulama hadits, namun maknanya benar secara moral dan diperkuat oleh ayat-ayat Al-Qur’an serta hadits sahih lain yang menegaskan pentingnya keikhlasan dalam membaca dan mengamalkan kitabullah.
“Jangan sampai ayat itu sedang membicarakanmu.”
itu kayak tamparan sunyi yang bikin pembaca berhenti sejenak, refleksi, lalu nunduk.
Admin: Kominfo DDII Jatim
Editor: Sudono Syueb
