Oleh : Ismail Zubir, Komunitas Cangkrukan Alumni ITB, Bandung
Dewandakwahjatim.com, Bandung – Hingga awal abad ke 20, satu-satunya pandangan yang diyakini di dunia ilmu pengetahuan adalah alam semesta bersifat tetap dan telah ada sejak dulu kala tanpa permulaan, sebagaimana yang diyakini oleh para penganut paham “materialisme”. Namun, penelitian, pengamatan, dan perhitungan yang dilakukan dengan teknologi modern, mengungkapkan bahwa alam semesta sesungguhnya memiliki permulaan dan ia terus-menerus “mengembang”.
Padahal Al Qur’an sudah menyatakan hal tersebut 1400 tahun yang lalu. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman :
“ Dan langit itu Kami bangun dengan kekuasaan (Kami) dan sesungguhnya Kami benar-benar meluaskannya “ ( QS Adz Dzariat ; 47).
Kemudian muncul Teori Big Bang yang dianggap sebagai teori penciptaan alam semesta paling sahih dalam ranah ilmu pengetahuan.
Bahkan Teori Big Bang diklaim oleh banyak cendekiawan muslim berkesesuaian dgn Al Quran yaitu seperti yang tercantum dalam ayat berikut :
“ Dan apakah orang-orang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian kami pisahkan antara keduanya……. “ QS.Al-Anbiya ayat 30.
Padahal Teori Big Bang itu sendiri, sangat .. sangat bertentangan dgn Al Qur’an. Temuan ilmiah terbaru bahkan meragukan kebenaran Teori Big Bang.
TEORI BIG BANG
Teori Big Bang menyatakan bahwa alam semesta ini pernah sangat kompak, padat, dan panas. Sebuah ledakan kosmis yang disebut Big Bang, terjadi sekitar 13,7 miliar tahun yang lalu, dan alam semesta sejak itu berkembang dan mendingin. Teori ini didasarkan pada persamaan matematika yang dikenal sebagai persamaan medan, dari teori relativitas umum yang ditetapkan pada tahun 1915 oleh Albert Einstein. Pada tahun 1922 fisikawan Rusia, Alexander Friedmann bersama akhli kosmologi Belgia George Lemaitre secara teoritis menghitung dan menemukan bahwa alam semesta senantiasa bergerak dan mengembang. Alexander Friedmann menyediakan satu set solusi untuk persamaan medan tersebut. Solusi ini telah digunakan sebagai kerangka bagi banyak karya teoretis saat ini tentang teori Big Bang.
Beberapa tahun kemudian seorang astronom Amerika, Edwin Hubble, memberikan beberapa bukti pendukung terbesar bagi teori ini dengan penemuan pada tahun 1929. Ia menerangkan bahwa secara universal cahaya galaksi bergeser jauh ke arah ujung merah spektrum . Teori-cahaya ini menjelaskan bahwa secara perlahan galaksi kehilangan energi secara alami, menjadi lebih merah dari waktu ke waktu. Pergeseran ini membuktikan bahwa galaksi-galaksi tersebut bergerak saling menjauh. Hubble menemukan bahwa galaksi bergerak menjauh secara proporsional dan cepat, menunjukkan bahwa alam semesta berkembang secara seragam.
Namun, keadaan awal alam semesta itu masih belum diketahui. Pada tahun 1940 fisikawan Rusia-Amerika George Gamow bekerja dengan teori yang cocok dengan solusi Friedmann, di mana alam semesta dijelaskan berkembang dari sesuatu yang panas, dan padat. Kesimpulan yang diperoleh dari fakta astrofisika inilah yang dijadikan dasar dalam membangun teori Big Bang. Keseluruhan alam semesta, beserta dimensi materi dan waktu, muncul menjadi ada sebagai hasil dari suatu ledakan raksasa yang terjadi dalam sekejap. Jagat raya tercipta dari suatu ketiadaan sebagai hasil dari ledakan satu titik tunggal. Sedangkan Galaksi Bima Sakti di mana bumi kita berada, diperkirakan terbentuk 200 juta tahun setelah Big Bang. Para penganut Teori Big Bang menganggap bahwa alam semesta ini tidak memiliki batas atau langit (borderless). Jagat raya dikatakan akan mengembang selama 14 milyar tahun dan setelah itu mengempis karena pengaruh gravitasi selama 14 milyar tahun pula dan setelah itu jagat raya punah.
Jadi sesungguhnya teori Big Bang dikembangkan melalui proses berpikir terbalik. Kalau sekarang ini bintang-bintang bergerak saling menjauh dan jagat raya berkembang, tentunya sebelum itu bintang-bintang tersebut saling berdekatan dan kalau ditarik mundur terus ke belakang ke masa milyaran tahun yang lalu, maka akhirnya disimpulkan dia berasal dari satu titik.
Banyak kalangan ilmuwan yg menentang Teori Big Bang. Diantaranya salah seorang astronom terkemuka dari Inggris, Fred Hoyle. Dia menolak teori Big Bang dan mendukung model kosmologis alternatif “keadaan tetap” Dia melontarkan guyonan dgn menyebut teori ledakan kosmis tsb sbg Big Bang. Konyolnya istilah yg awalnya dimaksudkan sbg guyonan tsb, justru dijadikan istilah resmi Teori Big Bang.
Juga ada 3 fisikawan Jepang yang sejak lama tidak dapat menerima teori ini. Pada mulanya bantahan mereka tidak diterima, tetapi kemudian mulai diakui bahkan mereka berhasil meraih hadiah nobel bidang fisika tahun 2008. Mereka katakan Big Bang tidak menghasilkan apa-apa selain hanya enersi yang besar.
Adam Guy Riess (lahir 16 Desember 1969) adalah seorang astrofisikawan Amerika dan Profesor Terhormat Bloomberg di Universitas Johns Hopkins dan Institut Sains Teleskop Luar Angkasa. Ia dikenal karena penelitiannya dalam penggunaan supernova sebagai wahana kosmologi. Riess berbagi Penghargaan Shaw dalam Astronomi tahun 2006 dan Penghargaan Nobel dalam Fisika tahun 2011 dengan Saul Perlmutter dan Brian P. Schmidt karena memberikan bukti bahwa perluasan alam semesta mengalami percepatan yang sangat mengerikan menuju drama terakhir dari existensi jagat raya dgn koyaknya alam semesta ( Teori Big Rip ) dan jagat raya punah.
Melalui perhitungan dgn teleskop ruang angkasa Hubble ditemukan alam semesta mengembang dengan kecepatan 73 kilometer perdetik per milidetik. Sementara satelit Planck menghitung kecepatannya 67 dan 69 kilometer perdetik per milidetik.
Bila dihitung dgn rata2 70 km/detik saja, inilah hasilnya :
70 x 60= 4200 km/ menit.
4200×60= 252.000 km/jam
250.200×24=6.048.000 km/hari.
Berati jagat raya berkembang seluas lbh dr 6 juta km per hari. Kalau dihitung dgn milidetik, tinggal dikalikan seribu.
Maka para ilmuwan akhirnya sepakat menyatakan bahwa ilmu pengetahuan ttg penciptaan alam semesta harus ditulis ulang.
PENCIPTAAN ALAM SEMESTA MENURUT AL QUR’AN
Bagaimana proses penciptaan alam semesta menurut Al Qur’an ?. Pada mulanya sebelum alam semesta diciptakan, menurut Imam Al Ghazali yang pertama kali diciptakan Allah swt adalah sebuah mutiara. Dan mutiara tersebut terus menerus mengeluarkan air dan di atas air Allah ciptakan Arasy-Nya. Wallahu ‘alam.
Tetapi bahwasanya Arasy Allah diciptakan terlebih dahulu dapat dilihat dari ayat berikut :
“ …Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu dia bersemayam di atas Arasy, ….” (QS Al A’raf ; 54).
Kata lalu bersemayam di atas Arasy menunjukkan Arasy Allah telah ada sebelum alam semesta diciptakan. Kemudian dalam surat Hud dijelaskan bahwa Arasy Allah berada di atas air.
“ ……..dan adalah Arasy-Nya Allah di atas air ….. “ (QS Hud ; 7)
Surat Al Fushilat mulai dari ayat 9 sampai dengan ayat 12 menerangkan tentang kronologis penciptaan alam semesta, yakni sebagai berikut :
” Katakanlah, “ Sesungguhnya patutkah kamu kafir kepada Yang Menciptakan bumi dalam dua masa dan kamu adakan sekutu-sekutu bagi-Nya? (Yang bersifat ) demikian itulah Tuhan semesta alam “ ( ayat ke 9 )
“Dan Dia menciptakan di bumi itu gunung-gunung yg kukuh di atasnya. Dia mem-berkahinya dan Dia menentukan padanya kadar makanan-makanan (penghuni)nya dalam empat masa. (Penjelasan itu sebagai jawaban) bagi orang-orang yang bertanya.”
( ayat ke 1)
“Kemudian Dia menuju langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi, “ Datanglah kamu keduanya menuruti perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa”. Keduanya menjawab, “Kami datang dengan suka hati” ( ayat ke 11 )
“ Maka Dia menjadikannya 7 langit dalam 2 masa dan Dia mewahyukan pada tiap-tiap langit urusannya. Dan Kami hiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang yang cemerlang dan Kami memeliharanya dengan sebaik-baiknya`” ( ayat ke 12 )
Surat ini menerangkan bahwa yang pertama kali Allah ciptakan sebelum ada bintang-bintang dan galaksi adalah bumi, yaitu selama 2 masa. Kemudian selama 4 masa Allah swt siapkan cadangan makanan di bumi bagi subject utama penciptaan alam semesta , yaitu manusia.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman :
“Dialah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu, dan Dia berkehendak menuju langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu”.
Q.S Al-Baqarah [2] : 29
Baru setelah itu Allah ciptakan langit dan bintang-bintang selama 2 masa. Kalau dihitung seluruhnya memerlukan waktu 8 masa, sedangkan kita tahu dari Surat Al A’raf ayat 54 sebagaimana yang telah disebutkan di atas, juga dari surat Ynus ayat 3, surat Hud ayat 7, surat Al Furqan ayat 59, surat As Sajdah ayat 4 , alam semesta ini diciptakan selama 6 masa.
Maka bisa diduga tentu diantara phase-phase penciptaan tersebut ada yang overlapping. Di mana overlappingnya ? Secara logis maka penciptaan langit yang 2 masa itu overlap dengan penyiapan kadar makanan 4 masa. Wallahu a’lam.
Bumi sebelumnya adalah planet yang mati dan Allah menghidupkannya dengan menurunkan air dari langit.
“ Dan Allah menurunkan dari langit air dan dengan air itu dihidupkannya bumi sesudah matinya.”. (QS`An Nahl ; 65 , lihat juga surat Ar-Rum 24, surat Hud : 44, surat Hajj ; 63 ).
Pertanyaannya adalah darimana air ini berasal ? Padahal waktu itu belum ada awan yang bisa menghasilkan hujan, belum ada atmosfer yang bisa menahan uap air. Mengacu kepada Al Qur’an, dapat ditafsirkan satu-satunya kemungkinan asal air adalah dari Arasynya Allah.
“ Dan Kami turunkan air dari langit menurut suatu ukuran; lalu Kami jadikan air itu menetap di bumi, dan sesungguhnya Kami benar-benar kuasa menghilangkannya.”( QS Al- Mu’minun ; 18 ).
Perhatikan kalimat “lalu Kami jadikan air itu menetap di bumi” , ini menerangkan bahwa air adalah pendatang ( imigran ) dan bukan pribumi:
“ …. Dan yang menurunkan air dari langit .Kemudian Kami tumbuhkan dengan air itu berjenis-jenis tumbuhan yang bermacam-macam “ ( QS Tha Ha ; 53)
“ Dan Allah telah menciptakan semua jenis hewan dari air … (QS An Nur ; 45).
Ketiga ayat tersebut makin menjelaskan kepada kita bahwa setelah air diturunkan ke bumi, maka sebelum Allah ciptakan hewan , tentunya yang lebih dahulu Allah ciptakan adalah tumbuh-tumbuhan sebagai cadangan makanan. Kemudian hewan-hewan ada juga yang menjadi cadangan makanan untuk hewan-hewan predator dan manusia. Semua jenis hewan, baik burung maupun hewan darat, ternyata menurut ilmu pengetahuan memang asal-usulnya dari hewan air.
Misteri berikutnya adalah dikatakan dalam Al Qur’an bahwa langit dan bumi dulunya adalah suatu yang padu. Padahal Allah swt katakan menciptakan langit dari asap. Maka ayat berikut sebagaimana yang telah disampaikan :
“ Dan apakah orang-orang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian kami pisahkan antara keduanya……. “ ( QS. Al-Anbiya ;30 ).
bukanlah bukti dari Teori Big Bang,
Pertanyaannya adalah darimanakah datangnya asap ? Bumi, sebelum Allah swt hidupkan dengan menurunkan air dari langit, pada mulanya adalah sebuah bola panas yang membara. Ilmu pengetahuanpun mengakui hal tersebut. Tanpa perlu pembuktian, kita ketahui bahwa perut bumi masih mengandung lumpur dan lahar yang sangat panas. ( Ingat Lula dan Lusi – Lumpur Lapindo dan Lumpur Sidoarjo ). Sebuah benda yang panas, seperti sebatang besi yang membara misalnya, apabila disiram air akan menyebabkan munculnya asap dan uap air. Demikian juga dengan bola panas bumi pada waktu air diturunkan maka dia akan mengeluarkan asap dan uap air. Apa bedanya asap dengan uap ? Asap bersifat adhesive (mengikat) sedangkan uap bersifat kohesip (tidak mengikat). Asap dari bumi inilah yang kemudian Allah swt ciptakan menjadi langit yang tujuh lapis. Kemudian dalam tempurung langit yang pertama Allah ciptakan bintang. Darimana Allah SWT ciptakan bintang-bintang. Wallahu a’lam, tidak ada penjelasan dalam Al Qur’an. Allah SWT kuasa menciptakan segala sesuatunya dari yang tiada menjadi ada.
Tetapi ilmu pengetahuan menyatakan bahwa bintang-bintang tercipta dari gumpalan-gumpalan awan. Sedangkan kita tahu gumpalan awan adalah kumpulan uap air, yang pada temperatur yang rendah, bisa berubah menjadi benda padat. Kita tahu jagat raya itu bersuhu sangat rendah
Hadis Rasulullah SAW semakin memperjelas urutan penciptaan alam semesta dan makhluk-makhluknya.
Dari Abu Hurairah r.a, ia berkata, Rasulullah saw memegang tanganku lantas bersabda :
Telah menceritakan kepadaku Suraij bin Yunus dan Harun bin ‘Abdullah mereka berdua berkata; telah menceritakan kepada kami Hajjaj bin Muhammad dia berkata; Ibnu Juraij berkata; telah mengabarkan kepada kami Isma’il bin Umayyah dari Ayyub bin Khalid dari ‘Abdullah bin Rafi’ -budak- Ummu Salamah dari Abu Hurairah dia berkata, “Rasulullah ﷺ memegang tangannya, lalu beliau bersabda, ‘Allah ‘Azza wa Jalla menjadikan tanah pada hari Sabtu, menancapkan gunung pada hari Ahad, menumbuhkan pohon-pohon pada hari Senin, menjadikan bahan-bahan mineral pada hari Selasa, menjadikan cahaya pada hari Rabu, menebarkan binatang pada hari Kamis, dan menjadikan Adam ‘alaihissalam pada hari Jumat setelah Asar, yang merupakan penciptaan paling akhir yaitu saat-saat terakhir di hari Jumat antara waktu Asar hingga malam.” HR. MUSLIM NO.4997.
Urutan hari menyatakan urutan penciptaan. Maka bila disusun kronologis penciptaan alam semesta beserta makhluknya, kemungkinannya adalah sebagai berikut :
Selama dua hari ( masa ) pertama, periode penciptaan bumi : Hari ( masa ) pertama, Allah swt ciptakan bumi kemudian menurunkan air dari Arsy-Nya untuk menghidupkan bumi .
Hari ( masa ) kedua , Allah ciptakan gunung untuk menjaga keseimbangan bumi,
Selama empat hari ( masa ) berikutnya, periode penentuan kadar makanan :
Hari ( masa ) ketiga , Allah ciptakan pepohonan diantaranya sebagai cadangan makanan untuk semua penghuninya dan berlangsung terus menerus hingga akhir hari keenam.
Hari ( masa ) keempat, Allah ciptakan kandungan mineral.
Hari ( masa ) kelima, Allah ciptakan 7 lapis langit dan pada tempurung langit pertama Allah ciptakan bintang-bintang ( matahari ) sebagai sumber cahaya. Inilah periode penciptaan langit yang berlangsung selama 2 masa, sebagaimana dijelaskan dalam surat Al Fushilat ayat 12, overlapping dengan periode penentuan kadar makanan. Pada periode inilah barangkali juga Allah ciptakan malaikat. Kita tahu dari hadisnya Rasulullah, malaikat itu diciptakan dari cahaya
Dari Aisyah r.ha, ia berkata : Rasulullah saw bersabda : “ Malaikat itu diciptakan dari cahaya, jin diciptakan dari nyala api dan Adam diciptakan dari apa yang telah dijelaskan padamu “ ( HR Muslim ).
Kemudian pada langit yang ketujuh ( sidratul muntaha ), Allah ciptakan Baitul Makmur sebagai tempat tinggalnya para malaikat dan surga.
“ demi Baitul Ma’mur” (QS At Thur, 4 )
( Baitul makmur dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim dan Tafsir Ibnu Katsir, adalah rumah di langit ketujuh yang senantiasa diramaikan 70.000 malaikat yang bertasbih).
“ yaitu sidratulmuntaha “ ( QS An Najm 14 ) “ “didekatnya ada surga tempat tinggal “ ( QS An NAjm 15 )
Kemungkinan juga pada periode ini Allah ciptakan jin dan setan dari api ( apakah dari api neraka, wallahu ‘alam ).
Hari ( masa ) keenam, Allah ciptakan binatang-binatang. Sedangkan manusia diciptakan setelah proses penciptaan alam semesta dan makhluk lainnya selesai selama 6 hari ( masa ). Allah ciptakan manusia di surga dari tanah yang berasal dari bumi pada hari ketujuh ( Jum’at ).
KESIMPULAN
Sekarang kita bisa melihat ada perbedaan yang mendasar antara ilmu pengetahuan dan Al Qur’an tentang penciptaan alam semesta
Pertama ; teori Big Bang memiliki banyak kelemahan. Tidak ada bukti ilmiah yang membenarkan pendapat Goerge Gamow yang mengatakan alam semesta berkembang dari sesuatu yang panas, dan padat yang kemudian membentuk seluruh galaksi secara simultan dalam satu ledakan. Bisa saja yang dimaksud sesuatu yang panas dan padat itu tidak lain adalah bumi itu sendiri. Fakta ilmiah hanya membuktikan bahwa alam semesta mengembang. Sedangkan Al Qur’an menyebutkan bumi adalah ciptaan tunggal pertama yang diciptakan Allah sebelum menciptakan langit dan bintang-bintang.
Kedua ; pada awalnya para penganut Teori Big Bang menganggap jagat raya tidak memiliki langit (borderless). Padahal Al Qur’an menyatakan Allah ciptakan langit berlapis 7 sebelum menciptakan bintang. Bintang-bintang diciptakan hanyalah sebagai perhiasan, petunjuk arah dan alat pelempar setan.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman :
Sesungguhnya Kami telah menghias langit dunia ( yang terdekat ) dengan hiasan bintang-bintang “ ( QS As Saffat, 6)
“ Dan Dialah yang menjadikan bintang-bintang bagimu , agar kamu menjadikannya petunjuk dalam kegelapan di darat dan di laut. Kami telah menjelaskan tanda-tanda ( kekuasaan Kami ) kepada orang-orang yang mengetahui “ ( QS Al An’am, 97 ).
“ Dan sungguh, telah Kami hiasi langit yang dekat, dengan bintang-bintang dan Kami jadikannya ( bintang-bintang itu ) sebagai alat pelempar setan, dan Kami sediakan bagi mereka azab neraka yang menyala-nyala “. ( QS Al Mulk, 5 )
Ketiga :
Teori Big Bang menyebut jagat raya mengembang selama 14 milyar tahun dan kemudian mengempis selama 14 milyar tahun, setelah itu jagat raya punah.
Tidak ada seorangpun yang tahu, tidak juga malaikat, kapan kiamat akan terjadi. Hanya Allah yg tahu.
Menurut perkiraan para pengusung Teori Big Bang, usia jagat raya sekarang ini telah mencapai 13 milyar 700 juta tahun. Saat ini jumlah penduduk bumi ada lk 8 milyar dgn rate pertumbuhan rata2 hampir mencapai 1 % per tahun. Berarti rata2 pertambahan penduduk dunia setiap tahunnya lk 80 juta jiwa. Satu milyar tahun ke depan saja pertzmbahan jumlah penduduk akan mencapai 80 juta x 1 milyar = 80.000.000.000.000.000 jiwa. Apalagi 14 milyar tahun kemudian pertambahan penduduk dunia akan mencapai 112.000.000.000.000.000 jiwa. Apakah mungkin ? Sungguh irrasional.
Keempat ,
Teori Big Rip telah mematahkan teori Big Bang. Menurut Teori Big Bang seharusnya pengembangan/pemuaian jagat raya semakin melambat mendekati angka 14 milyar, tetapi yang terjadi justru sebaliknya.
Kelima :
Kiamat menurut Al Quran diawali dgn pecahnya langit.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman ;
Apabila langit terbelah, dan apabila bintang-bintang jatuh berserakan, dan apabila lautan dijadikan meluap,”
Q.S Al-Infitar [82] : 1,2, 3
Apabila langit terbelah, dan patuh kepada Tuhannya, dan sudah semestinya langit itu patuh, dan apabila bumi diratakan, dan memuntahkan apa yang ada di dalamnya dan menjadi kosong,
Q.S Al-Insyiqaq [84] : 1,2,3 dn 4
Maka pada hari itu terjadilah hari Kiamat, dan terbelahlah langit, karena pada hari itu langit menjadi lemah.
Q.S Al-Haqqah [69] : 15 dn 16
Lihat juga Q.S Al-Furqan [25] : 25, Q.S Ar-Rahman [55] : 37, Q.S Al-Mursalat [77] :8, 9, 10
Maka sesungguhnya Big Rip oleh para ilmuwan yg meyakini alam semesta memiliki border ( langit ), adalah pecahnya langit itu sendiri, seperti apa yang sudah dinubuatkan Al Quran.
Wallahu ‘alam bisawab.
Sumber: Komunitas Cangkrukan Alumni ITB, Bandung
Adnin: Kominfo DDII Jatim
Editor: Sudono Syueb
