Musibah: Bahasa Cinta Allah dalam Ayat dan Kehidupan

Oleh Muhammad Hidayatulloh, Ketua Bidang PSQ DDII Jatim dan penulis 4 buku Perjalanan Jiwa

Dewandakwahjatim.com, Surabaya –

Pengantar

Musibah bukan sekadar peristiwa yang membuat dada sesak, bukan sekadar luka yang meneteskan air mata. Dalam kacamata wahyu, musibah adalah bahasa cinta Allah, cara-Nya menyapa hamba agar kembali pada-Nya. Ia bukan cambuk hukuman semata, tapi jembatan pembersih menuju surga.

Musibah sebagai Ujian Iman

Allah ﷻ berfirman:

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍۢ مِّنَ ٱلْخَوْفِ وَٱلْجُوعِ وَنَقْصٍۢ مِّنَ ٱلۡأَمۡوَٰلِ وَٱلۡأَنفُسِ وَٱلثَّمَرَٰتِۗ وَبَشِّرِ ٱلصَّٰبِرِينَ • ٱلَّذِينَ إِذَآ أَصَٰبَتۡهُم مُّصِيبَةٞ قَالُوٓاْ إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّآ إِلَيۡهِ رَٰجِعُونَ • أُوْلَٰٓئِكَ عَلَيۡهِمۡ صَلَوَٰتٞ مِّن رَّبِّهِمۡ وَرَحۡمَةٞۖ وَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُهۡتَدُونَ

“Sungguh Kami akan menguji kalian dengan sedikit rasa takut, lapar, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira bagi orang-orang yang sabar. Yaitu orang-orang yang ketika ditimpa musibah berkata: Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji‘ūn (Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya kami kembali). Mereka itulah yang mendapat keberkahan dan rahmat dari Rabb mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al-Baqarah: 155–157)

Ayat ini adalah deklarasi agung: musibah adalah kurikulum Ilahi. Ia mengajarkan kita arti kepemilikan sejati—bahwa diri, harta, bahkan nyawa hanyalah titipan.

Kesabaran yang Menghapus Dosa

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ، مِنْ نَصَبٍ، وَلَا وَصَبٍ، وَلَا هَمٍّ، وَلَا حُزْنٍ، وَلَا أَذًى، وَلَا غَمٍّ، حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا، إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ

“Tidaklah seorang muslim ditimpa kelelahan, penyakit, kekhawatiran, kesedihan, gangguan, atau kegelisahan, bahkan duri yang menusuknya, melainkan Allah akan menghapus sebagian dari kesalahannya.” (HR. Bukhari & Muslim)

Di sini, setiap tetes air mata adalah penghapus dosa. Setiap luka kecil adalah sapuan kasih sayang Allah. Dunia mungkin melihatnya sebagai derita, tapi di sisi Allah ia adalah pahala yang terus mengalir.

Kisah Wanita yang Terkena Ayan

Seorang wanita datang kepada Nabi ﷺ dan berkata:

إِنِّي أُصْرَعُ، وَإِنِّي أَتَكَشَّفُ، فَادْعُ اللَّهَ لِي

“Aku terkena ayan, dan ketika kambuh auratku tersingkap. Doakanlah aku kepada Allah.”

Nabi ﷺ menjawab:

إِنْ شِئْتِ صَبَرْتِ وَلَكِ الْجَنَّةُ، وَإِنْ شِئْتِ دَعَوْتُ اللَّهَ أَنْ يُعَافِيَكِ

“Jika engkau mau, bersabarlah, dan bagimu surga. Jika engkau mau, aku berdoa agar Allah menyembuhkanmu.”

Wanita itu berkata:

أَصْبِرُ، وَلَكِنْ أَدْعُ اللَّهَ أَنْ لَا أَتَكَشَّفَ

“Aku akan bersabar, tetapi doakan agar aku tidak tersingkap auratku.”

Maka Nabi ﷺ pun mendoakannya. (HR. Bukhari, Muslim)

Kisah ini menegaskan bahwa sabar bisa menuntun ke surga. Lebih dari itu, ia mengajarkan bahwa menjaga kehormatan diri (aurat) lebih mulia daripada sekadar menginginkan kesembuhan tubuh.

Ayat tentang Hikmah Ujian

Allah ﷻ berfirman:

وَلَنُذِيقَنَّهُم مِّنَ ٱلۡعَذَابِ ٱلۡأَدۡنَىٰ دُونَ ٱلۡعَذَابِ ٱلۡأَكۡبَرِ لَعَلَّهُمۡ يَرۡجِعُونَ

“Dan pasti Kami timpakan kepada mereka sebagian azab yang dekat (di dunia), sebelum azab yang besar (di akhirat), agar mereka kembali (bertaubat).” (QS. As-Sajdah: 21)

Musibah di dunia hanyalah teguran lembut. Allah tidak ingin hamba-Nya terseret pada siksa abadi, maka Dia datangkan sakit, sedih, dan ujian agar hamba itu kembali.

Pandangan Ulama

Imam An-Nawawi: “Setiap musibah yang menimpa seorang muslim, meski kecil, menjadi sebab penghapusan dosa. Bahkan berlaku meski ia tidak ridha, selama tidak sampai menentang takdir Allah.”

Ibnu Hajar al-‘Asqalani: “Disebutkan duri agar manusia tidak meremehkan gangguan kecil, sebab di sisi Allah ia bernilai besar.”

Ibnul Qayyim: “Musibah ibarat obat. Pahit, tapi menyembuhkan. Ia membersihkan hati, meninggikan derajat, dan mendekatkan kepada Allah.”

Filosofi Ruhani

Musibah adalah ombak dalam samudra kehidupan. Tanpa ombak, kapal iman takkan pernah diuji. Ombak memang mengguncang, tapi justru itu yang membuat kapal sampai ke pelabuhan.

Kesedihan adalah bahasa rahasia Allah. Dalam air mata, Allah berbisik: “Aku dekat. Aku ingin engkau kembali pada-Ku dengan hati yang bersih.”

Penutup

Musibah bukanlah akhir, melainkan awal perjalanan menuju kedekatan. Sakit bukan sekadar derita, tapi undangan menuju surga. Air mata bukan kelemahan, melainkan permata penghapus dosa.

Seperti wanita yang terkena ayan, ia memilih sabar, dan surga pun menantinya. Maka siapa pun kita hari ini—yang sedang sakit, lelah, atau terhimpit kesedihan—ingatlah: mungkin dunia menorehkan luka, tapi Allah sedang menuliskan pahala.

Admin: Kominfo DDII Jatim

Editor: Sudono Syueb

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *