Oleh Muhammad Hidayatulloh, Wakil Ketua Bidang PSQ DDII Jatim n Kepala Pesantren Kader Ulama Pondok Pesantren Islamic Center (PPIC) Elkisi Mojosari, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur; Penulis buku Geprek! Anti Galau Rahasisa Resep Hidup Enjoy
Dewandakwahjatim.com, Surabaya – Dalam lorong panjang sejarah bangsa, ada babak-babak yang penuh luka: ketika kebenaran dipinggirkan oleh tipu daya, dan keadilan dijual di pasar kekuasaan. Di balik senyum pejabat dan rapat megah di ruangan dingin, bersembunyi bayang-bayang hitam — mafia dan koruptor, wajah baru dari iblis lama yang tak pernah puas.
Mereka bukan sekadar penipu,
mereka adalah penjajah dalam negeri sendiri — menghisap darah rakyat dengan rakus, membungkus dosa dengan formalitas, dan menamakan kerakusan mereka sebagai kebijakan.
Mereka memotong harapan menjadi laporan, dan menukar masa depan anak negeri dengan setumpuk kepentingan pribadi.
وَمَن يَغْشَ ٱلْمُؤْمِنِينَ فَلَنَجْعَل لَّهُۥ جَهَنَّمَ نَارًا
“Barang siapa yang menipu kaum mukmin, maka Kami akan menyiapkan baginya neraka Jahannam yang menyala-nyala.” (QS. An-Nisa: 161)
Rasulullah ﷺ pun menegaskan dengan sabda yang menusuk nurani:
مَنْ غَشَّنَا فَلَيْسَ مِنَّا
“Barang siapa menipu kami, maka dia bukan dari golongan kami.” (HR. Muslim)
Dan lihatlah, betapa mereka menipu bukan hanya individ — tapi seluruh bangsa. Mereka mencuri bukan sekadar harta, tapi berkah.
Mereka merampas bukan sekadar uang rakyat, tapi doa anak-anak yatim yang kini tak punya daya.
Mereka menukar amanat dengan keserakahan, lalu bersumpah palsu di hadapan rakyat yang masih menaruh harapan.
Namun, di tengah gelapnya dusta dan kerakusan itu, masih ada lentera-lentera kecil yang menyala.
Ada suara kebenaran yang tak mau diam, ada pemimpin dan rakyat yang mulai berani melawan, ada nurani yang tak bisa dibungkam oleh harta atau ancaman.
Imam Al-Ghazali rahimahullah pernah berkata:
ٱلْعَدْلُ هُوَ ٱلْحَقُّ، وَبِٱلْعَدْلِ تَقُومُ ٱلْمُجْتَمَعَاتُ
“Keadilan adalah kebenaran, dan dengan keadilanlah masyarakat tegak.” (Ihya’ Ulumuddin)
Keadilan bukan sekadar hukum di atas kertas — ia adalah jiwa bangsa.
Tanpa keadilan, negeri sebesar apa pun akan roboh. Tanpa kebenaran, kemakmuran hanyalah ilusi yang menipu.
Dan Ibnu Khaldun rahimahullah pun menulis peringatan tajam:
إِذَا ضَهَرَ الظُّلْمُ فِي الحُكْمِ، كَانَتْ المَعَصِيَةُ وَاجِبَةً
“Apabila kezaliman telah menjadi hukum, maka pembangkangan menjadi kewajiban.” (Muqaddimah Ibn Khaldun)
Maka melawan mafia dan koruptor bukanlah sekadar tugas aparat — ini adalah jihad moral umat.
Sebuah jihad melawan kerakusan yang membutakan hati dan sistem yang menormalisasi dosa.
Karena ketika kezaliman menjadi budaya, maka diam adalah bentuk keikutsertaan.
إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنفُسِهِمْ
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d: 11)
Perubahan sejati lahir dari hati yang bersih, bukan dari janji politik.
Dari tangan yang bekerja dengan iman, bukan dengan niat mencari keuntungan.
Ketika bangsa ini berani melawan mafia dan korupsi, itu bukan sekadar reformasi — itu adalah tanda kebangkitan nurani.
Kita semua punya tanggung jawab moral untuk menjaga api keadilan agar tak padam.
Karena keadilan tidak akan hidup di negeri yang membiarkan kebohongan tumbuh.
Dan cahaya kebenaran tidak akan bersinar di tanah yang dipenuhi suap dan pengkhianatan.
فَإِنَّ ٱللَّـهَ يَأْمُرُ بِٱلْعَدْلِ وَٱلْإِحْسَـٰنِ
“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan.” (QS. An-Nahl: 90)
Maka mari kita satukan barisan:
Pemimpin yang jujur, ulama yang tegas, rakyat yang berani, dan generasi muda yang tak mau tunduk pada sistem busuk.
Mari jadikan perjuangan melawan mafia dan koruptor bukan sekadar tugas negara, tapi juga ibadah yang berakar dari iman.
Karena bangsa yang beriman bukan bangsa yang banyak bicara,
tapi bangsa yang berani bertindak.
Bukan yang sibuk menghitung keuntungan, tapi yang sibuk menegakkan kebenaran.
Dan ketika tangan-tangan beriman bersatu, langit akan membuka pintunya, bumi akan menumbuhkan keberkahannya, dan sejarah akan menulis satu kalimat indah tentang negeri ini:
“Mereka pernah jatuh dalam kegelapan, tapi mereka tidak menyerah. Mereka melawan dengan cahaya, dan cahaya itu menyelamatkan mereka.”
Maka bangkitlah, wahai bangsa yang dicintai Allah — nyalakan kembali obor keadilan. Lawan mafia, tegakkan kebenaran, jaga amanat, dan sucikan niat. Karena selama ada satu jiwa yang berani berkata “tidak” pada kezaliman, selama itu pula cahaya keadilan akan terus hidup di bumi Pertiwi ini.
Admin: Kominfo DDII Jatim
Editor: Sudono Syueb
