Dari Ni‘mah ke Na‘īm: Menyibak Rahasia Nikmat Dunia dan Akhirat

Oleh Muhammad Hidayatulloh, Ketua Bidang PSQ DDII Jatim

Dewandakwahjatim.com, Surabaya – Al-Qur’an bukan sekadar kitab bacaan, tapi juga peta kehidupan. Bahkan sebuah kata yang tampak sederhana, seperti “nikmat”, ternyata menyimpan lautan makna yang dalam. Dalam mushaf suci, Allah ﷻ menyingkap dua wajah nikmat: النِّعْمَة (ni‘mah) dan النَّعِيم (na‘īm).

W Linguistik dalam Al-Qur’an

Kata النِّعْمَة (ni‘mah) dengan berbagai bentuknya muncul lebih dari 40 kali dalam Al-Qur’an. Semuanya terkait dengan nikmat dunia: harta, kemenangan, kesehatan, keamanan, atau keselamatan dari musuh. Kadang disebut dalam bentuk tunggal, kadang jamak (نِعَم / نِعْمَات), kadang juga disandingkan dengan ancaman bila tidak disyukuri.

Sedangkan kata النَّعِيم (na‘īm) muncul sekitar 17 kali dalam Al-Qur’an. Dan uniknya, selalu terkait akhirat. Ia tidak pernah dipakai untuk dunia. Kadang berdiri sendiri (na‘īm), kadang menjadi nama surga
جَنَّاتُ النَّعِيم
(jannātun-na‘īm).

Bayangkan:

Ni‘mah itu seperti oase di tengah padang pasir – segar, menghidupkan, tapi hanya sejenak.

Na‘īm itu seperti samudra tanpa batas – luas, dalam, tenang, dan tidak pernah kering.

Ni‘mah dunia adalah tester menu: kita diberi sedikit rasa manis agar tahu bagaimana mensyukuri. Tapi na‘īm akhirat adalah hidangan utama: jamuan tanpa akhir, penuh keindahan, tanpa takut basi, tanpa khawatir dicabut.

Allah ﷻ berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَهُمْ جَنَّاتُ النَّعِيمِ

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka surga penuh kenikmatan (jannātun-na‘īm).” (QS. Luqmān: 8)

Di sisi lain, tentang ni‘mah dunia, Allah mengingatkan:

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِن كَفَرْتُّمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan: Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami tambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu kufur, sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrāhīm: 7)

Dunia = Ni‘mah; Akhirat = Na‘īm

Ni‘mah dunia: sementara, rapuh, penuh ujian. Ia seperti pelangi yang indah, tapi hanya muncul sebentar setelah hujan.

Na‘īm akhirat: kekal, murni, abadi. Ia seperti matahari yang tak pernah tenggelam, memberi cahaya tanpa henti.

Makanya bro, jangan sampai kita terjebak mengejar ni‘mah sampai lupa na‘īm. Karena ni‘mah hanyalah pinjaman, sedangkan na‘īm adalah kepemilikan sejati.

Refleksi

Jika ni‘mah = ujian, maka na‘īm = balasan.

Jika ni‘mah = jalan, maka na‘īm = tujuan.

Jika ni‘mah = bunga di tepi jalan, maka na‘īm = rumah indah di ujung perjalanan.

Maka bijaklah: gunakan ni‘mah dunia untuk membeli tiket menuju na‘īm akhirat.

Penutup

Bayangkan ketika hidup berakhir, semua ni‘mah dunia hilang: rumah mewah, mobil gagah, jabatan megah. Yang tersisa hanyalah catatan syukur kita. Jika syukur itu tulus, maka di ujung jalan kita akan disambut dengan firman:

فَرَوْحٌ وَرَيْحَانٌ وَجَنَّتُ نَعِيمٍ

“Maka baginya ketenangan, kebahagiaan, dan surga penuh kenikmatan (na‘īm).” (QS. Al-Wāqi‘ah: 89)

Ni‘mah dunia hanyalah senja yang sebentar,
Na‘īm akhirat adalah fajar yang tak pernah padam.

Admin: Kominfo DDll Jatim

Editor: Sudono Syueb

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *