Oleh M. Anwar Djaelani, peminat biografi Tokoh Islam
Dewandakwahjatim.com, Surabaya – Berdakwah adalah amanat bagi semua umat Islam. Oleh karena itu, aktiflah melakukan amaliyah yang sangat mulia itu. Dalam hal penambah semangat berdakwah, antara lain, kita bisa mengambil teladan dari Ahmad Dahlan dan Siti Walidah.
Dakwah, Berdakwah-lah!
Banyak ayat dan hadits yang meminta kaum Muslimin untuk giat berdakwah. Perhatikan, misalnya QS Ali Imran [3]: 104 dan 110. Juga, ayat ini: ”Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?” (QS Fushshilat [41]: 33). Bahkan, di ayat ini tergambarkan bahwa tak ada perkataan yang lebih baik di hadapan Allah selain ”menyeru kepada Allah” atau berdakwah.
Lalu, ada sabda Nabi Saw antara lain ini: ‘Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat. Berkisahlah tentang Bani Israel dan itu tidak apa-apa. Barangsiapa berdusta atas namaku, maka bersiaplah mendapatkan kursinya dari api neraka” (HR Bukhari).
Selanjutnya, lihatlah kinerja dakwah yang mengangumkan dari pendahulu kita. Sekadar contoh, perhatikan jejak dakwah Mush’ab bin Umair. Sahabat Nabi Saw ini adalah seorang ”pemuda harum” dari keluarga kaya. Dia rela hidup seadanya karena keislamannya tak disetujui orang tuanya. Meski begitu, dia istiqomah di jalan Islam bahkan dipercaya Nabi Saw berdakwah ke Madinah dan sukses.
Gerak Dahlan
Di Indonesia, mari rasakan kerja dakwah Ahmad Dahlan. Semangatnya, bisa dirasakan antara lain lewat kalimat ini: “Jika kamu berhalangan untuk bertabligh, janganlah permisi kepadaku. Tapi, permisilah kepada Tuhan dengan mengemukakan alasanmu. Setelah itu, kamu (harus) bertanggung-jawab atas perbuatanmu,” kata Ahmad Dahlan. Siapa dia?
Ahmad Dahlan lahir pada 01/08/1868 di Kampung Kauman Jogjakarta. tak jauh dari Masjid Besar Kesultanan Jogjakarta. Sang ayah, KH Abubakar, Imam dan Khatib terkemuka di masjid itu.
Ahmad Dahlan keturunan keduabelas dari Maulana Malik Ibrahim, salah seorang dari Walisongo. Sejak kanak-kanak dia agamis, pandai bergaul, dan peduli kepada sesama.
Pada 1883 –pada usia 15 tahun- dia berangkat ke Mekkah, berhaji sekaligus belajar selama lima tahun. Dia dikenal cerdas. Sempat pulang pada 1888 dan diangkat menjadi pegawai Masjid Kesultanan Jogjakarta dengan gelar Khatib Amin.
Belakangan, Ahmad Dahlan ke Mekkah lagi pada 1902 untuk berhaji dan belajar. Kali ini yang lebih dia dalami adalah pemikiran Muhammad Abduh, seorang pembaharu Islam ternama di masa itu.
Di Mekkah, dia berguru kepada Ahmad Khatib Al-Minangkabawi. Lebih dari sekali sang guru berkata kepada Dahlan: “Pengajaran Islam di Indonesia sudah jauh ketinggalan zaman. Harus diperbarui. Harus dengan cara modern. Agama Islam itu sebenarnya agama kemajuan, bisa sesuai dengan zaman baru”.
“Itu tepat sekali. Memang banyak hal yang perlu diperbaharui dalam mengajarkan agama Islam”. Demikian, respons Ahmad Dahlan.
Pada 1904 Dahlan kembali ke Indonesia dan tetap aktif memperdalam ilmu. Dia berguru ke ulama-ulama yang terkenal. Misal, dalam ilmu falak dia belajar kepada Syaikh Jamil Jambek di Bukittinggi.
Ahmad Dahlan punya cita-cita pembaharuan dalam penyebaran Islam. Bagi dia, “Kemunduran Islam di Indonesia berasal dari masyarakat sendiri. Ajaran lama masih kuat dianut yang bercampur-baur dengan kepercayaan lainnya, sehingga ajaran Islam yang murni menjadi pudar dan kabur”.
Pada 18/11/2012 Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah. Nama Muhammadiyah berarti umat Nabi Muhammad Saw. Muhammadiyah adalah persyarikatan yang bergerak dalam bidang agama, pendidikan, dan sosial.
Aktivitas Dahlan makin bertambah dan terarah. Gerakan di bidang sosial makin diperluas. Balai Kesehatan, Rumah Sakit, Panti Asuhan, sekolah, madrasah, diusahakan untuk terus dibangun dan dibiayai dengan kekuatan sendiri dari dana yang berasal dari zakat, infaq, dan sumber-sumber halal lainnya. Sekarang, Muhammadiyah menjadi salah satu organisasi dakwah terkaya di dunia. Tercatat pada 2025, Muhammadiyah adalah organisasi keagamaan terkaya keempat di dunia.
Di saat awal berdirinya Muhammadiyah tak sedikit tantangan yang menghadang Ahmad Dahlan. Tantangan itu, dari kalangan keluarga sendiri dan dari masyarakat. Muncul berbagai sebutan tak elok bagi dia seperti “Kiai palsu” atau “Mengajarkan agama baru”.
Semua tantangan itu dihadapi Ahmad Dahlan dengan sabar. Dakwah Muhammadiyah terus ditingkatkan. Tentu, organisasi makin berkembang.
Ahmad Dahlan tak hanya pandai memberi komando, tapi juga langsung terjun ke lapangan. Dia dikenal sebagai pekerja keras dan tak kenal lelah. Tampak, dia seperti tak pernah beristirahat.
Ahmad Dahlan selalu ingat mati dan kehidupan sesudahnya. Itulah sebab dia selalu giat mengumpulkan bekal untuk dibawa “pulang”. Kisah berikut bisa menguatkan kekuatan pribadi Ahmad Dahlan.
Suatu saat, salah satu anaknya sakit. Ahmad Dahlan yang sedang mengajar diminta pulang oleh istrinya. Dia pun ke rumahnya. Lalu, menasihati sang anak: “Wahai anakku Jumhan (nama kecil dari Irfan Dahlan), berdoalah kepada Allah agar engkau lekas sembuh. Dia-lah yang menakdirkan engkau sakit dan Dia pula yang akan menyembuhkan. Tapi, jika Allah takdirkan engkau sampai pada ajalmu, pergilah dengan tawakkal dan engkau akan bertemu di sana dengan kakakmu Johanah (putri pertama Ahmad Dahlan) yang telah pergi lebih dahulu. Maka, tetapkanlah hatimu, tenanglah!“
Setelah itu, Ahmad Dahlan kembali mengajar. Sebelumnya, sempat menasihati istrinya yang berusaha menahan Ahmad Dahlan agar tidak pergi. “Wahai Nyai, janganlah engkau menyangka bahwa jika aku tetap menunggui anakmu ini dia akan sembuh dan jika aku tinggalkan akan mati. Tidak Nyai, mati dan hidup di Tangan Allah, Tuhanmu dan Tuhanku, serta Tuhan dari Jumhan anak kita,” tutur Ahmad Dahlan.
Di pertengahan 1922, Ahmad Dahlan mulai sering sakit. Di tahun itu, dia tetap hadir pada Rapat Tahunan PP Muhammadiyah. Tapi tak lama, sebab di tengah-tengah acara dia harus meninggalkan meja pimpinan karena sakit yang kian berat.
Sampailah, ketika sakit Ahmad Dahlan tergolong berat. Dokter menyarankan, beristirahat sambil berobat di tempat sejuk. Ahmad Dahlan memilih Tretes, Pasuruan – Jawa Timur.
Di tempat baru itu Ahmad Dahlan tak lalu benar-benar beristirahat. Beliau tetap beraktivitas seperti orang sehat. Misal, dia tetap melakukan tabligh, memberikan pengajian. Bahkan, sebuah surau dia dirikan dan mengaktifkan berbagai kegiatan di dalamnya.
Sakit Ahmad Dahlan bertambah parah. Murid-muridnya meminta agar beliau benar-benar beristirahat, tapi semua dibalas dengan senyuman. Berikutnya, ini dialog dengan sang istri.
“Istirahatlah dulu, Kiai,” kata Nyai Dahlan.
“Mengapa saya akan istirahat,” jawab Ahmad Dahlan.
“Kiai sakit. Istirahatlah dulu menunggu sembuh,” jelas si istri.
“Ajaib. Orang di kiri dan di kanan meminta saya berhenti beramal, tidak saya pedulikan. Sekarang, engkau sendiri ikut pula meminta hal yang sama,” respons Ahmad Dahlan.
“Saya bukan menghalangi Kiai beramal, tetapi mengharap kesehatan Kiai. Dengan kesehatan itulah Kiai dapat bekerja lebih giat di belakang hari,” jawab si istri argumentatif
“Saya mesti bekerja keras untuk meletakkan batu pertama dari amal yang besar ini. Kalau sekiranya saya lambatkan ataupun saya hentikan lantaran sakit saya ini, maka tidak akan ada orang yang akan sanggup meletakkan dasar itu. Saya sudah merasa bahwa umur saya tidak akan lama lagi. Jika saya kerjakan selekas mungkin, maka yang tinggal sedikit itu, mudahlah yang di belakang nanti untuk menyempurnakannya,” demikian jawab Ahmad Dahlan tak kalah argumentatif.
Dialog di atas terjadi sekitar Januari 1923. Di bulan berikutnya, 23/02/1923, Ahmad Dahlan wafat di Kampung Kauman Yogyakarta. Dia meninggal di usia relatif muda, hampir 55 tahun. Pemakamannya mendapat perhatian yang luar biasa dari masyarakat dan pemerintah. Kala itu, sekolah-sekolah–negeri dan swasta-diliburkan.
Ahmad Dahlan mendapatkan gelar Pahlawan Nasional pada 1961. Ini, penghargaan yang tepat. Tak lain, karena sikap kepahlawanannya telah lama teruji.
Langkah Walidah
Tak banyak suami-istri yang sama-sama gigih berdakwah, seperti pasangan Ahmad Dahlan dan Siti Walidah. Si suami pendiri Muhammadiyah. Sementara, sang istri perintis ‘Aisyiyah.
Siti Walidah lahir di Kauman, Jogjakarta, pada 03/01/1872. Sang ayah, Kiai Penghulu H. Muhammad Fadil, seorang pejabat agama di Keraton Jogjakarta. Di masa awal, pendidikan keislaman didapatkannya langsung dari sang ayah. Nyaris tiap hari dia belajar dengan sarana kitab-kitab agama berbahasa Arab-Jawa (pegon). Hal lain, mengingat dari segi keturunan Siti Walidah berasal dari kalangan terhormat, maka beliau menjadi putri “pingitan” dan cukup dihormati masyarakat sekitarnya.
Siti Walidah menikah dengan Ahmad Dahlan. Sejak itu, ada sapaan lain kepada dia yaitu Nyai Ahmad Dahlan. Namun, perubahan lain yang jauh lebih penting adalah semakin berkobarnya semangat dia dalam mempelajari agama Islam.
Sebagai buah dari hasil belajarnya, Siti Walidah tidak hanya ingin menjadi ibu rumah-tangga biasa yang hanya di rumah saja. Tapi, dia ingin berbuat baik lebih dari itu.
Siti Walidah suka berorganisasi. Aktivitas berorganisasi mulai dirintisnya melalui perkumpulan pengajian perempuan bernama “Sopo Tresno”, pada 1914. Meski belum berbentuk organisasi yang sempurna, perkumpulan ini istiqomah berdakwah di kalangan perempuan lewat pengajian-pengajian yang diselenggarakannya.
Pada mulanya usaha Siti Walidah mendapat banyak penentangan. Namun, lambat-laun, ide-ide dan pemikirannya dapat diterima masyarakat. Suatu ketika, ada rapat di rumah Siti Walidah yang dihadiri KH Ahmad Dahlan, Ki Bagus Hadikusumo, Fachrodin, dan Pengurus Muhammadiyah lainnya.
Di situ timbul ide untuk mengubah “Sopo Tresno” menjadi sebuah organisasi perempuan Islam yang mapan. Untuk nama organisasi, semula ada usulan yaitu Fatimah. Tetapi, nama itu tak disepakati. Lalu, ada usulan nama ’Aisyiyah dan disetujui. Secara resmi, nama ‘Aisyiyah diumumkan sebagai organisasi perempuan Muhammadiyah pada 22/04/1917.
Di periode awal, ‘Aisyiyah diketuai oleh Siti Bariyah. Sementara, Siti Walidah duduk sebagai penasihat. Di antara kegiatan ‘Aisyiyah pada tahun-tahun pertama diresmikannya, adalah:
1).Mengirim mubalighat-mubalighat ke kampung-kampung pada bulan puasa untuk memimpin shalat tarawih. 2).Mengadakan perayaan Hari-hari Besar Islam. 3).Mengadakan kursus keislaman untuk pekerja-pekerja dan istri pegawai di kampung. Di samping itu, mengajarkan pula tentang keterampilan-keterampilan wanita.
Secara umum, perjuangan Siti Walidah lewat ‘Aisyiyah senafas dengan apa yang dilakukan Muhammadiyah, yaitu menghilangkan kepercayaan kolot yang dimiliki masyarakat. Adapun secara khusus, Siti Walidah lewat ‘Aisyiyah aktif memberikan penyadaran bahwa perempuan seharusnya dapat berjuang bersama laki-laki.
Siti Walidah sebagai pengurus ‘Aisyiyah terus berjuang untuk memajukan Muslimah.
Dia sering ke luar daerah mendatangi cabang-cabang ‘Aisyiyah. Siti Walidah sebagai muballighah dikenal tegas dan fasih.
Saat Ahmad Dahlan meninggal pada 1923, hal itu tak lalu menghentikan langkah dakwah Walidah. Dia terus bergerak. Misal, dia lalu membuka asrama dan sekolah-sekolah putri serta kursus pemberantasan buta huruf bagi perempuan.
Aktivitas dakwah Walidah menyentuh hal-hal praktis yang dibutuhkan kaum perempuan. Organisasi ‘Aisyiyah tumbuh pesat. Hal yang menarik, di saat ‘Aisyiyah bermuktamar, Siti Walidah selalu memimpin. Hal itu menunjukkan kecakapannya dalam mengelola organisasi.
Berikut ini, termasuk bukti kecakapan Siti Walidah dalam berorganisasi. Pada 1926, berlangsung Muktamar Muhammadiyah ke-15 di Surabaya. Di situ Siti Walidah membuat catatan sejarah. Dialah wanita pertama yang tampil memimpin muktamar.
Saat itu, dalam sidang ‘Aisyiyah yang dipandu Siti Walidah, duduk puluhan pria di samping mimbar. Mereka merupakan wakil pemerintah, perwakilan organisasi yang belum memiliki organisasi kewanitaan, dan wartawan. Seluruh pembicara di sidang tersebut adalah perempuan, suatu hal yang tidak lazim pada masa itu.
Efek positifnya, peristiwa itu dijadikan berita utama oleh media massa. Implikasi berikutnya, semakin banyak kaum perempuan yang bergabung dengan ‘Aisyiyah. Pengaruh ‘Aisyiyah meluas hingga ke berbagai penjuru Indonesia.
Siti Walidah, sebagaimana Ahmad Dahlan sang suami, dikenal seperti tak mengenal lelah jika berdakwah termasuk jika harus ke luar daerah. Di antara yang bisa disebut, misalnya, Siti Walidah pernah melakukan kerja dakwah ke Batur – Jawa Tengah. Untuk mencapainya, satu-satunya pilihan transportasi adalah menunggang kuda, melewati pegunungan Dieng. Kisah lain, dia tetap mengikuti muktamar pada 1940 di Jogjakarta, padahal dalam keadaan sakit.
Terkait urusan olah kata dan pikir, Siti Walidah tercatat sebagai tokoh yang suka berdiskusi. Maka, dia selalu ikut berdiskusi menyampaikan pandangannya bersama tokoh lainnya. Dia bisa berdiskusi, misalnya, dengan Jenderal Sudirman, Bung Karno, KH Mas Mansur, dan Bung Tomo.
‘Aisyiyah sempat dilarang oleh penjajah Jepang. Namun, perjuangan Walidah dan ‘Aisyiyah tak lalu berhent. Dengan taktis, Walidah mengalihkan aktivitasnya kepada pelayanan terhadap para pejuang kemerdekaan. Dia juga menyerukan kepada para siswa Muhammadiyah untuk bangkit melawan penjajah.
Di saat pendudukan Jepang, ada yang sangat terasa heroik. Pada saat itu, diberlakukan aturan bahwa anak-anak sekolah diharuskan menyembah matahari dan menyanyikan lagu-lagu Jepang. Siti Walidah tak ingin tunduk, tak akan menyerah. Beliau terus berjuang, dengan cara melarang keras murid sekolah Muhammadiyah mengikuti keinginan pemerintah Jepang itu.
Sikap Walidah tersebut membuat tentara Jepang marah dan mendatangi dirinya di rumahnya. Siti Walidah tak sudi menerima tentara Jepang itu, hingga akhirnya mereka hanya bisa menghardik Siti Walidah dari luar rumah (Ramly dan Sucipto, 2010: 85).
Lewat ‘Aisyiyah, Walidah membantu mengembangkan Muhammadiyah dengan aktif berdakwah ke berbagai daerah. Di titik ini, Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah memang merupakan pasangan yang serasi.
Siti Walidah wafat pada 31/05/1946 di Jogjakarta, di usia 74 tahun. Pada 22/09/1971 Almarhumah dianugerahi gelar Pahlawan Nasional. Tentu, ini penghargaan yang sudah pada tempatnya.
Semua yang dikerjakan Siti Walidah selama hidup, selaras dengan apa yang pernah disampaikannya beberapa saat sebelum meninggal. Kala itu, dia bilang, kita harus “Melanjutkan perjuangan umat Islam Indonesia ke arah perbaikan hidup bangsa Indonesia”.
Tegak, Tegaklah!
Menjadi tugas kita untuk berikhtiar melanjutkan perjuangan Ahmad Dahlan dan Siti Walidah. Kita teruskan dakwah kedua teladan itu. Kita aktif berdakwah, amanat dari Allah dan Rasul-Nya, dengah usaha tanpa lelah. []
Admin: Kominfo DDII Jatim
Editor: Sudono Syueb
