Oleh Muhammad Hidayatulloh, Wakil Ketua Bidang PSQ DDII Jatim n Kepala Pesantren Kader Ulama Pondok Pesantren Islamic Center (PPIC) Elkisi Mojosari, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur; Penulis buku Geprek! Anti Galau Rahasisa Resep Hidup Enjoy
Dewandakwahjatim.com, Surabaya –
الدُّنْيَا مَدْرَسَةٌ كَبِيرَةٌ
Dunia adalah sekolah yang besar.
Kalimat ini bukan sekadar kiasan, tapi kenyataan yang setiap hari kita tapaki. Dunia ini bukan tempat tinggal abadi, tapi ruang ujian yang terbentang tanpa jeda. Di sinilah manusia belajar tentang arti kehilangan, kesabaran, kejujuran, dan pengorbanan. Setiap peristiwa adalah guru, setiap luka adalah pelajaran, setiap keberhasilan hanyalah nilai sementara.
Tak ada yang benar-benar lulus di sekolah ini kecuali dengan ijazah yang satu: syahādatul wafāh — sertifikat kematian.
مَهْمَا تَفَوَّقْتَ فِيهَا لَنْ تَأْخُذَ مِنْهَا إِلَّا شَهَادَةَ الْوَفَاةِ
Sehebat apa pun engkau di dalamnya, engkau tidak akan mengambil darinya kecuali ijazah kematian.
Itulah puncak kelulusan: saat ruh kembali kepada Rabb-nya, membawa catatan amal yang ditulis sendiri lewat perjalanan hidup. Maka sehebat apa pun prestasi, setinggi apa pun gelar, sesukses apa pun pencapaian — semuanya hanya ujian, bukan tujuan. Dunia tak menobatkan siapa yang paling kaya, tapi siapa yang paling berakhlak ketika diuji oleh kekayaan. Dunia tak memuliakan siapa yang paling berkuasa, tapi siapa yang paling tunduk ketika diuji oleh kekuasaan.
فَلَا تَتَكَبَّرْ
Maka jangan sombong.
Sebab kesombongan di sekolah ini adalah tanda bahwa seseorang gagal memahami kurikulumnya. Ia menyangka dirinya guru besar, padahal baru siswa yang belum tuntas belajar tentang makna diri. Betapa banyak yang lupa bahwa setiap keberhasilan bukan hasil murni kemampuan, melainkan rahmat dan izin dari Yang Maha Mendidik, Ar-Rabb, Sang Pengasuh seluruh makhluk.
Sombong itu seperti menulis namanya dengan huruf besar di pasir — sementara ombak waktu datang, menghapus tanpa sisa.
وَكُنْ إِنْسَانًا ذَا أَخْلَاقٍ وَحَيَاءٍ
Jadilah manusia yang berakhlak dan memiliki rasa malu.
Kalimat penutup ini adalah inti dari semua pelajaran. Di tengah dunia yang serba cepat dan bising, akhlak dan rasa malu adalah dua permata yang makin langka. Akhlaq menjaga manusia tetap manusia — tidak berubah menjadi serigala yang menelan sesamanya dalam perebutan dunia.
Sedangkan ḥayā’ (rasa malu) adalah penjaga cahaya di dada — yang membuat seseorang takut berbuat dosa meski tak ada mata yang melihat.
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ لِكُلِّ دِينٍ خُلُقًا، وَخُلُقُ الإِسْلَامِ الْحَيَاءُ
“Setiap agama memiliki akhlak khas, dan akhlak khas Islam adalah rasa malu.” (HR. Ibnu Majah)
Malu bukan berarti lemah, tapi bentuk kesadaran batin bahwa kita hidup di bawah pengawasan Allah. Orang yang punya rasa malu tak akan menipu, tak akan sombong, tak akan zalim — karena ia sadar, sekolah dunia ini diawasi langsung oleh Sang Kepala Sekolah Kehidupan.
Hidup itu ujian terbuka, tanpa kisi-kisi, tanpa tahu kapan waktu ujian selesai. Yang dinilai bukan sekadar nilai akademik dunia, tapi kejujuran dalam menjawab setiap cobaan.
Ada yang diuji dengan cinta, ada yang diuji dengan kehilangan. Ada yang diuji dengan kemiskinan, ada yang diuji dengan berlimpahnya harta. Tapi semuanya mengarah pada satu titik: apakah kita masih bisa menjaga akhlak, rasa malu, dan kerendahan hati di tengahnya.
Jadi, jangan sombong saat kau bisa — karena semua kemampuan itu hanyalah pinjaman.
Jangan rendah diri saat kau gagal — karena kegagalan juga bagian dari kurikulum belajar.
Yang penting adalah lulus dengan qalbun salīm, hati yang bersih dari kesombongan dan penuh kesadaran akan kebesaran-Nya.
Hidup ini bukan sekadar tentang apa yang kita capai, tapi bagaimana cara kita menjalani.
Dan pada akhirnya, setiap kita akan pulang, membawa selembar ijazah bernama kematian, dengan nilai akhir yang ditentukan oleh akhlak, kesabaran, dan keikhlasan kita selama belajar di sekolah besar bernama dunia.
Admin: Kominfo DDII Jatim
Editor: Sudono Syueb
