Membaca Arah Peradaban Indonesia 2025; Refleksi Kepemimpinan dan Gerakan Pemuda Menuju Indonesia Emas 2045

“Bangsa tidak hancur karena kemiskinan, tapi karena kehilangan arah nilai. Di tangan pemuda, peradaban bisa bangkit kembali — jika nurani tetap menyala.”

Oleh : Dr. Benny Triandi SE, MA*)

Dewandakwahjatim.com, Surabaya – Peradaban adalah cermin tertinggi dari perjalanan manusia mencari makna hidup bersama. Ia bukan sekadar kemajuan fisik atau ekonomi, tetapi tentang bagaimana manusia menata nilai, moral, dan spiritualitas sebagai fondasi hidup sosial. Peradaban sejati tidak diukur dari tinggi gedung atau laju teknologi, melainkan dari sejauh mana manusia menghargai sesamanya dan menjaga alam yang menjadi rumahnya. Ketika nilai-nilai kemanusiaan dijaga, di situlah peradaban tumbuh; namun ketika kebenaran digantikan oleh kepentingan, maka peradaban mulai retak dari dalam.

Indikator utama dari peradaban yang berkembang adalah kematangan moral dan kesadaran sosial. Masyarakat yang beradab menempatkan keadilan, kesetaraan, dan empati sebagai ukuran kemajuan. Mereka mampu menjaga harmoni antara kemajuan dan keberlanjutan — antara inovasi dan akar budaya. Di sanalah pendidikan, kebijakan publik, dan spiritualitas bertemu untuk membentuk manusia yang tidak hanya cerdas, tetapi juga bijak. Peradaban sejati bukanlah tentang menaklukkan dunia, melainkan tentang menemukan keseimbangan di dalamnya.

Namun, realitas Indonesia hari ini menunjukkan tanda-tanda krisis peradaban dan krisis kepemimpinan. Di tengah kemajuan teknologi, kita justru kehilangan arah nilai. Politik kian dangkal, etika publik melemah, dan kejujuran menjadi barang langka. Kepemimpinan bergeser dari panggilan moral menjadi sarana ambisi. Di sini, krisis bukan hanya pada sosok pemimpin, tapi pada cara kita memaknai kepemimpinan itu sendiri. Tapi di balik kelelahan itu, masih ada bara harapan: generasi muda yang terus bergerak, menolak menyerah, dan menyalakan kesadaran baru.

Kualitas kepemimpinan menentukan arah dan jiwa peradaban. Pemimpin yang berkarakter kuat menularkan integritas, sedangkan pemimpin yang lemah menularkan kehampaan. Sejarah bangsa manapun menunjukkan, bahwa peradaban besar selalu dipimpin oleh mereka yang berjiwa besar — yang berani berkorban, bukan sekadar berkuasa. Kepemimpinan sejati bukan tentang popularitas, melainkan tentang keberanian moral untuk memilih yang benar meski tidak menguntungkan.

Kini, kita menghadapi pergeseran paradigma kepemimpinan. Dari yang dulunya berlandaskan etika dan pelayanan, kini bergeser menjadi transaksional dan populis. Kepemimpinan dijalankan layaknya strategi pemasaran: penuh citra, minim substansi. Pemimpin populis mungkin tampak dekat dengan rakyat, tapi sering kehilangan kedalaman visi. Pergeseran ini berbahaya karena menanamkan budaya politik instan — di mana kepemimpinan kehilangan makna pengabdian. Maka tugas kita hari ini bukan hanya mencari pemimpin baru, tetapi menemukan kembali makna sejati dari kepemimpinan itu sendiri.

Krisis ini diperparah oleh banyak faktor: warisan feodalisme, sistem politik yang koruptif, ekonomi yang dikuasai oligarki, serta budaya instan yang menyingkirkan kebijaksanaan. Bangsa ini kaya sumber daya, tetapi miskin keteladanan. Pemimpin jujur sering tersingkir, sementara mereka yang lihai bertransaksi justru naik ke panggung kekuasaan. Di sisi lain, globalisasi menenggelamkan nilai-nilai lokal, dan media sosial mempercepat degradasi moral. Maka memperbaiki peradaban Indonesia berarti juga memperbaiki akar nilai yang menopang kepemimpinan.

Dalam situasi seperti ini, pemuda menjadi kunci. Mereka hidup di tengah persimpangan antara kegelisahan dan harapan. Banyak yang kehilangan arah karena kurangnya teladan, tapi banyak juga yang bangkit dengan semangat baru — membangun komunitas, melawan ketidakadilan, dan menciptakan ruang sosial yang lebih bermakna. Pemuda Indonesia bukan generasi yang pasif; mereka adalah generasi yang sedang menulis ulang definisi kepemimpinan, dengan gaya dan kesadarannya sendiri.

Apakah mereka sedang krisis nilai atau sedang bangkit? Mungkin keduanya. Sebab setiap kebangkitan selalu diawali krisis, dan setiap krisis membawa benih kesadaran baru. Pemuda hari ini sedang melalui proses menjadi: mencari makna di tengah kebisingan dunia, menggali idealisme di tengah arus pragmatisme. Mereka sedang belajar untuk tidak sekadar bereaksi terhadap zaman, tapi menciptakan arah baru bagi zaman itu sendiri.

Bentuk nyata kebangkitan ini sudah terlihat di berbagai bidang. Di dunia pendidikan, muncul gerakan literasi, ruang belajar alternatif, dan kampus merdeka nilai. Di dunia politik, anak muda mulai hadir dengan gagasan, bukan sekadar ambisi. Di ranah sosial, mereka menembus batas agama dan etnis untuk memperjuangkan kemanusiaan. Pemuda tidak lagi menunggu diundang sejarah — mereka menciptakan sejarah itu sendiri, lewat aksi nyata yang lahir dari nurani.

Dalam konteks ini, pendidikan tinggi memegang peranan vital. Kampus seharusnya menjadi rahim tempat lahirnya pemimpin yang berkarakter, bukan sekadar lulusan berijazah. Di sinilah nilai, intelektualitas, dan empati ditempa menjadi kesadaran kepemimpinan sejati. Pendidikan tinggi tidak boleh berhenti pada transfer ilmu, tetapi harus menjadi proses pembentukan kesadaran. Ketika mahasiswa belajar berpikir kritis sekaligus hidup dengan empati, maka mereka sedang menyiapkan diri menjadi penjaga peradaban bangsa.

Hubungan antara pemimpin sekarang dan pemuda harus dibangun di atas kepercayaan dan dialog. Pemimpin sejati bukan yang menutup ruang bagi generasi baru, tetapi yang menyiapkan jalan bagi mereka. Dan pemuda yang matang bukan yang sekadar melawan, tapi yang mampu menghormati sambil memperbaharui. Di titik keseimbangan antara keduanya, estafet peradaban menemukan ritme yang sehat: pemimpin memberi arah, pemuda memberi tenaga, keduanya menghidupi nilai yang sama — cinta pada bangsa dan kemanusiaan.

Untuk menuju Indonesia Emas 2045, bangsa ini memerlukan model kepemimpinan transformatif yang berakar pada nilai. Pemimpin masa depan harus berpikir jangka panjang, bekerja dengan hati, dan berani menegakkan keadilan tanpa pamrih. Ia harus mampu memadukan rasionalitas dengan spiritualitas, visi dengan empati, dan keberanian dengan kelembutan. Kepemimpinan semacam ini bukan hanya mengelola negara, tapi menumbuhkan kesadaran — bahwa kekuasaan sejati adalah melayani.

Namun kini, terbentang jurang antara elite dan pemuda: gap epistemik yang membuat keduanya berjalan di dunia nilai yang berbeda. Elite berpikir dalam logika kekuasaan, pemuda dalam logika perubahan. Tapi jurang ini bukan tak bisa dijembatani. Ketika keduanya mau saling belajar dan mendengar, maka lahirlah dialektika baru yang mempertemukan pengalaman dengan idealisme. Hanya dengan itu, bangsa ini bisa menemukan ritme baru peradabannya.

Jika krisis kepemimpinan dan peradaban tidak segera disembuhkan, Indonesia akan menjadi bangsa yang modern tapi kehilangan jiwa. Kita akan memiliki kemajuan tanpa kemanusiaan, dan pembangunan tanpa arah moral. Negara bisa tetap berdiri, tapi peradaban bisa roboh dari dalam. Karena itu, penyembuhan bangsa ini harus dimulai dari kesadaran moral: dari pemimpin yang jujur, rakyat yang kritis, dan pemuda yang tak mau menyerah pada keputusasaan.

Dan kepada para pemuda Indonesia — jadilah penjaga api peradaban itu. Kalian bukan penonton, tapi pelaku utama zaman. Jangan biarkan dunia mendikte arahmu; biarlah nilai yang kalian yakini menjadi kompas. Lawan ketidakadilan, tapi tetaplah berbelas kasih. Kejarlah kemajuan, tapi jangan tinggalkan kebijaksanaan. Sebab peradaban tidak dibangun oleh tangan yang kuat, melainkan oleh hati yang jujur. Selama kalian menjaga nurani, Indonesia akan selalu punya masa depan.🙏🏻

*)Executive Director
Insani Foundation
Indonesia Youth Chapter
*From Indonesia For Humanity*

Sumber: lNSANI Reflektif, Volume 1/2025

Admin: Kominfo DDII Jatim

Editor: Sudono Syueb

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *