(Pelajaran dari Hudzaifah bin al-Yaman radhiyallahu ‘anhu)
Oleh : Ust. Nur Adi Septanto, Anggota
Bidang Pembinaan Dai, KUB dan Dakwah Khusus DDII Jatim dan Humas Pesantren PERSIS Bangil
Dewandakwahjatim.com, Bangil – Dakwah bukan sekadar menyampaikan, tetapi bagaimana menjadikan pesan Islam dapat diterima dengan baik oleh hati manusia. Islam datang membawa cahaya petunjuk yang penuh hikmah. Namun, jika disampaikan dengan cara yang keras, tergesa-gesa, atau tidak memahami kondisi mad’u (orang yang didakwahi), maka cahaya itu bisa tertutup oleh sikap pendakwahnya sendiri.
Sahabat Hudzaifah bin al-Yaman radhiyallahu ‘anhu dikenal sebagai sosok yang cerdas, bijaksana, dan penuh rahasia. Rasulullah ﷺ pernah mengutus Hudzaifah ke berbagai daerah, termasuk ke wilayah Yaman, dengan pesan agar beliau berdakwah dengan kelembutan, pemahaman, dan pendekatan yang sesuai karakter masyarakat setempat.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“يَسِّرُوا وَلَا تُعَسِّرُوا، وَبَشِّرُوا وَلَا تُنَفِّرُوا”
“Permudahlah dan jangan mempersulit, berilah kabar gembira dan jangan membuat orang lari.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Hadits ini menjadi pedoman utama dalam berdakwah. Hudzaifah memahami bahwa setiap masyarakat memiliki latar sosial dan budaya yang berbeda. Maka, beliau tidak memaksakan Islam dengan kekerasan, tetapi memperkenalkannya melalui akhlak, keadilan, dan keteladanan.
Pendekatan seperti inilah yang membuat Islam diterima luas di berbagai wilayah. Orang-orang Yaman yang semula jauh dari risalah Islam, justru menjadi kaum yang sangat lembut hatinya, sebagaimana Rasulullah ﷺ pernah bersabda:
“Telah datang kepada kalian penduduk Yaman, mereka paling lembut hatinya dan paling halus jiwanya. Iman itu Yaman dan hikmah itu Yaman.” (HR. al-Bukhari)
Dari kisah Hudzaifah, kita belajar bahwa metode dakwah tidak kalah penting daripada isi dakwah itu sendiri. Seorang da’i harus memahami waktu, tempat, dan kondisi pendengarnya. Ilmu yang luas harus diiringi dengan empati dan kebijaksanaan.
Di era modern saat ini, tantangan dakwah semakin besar. Masyarakat hidup dalam kecepatan informasi dan beragam pandangan. Karena itu, da’i harus menguasai metode komunikasi, teknologi, dan psikologi umat, agar pesan Islam tetap hidup dan menyentuh.
Sebagaimana Hudzaifah, setiap da’i masa kini harus menjadi penyampai kebenaran yang menenangkan, bukan yang menegangkan. Menguatkan ukhuwah, bukan memecah belah.
Hikmah:
Dakwah yang benar bukan hanya membuat orang tahu tentang Islam, tetapi membuat mereka cinta kepada Islam. Metode yang tepat adalah jembatan menuju hidayah. #nas
Admin: Kominfo DDII Jatim
Editor: Sudono Syueb
