Saat Semua Gelar Dunia Tanggal, yang Tersisa Hanya Nama di Lauhul Mahfuz

Oleh Muhammad Hidayatulloh, Wakil Ketua Bidang PSQ DDII Jatim, Kepala Pesantren Kader Ulama Pondok Pesantren Islamic Center (PPIC) Elkisi Mojosari, Mojokerto, Jawa Timur dan Penulis buku Geprek! Anti Galau Rahasisa Resep Hidup Enjoy

Dewandakwahjatim.com, Surabaya – Pada akhirnya, bro… semua yang kita banggakan akan tanggal satu per satu.
Jabatan, harta, popularitas, bahkan nama besar — semuanya akan rontok seperti daun kering yang tak lagi menempel di ranting kehidupan.
Yang akan tersisa hanyalah nama yang ditulis di Lauhul Mahfuz, catatan agung yang tak bisa diedit, tak bisa dihapus, dan tak bisa dibohongi.

Ketika kita lahir, dunia menyambut kita dengan tangis; dan saat kita mati, dunia mengantar kita dengan tangis juga.
Di antara dua tangis itu, kita cuma numpang belajar: belajar tentang cinta, kecewa, sabar, dan ikhlas.
Kita datang tanpa apa-apa, lalu pulang pun tanpa membawa apa-apa — kecuali jejak amal dan keikhlasan.

الدُّنْيَا مَدْرَسَةٌ كَبِيرَةٌ

Dunia adalah sekolah besar.

Sekolah yang tak pernah memberi tahu kapan ujiannya datang, tak pernah memberi bocoran soal, tapi selalu menuntut jawaban terbaik.
Yang gagal bukan mereka yang jatuh, tapi mereka yang berhenti belajar saat disakiti.
Yang kalah bukan yang miskin, tapi yang menyerah kehilangan makna hidupnya.

Di akhir pelajaran ini, semua gelar akan dikembalikan kepada pemiliknya.
Yang “ustadz”, yang “doktor”, yang “pejabat”, yang “influencer” — semua akan melebur jadi satu identitas universal:

عبد الله

seorang hamba Allah.

Itulah puncak pencapaian: ketika kita bukan lagi sibuk mempertahankan label, tapi sibuk memperbaiki diri agar layak disebut hamba.

Di Lauhul Mahfuz, tak tercatat berapa banyak gelar yang kita punya, tapi seberapa banyak doa yang tulus keluar dari hati kita.
Tak dicatat berapa banyak pengikut di media sosial, tapi seberapa banyak orang yang tersenyum karena akhlak kita.
Tak ditulis berapa tinggi jabatan, tapi berapa kali kita merendah di hadapan Allah.

Allah tidak menilai penampilan, tapi menilai hati.
Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَلَا إِلَى أَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ

“Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tapi Dia melihat hati dan amal kalian.” (HR. Muslim)

Maka, jangan takut kehilangan dunia, asal jangan kehilangan arah pulang.
Karena setiap kehilangan di dunia hanyalah bagian dari kurikulum Allah untuk membersihkan jiwa agar siap menghadapi wisuda akhirat.

Hidup ini kayak ujian praktik:
kadang kita gagal, kadang berhasil, tapi selama kita jujur, kita tetap dianggap lulus di sisi-Nya.
Dan kalaupun nilai kita pas-pasan, rahmat Allah-lah yang melengkapi kekurangannya.

Ketika semuanya usai, dan tanah menutup tubuh kita rapat-rapat, maka semua gelar dunia akan hilang.
Yang tersisa hanyalah bisikan lembut malaikat:

“Hai jiwa yang dahulu sabar di sekolah dunia, kini saatnya kau menikmati hasil belajarmu. Selamat datang di rumah keabadian.”

Dunia hanyalah kelas sementara.
Akhirat adalah rumah tetapnya.
Dan kita… hanyalah murid yang sedang berjuang memahami pelajaran paling sulit:
bagaimana menjadi manusia yang tidak hanya hidup, tapi juga berarti.

Penutup:
Hidup bukan tentang seberapa lama kita belajar, tapi seberapa dalam kita memahami maknanya.
Dan ketika ijazah kehidupan itu akhirnya diberikan, semoga tertulis satu kalimat indah di dalamnya:

“Lulus dengan rahmat Allah, cumlaude dalam kesabaran, dan terbaik dalam akhlak.”

Admin: Kominfo DDII Jatim

Editor: Sudonp Syueb

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *