Dakwah Itu Memudahkan, Bukan Menyulitkan

Oleh Haris Agung Firmansyah, Dai Dewan Da’wah Jatim

(Potret Semangat Mengaji di Dusun Puncak, Argosari, Senduro, Lumajang)

Dewandakwahjatim.com, Lumajang – Di ujung timur Pulau Jawa, tepatnya di Dusun Puncak Desa Argosari, Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang, kehidupan masyarakat berjalan dengan sederhana. Letaknya di ketinggian 2.889 mdpl membuat suasana desa ini begitu dingin, dikelilingi kabut dan perbukitan hijau yang menawan. Meski panorama alamnya menyejukkan, akses kehidupan di sana tidaklah mudah. Fasilitas terbatas, jarak pembelanjaan jauh, dan sarana umum pun belum selengkap daerah perkotaan.

Namun di balik keterbatasan itu, ada semangat yang justru menghangatkan. Warga Dusun Puncak, baik ibu-ibu maupun bapak-bapak, terus berusaha mendekatkan diri kepada Allah melalui pengajian dan menuntut ilmu agama. Inilah bukti nyata bahwa dakwah yang dijalankan dengan penuh kasih sayang tidak mengenal batas tempat, suhu, atau keadaan.

Dakwah Bukan untuk Menyulitkan

Islam datang sebagai rahmat bagi semesta alam. Rasulullah ﷺ telah menegaskan:

إِنَّ الدِّينَ يُسْرٌ وَلَنْ يُشَادَّ الدِّينَ أَحَدٌ إِلَّا غَلَبَهُ فَسَدِّدُوا وَقَارِبُوا وَأَبْشِرُوا وَاسْتَعِينُوا بِالْغَدْوَةِ وَالرَّوْحَةِ وَشَيْءٍ مِنْ الدُّلْجَةِ

Artinya, “Sesungguhnya agama itu mudah, dan tidaklah seseorang mempersulit agama kecuali dia akan dikalahkan (semakin berat dan sulit). Maka berlakulah lurus kalian, mendekatlah (kepada yang benar) dan berilah kabar gembira dan minta tolonglah dengan al-ghadwah (berangkat di awal pagi) dan ar-rauhah (berangkat setelah dhuhur) dan sesuatu dari ad-duljah (berangkat di waktu malam)”. (HR Bukhari).

Prinsip inilah yang menjadi dasar semangat dakwah di Dusun Puncak. Masyarakat tidak dibebani dengan aturan-aturan yang kaku, tetapi dibimbing dengan cara yang lembut, sederhana, dan sesuai keadaan mereka. Ketika fasilitas terbatas dan jarak jauh, dakwah tidak hadir dengan tuntutan yang menyulitkan, melainkan dengan pendekatan yang membahagiakan.

Di rumah-rumah sederhana yang hangat dengan aroma kayu bakar, warga berkumpul untuk belajar membaca Al-Qur’an, memahami makna hadis, dan membicarakan ilmu-ilmu agama. Ibu-ibu yang seharian sibuk mengurus keluarga tetap meluangkan waktu untuk duduk bersila di majelis taklim, sementara bapak-bapak yang lelah dari ladang tetap hadir untuk mendengar nasihat agama.

Santri Itu Bahagia, Gagah, dan Tidak Manja

Di tengah kegiatan dakwah di Dusun Puncak, hadir pula semangat santri yang membersamai masyarakat. Santri adalah cerminan kesungguhan dalam menuntut ilmu. Mereka bahagia bukan karena fasilitas mewah, tetapi karena ilmunya berguna. Santri itu gagah, sebab di mana pun kesulitan menghadang, mereka berdiri teguh dan tetap tersenyum menghadapi rintangan.

Santri juga tidak manja. Hidup di lingkungan yang terbatas membuat mereka terbiasa dengan kesederhanaan. Justru dari keterbatasan itulah lahir jiwa yang tangguh, sabar, dan mandiri. Santri ditempa bukan untuk dimanjakan, melainkan untuk dipersiapkan menjadi cahaya bagi masyarakat.

Di Dusun Puncak yang sejuk namun penuh keterbatasan, santri belajar bersama masyarakat: bagaimana menjaga iman, memperkuat ukhuwah, dan menghidupkan tradisi mengaji. Mereka hadir bukan untuk menyulitkan, melainkan untuk memudahkan jalan umat menuju Allah.

Dari Dusun Puncak Desa Argosari kita belajar, bahwa dakwah sejati adalah dakwah yang memudahkan, bukan menyulitkan. Dan dari santri kita memahami, bahwa kebahagiaan sejati adalah ketika ilmu bermanfaat, kegagahan sejati adalah ketika tetap teguh dalam kesulitan, dan ketangguhan sejati lahir dari hati yang tidak manja.

Di balik dinginnya pegunungan, ada kehangatan iman yang terus menyala. Inilah bukti bahwa selama ada semangat belajar dan mendekatkan diri kepada Allah, keterbatasan bukanlah halangan, melainkan ladang pahala yang luas.

Nama dai : Haris Agung Firmansyah
Kontak Dai: 085852119267

Admin: Kominfo DDII Jatim

Editor: Sudono Syueb

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *