Konsep Dasar dalam Al-Qur’an: Predestinasi dan Free Will

Oleh Prof Dr Priyono, alumni ITB, Bandung

Dewandakwahjatim.com, Bandung – Al-Qur’an memang menyatakan bahwa Allah Maha Kuasa dan menentukan segalanya, termasuk hidayah dan rezeki. Konsep ini disebut Predestinasi.

Contoh ayat predestinasi:

  • QS. Al-Qamar (54:49): “Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran (qadar).”
  • QS. Al-Insan (76:30): “Dan kamu tidak dapat menghendaki (sesuatu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam.”
  • QS. Al-Baqarah (2:6-7): Menyebut bahwa bagi orang kafir, Allah telah menutup hati mereka, sehingga mereka tidak beriman—menunjukkan Allah menentukan siapa yang mendapat hidayah.

Di sisi lain, Al-Qur’an juga menekankan free will manusia, di mana manusia bertanggung jawab atas tindakannya:

  • QS. Al-Kahfi (18:29): “Dan katakanlah: ‘Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir.'”
  • QS. An-Nahl (16:93): “Dan jikalau Allah menghendaki, niscaya Dia menjadikan kamu satu umat (saja), tetapi Dia menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan sesungguhnya kamu akan ditanya tentang apa yang telah kamu kerjakan.”
  • QS. Al-Baqarah (2:286): “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya”—menyiratkan manusia punya kemampuan memilih.

Rezeki juga ditentukan Allah (QS. Al-Ankabut 29:62), tapi manusia dianjurkan berusaha (ikhtiar), seperti dalam QS. An-Najm (53:39): “Dan bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya.”

Perspektif yang Melihat Tidak Ada Kontradiksi

Mayoritas ulama Islam (seperti mazhab Ash’ariyah dan Maturidiyah) berpendapat bahwa ini bukan kontradiksi.

Allah mengetahui segalanya secara abadi (ilmu-Nya mencakup masa lalu, sekarang, dan masa depan), tapi manusia diberi kehendak bebas untuk memilih dalam batas kemampuannya.

Penentuan Allah (qadar) mencakup pengetahuan-Nya atas pilihan manusia, bukan memaksa mereka. Misalnya:

  • Doa dan amal shaleh bisa mengubah qadar sekunder (seperti umur atau rezeki), tapi qadar primer (seperti akhirat) tetap berdasarkan pilihan manusia. Hadits Nabi: “Tidak ada yang bisa menolak qadar kecuali doa” (HR. Tirmidzi).
  • Rekonsiliasi ini seperti Allah menciptakan api yang panas, tapi manusia memilih memegangnya atau tidak – konsekuensinya sudah ditentukan, tapi pilihan ada pada manusia.
  • Sumber seperti Yaqeen Institute dan IslamQA menjelaskan bahwa free will beroperasi di bawah kehendak universal Allah, tapi manusia tetap akuntabel karena merasakan kebebasan memilih tanpa paksaan.

Perspektif yang Melihat Ada Kontradiksi

Beberapa kritikus (terutama dari luar Islam atau mazhab seperti Mu’tazilah) berargumen bahwa ini memang kontradiksi logis.

Jika Allah sudah menentukan siapa yang mendapat hidayah atau rezeki, maka free will hanyalah ilusi – manusia dihukum atas sesuatu yang sudah ditakdirkan. Contoh argumen:

  • Ayat seperti QS. Yunus (10:99-100): “Dan jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman seluruhnya? Dan tidak ada seorang pun yang beriman kecuali dengan izin Allah” – menunjukkan Allah bisa membuat semua beriman tapi memilih tidak, sehingga manusia tidak benar-benar bebas.
  • QS. Al-Baqarah (2:6-7) dan QS. An-Nisa (4:88) menyiratkan Allah menyesatkan orang tertentu, tapi kemudian menghukum mereka – ini dilihat sebagai tidak adil jika free will benar-benar ada.
  • Kritik ini sering muncul di situs non-Muslim, yang menyebutnya sebagai “dilema predestinasi”

Kesimpulan

Secara keseluruhan, dalam tradisi Islam utama, ini bukan kontradiksi karena qadar dan free will saling melengkapi: Allah tahu pilihan Anda, tapi Anda yang memilihnya.

Namun, bagi yang melihatnya secara logis ketat, bisa tampak kontradiktif karena implikasi ketidakadilan.

Ini tergantung interpretasi; Al-Qur’an sendiri tidak secara eksplisit menyelesaikan debat ini, tapi mendorong iman dan amal tanpa terlalu memusingkan qadar.

Seperti nasihat Nabi kepada sahabat:

“Beramallah, karena setiap orang akan dimudahkan untuk apa yang diciptakan baginya”).

Catatan:

​Dilema predestinasi adalah sebuah paradoks atau teka-teki filosofis dan teologis yang muncul dari pertentangan antara dua konsep utama: predestinasi (ketetapan takdir) dan kehendak bebas (free will).

Admin: Kominfo DDII Jatim

Editor: Sudono Syueb

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *