Oleh Muhammad Hidayatulloh, Ketua Bidang PSQ DDII Jatim dan penulis 4 buku: Perjalanan Jiwa
Dewandakwahjatim.com, Surabaya – Ada rahasia besar yang hanya bisa dirasakan oleh mereka yang hatinya sudah tidak lagi terpaut pada dunia: ketika dunia pergi, justru hatinya lapang dan jiwanya merdeka. Inilah yang dimaksud para arifin dengan kalimat penuh hikmah:
“من علامة سكون القلب إلى الله تعالى انشراحه إذا زالت عنه الدنيا”
“Di antara tanda hati yang tenang bersama Allah Ta‘ala adalah lapangnya ketika dunia terlepas darinya”.
Dunia: Bayangan yang Tak Pernah Tetap
Bayangkan dunia seperti bayangan sore yang terus memanjang. Kau kejar, ia menjauh. Kau berhenti, ia ikut bergeser. Dunia selalu berubah, tak pernah bisa kau genggam erat. Ia hanya singgah, seperti awan yang berlalu di langit biru—indah sesaat, lalu lenyap ditelan angin.
Mereka yang menggantungkan hatinya pada dunia akan terus resah. Begitu harta hilang, kedudukan runtuh, cinta fana pergi—hatinya retak, jiwanya pecah. Karena ia telah menautkan dirinya pada sesuatu yang rapuh.
Hati yang Bertumpu pada Allah
Namun, hati yang sudah bersandar pada Yang Abadi, ibarat gunung kokoh yang tidak goyah diterpa badai. Ketika dunia datang, ia tersenyum; ketika dunia pergi, ia lebih tersenyum. Karena ia tahu: yang hilang hanyalah fatamorgana, sedangkan yang tinggal hanyalah Allah yang tak pernah meninggalkan.
Allah ﷻ telah menegaskan rahasia ini dalam Al-Qur’an:
لِّكَيْلَا تَأْسَوْا عَلَىٰ مَا فَاتَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوا بِمَا آتَاكُمْ
“…Supaya kamu tidak bersedih hati terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu tidak terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu…” (QS. Al-Ḥadīd [57]: 23)
Ayat ini seperti peneguhan: dunia memang bukan untuk digenggam erat, tapi untuk dilepaskan dengan tenang, karena semua sudah tertulis dalam Lauḥ Maḥfūzh.
Filosofi Kehilangan: Jalan Menuju Kelapangan
Kadang, justru saat dunia terlepas darimu, engkau baru menemukan dirimu yang asli. Kehilangan adalah guru sunyi yang menyingkap siapa sebenarnya tempat sandaranmu. Jika kehilangan membuatmu hancur, itu tanda hatimu masih terikat pada dunia. Jika kehilangan membuatmu semakin lapang, itu tanda hatimu sudah menemukan Tuhan.
Rasulullah ﷺ pernah mengajarkan dengan sangat indah:
وَاعْلَمْ أَنَّ مَا أَخْطَأَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُصِيبَكَ، وَمَا أَصَابَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُخْطِئَكَ
“Ketahuilah, apa yang tidak menimpamu tidak akan pernah menimpamu, dan apa yang menimpamu tidak akan pernah luput darimu.” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi)
Dan beliau melarang kita terjebak dengan kata “seandainya”:
Tetapi katakanlah:
قَدَّرَ اللَّهُ وَمَا شَاءَ فَعَلَ
Allah telah menakdirkan, dan apa yang Dia kehendaki pasti terjadi. Karena ucapan ‘seandainya’ hanya membuka pintu setan.” (HR. Muslim)
Metafora Cinta Sejati
Cinta dunia itu seperti bercinta dengan bayangan di cermin: kau lelah merangkul, tapi ia tak pernah bisa kau miliki. Sedang cinta Allah itu seperti samudera luas: semakin kau tenggelam, semakin kau tenang.
Maka ketika dunia pergi, jangan anggap itu musibah. Itu adalah undangan rahasia: Allah sedang berkata, “Kembalilah pada-Ku, karena Aku lebih cukup daripada semua yang pernah kau punya.”
Hati yang Pulang
Hidup ini singkat. Dunia hanyalah halte sementara, bukan tujuan akhir. Yang menetap hanyalah Allah. Maka jangan biarkan jiwamu menjadi gelisah oleh sesuatu yang sementara.
Ingatlah firman Allah ﷻ:
لِّكَيْلَا تَأْسَوْا عَلَىٰ مَا فَاتَكُمْ…
Jangan sedih berlebihan atas yang hilang. (QS. Al-Ḥadīd: 23)
Ingatlah sabda Rasulullah ﷺ:
مَا أَخْطَأَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُصِيبَكَ…
Apa yang luput darimu tak akan pernah menimpamu.
Harta bisa hilang, tapi hati yang bergantung pada Allah tak pernah miskin.
Cinta dunia bisa hancur, tapi cinta Allah tak pernah retak.
Tahta bisa runtuh, tapi jiwa yang tenang bersama Allah akan selalu tegak.
Ketika dunia pergi, hanya satu yang tersisa: hati yang pulang ke rumah sejatinya—kepada Allah.
Admin; Kominfo DDII Jatim
Editor: Sudono Syueb
