Oleh M. Anwar Djaelani, pengurus Dewan Da’wah Jatim
Dewandakwahjatim.com, Surabaya – Natsir adalah pribadi yang menggerakkan. Aktivitasnya inspiratif. Pemikirannya mencerahkan. Sebagian pemikirannya terekam di buku Capita Selecta. Sementara, di balik Capita Selecta ada peran D.P. Sati Alimin. Selanjutnya, seperti apa hubungan menarik ini?
Natsir Baik
Mohammad Natsir (1908-1993), tokoh besar. Pada dirinya melekat banyak predikat yang baik. Sebagian predikat itu: Ulama, pendakwah, pendidik, intelektual, pemikir, negarawan, dan penulis. Ketokohannya tak hanya diakui di Indonesia, tetapi juga di dunia Islam.
Jasa Natsir banyak. Misal, dalam hal terbentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) jasanya besar. Alkisah, saat itu, Indenesia berbentuk Republik Indenesia Serikat (RIS). Pada 03/04/1950, sebagai anggota parlemen, Natsir mengajukan mosi dalam Sidang Parlemen RIS. Mosi itulah yang kemudian dikenal sebagai ”Mosi Integral Natsir” dan memungkinkan bersatunya kembali 17 Negara Bagian ke dalam NKRI.
Setelah Indonesia kembali menjadi NKRI, Natsir terpilih menjadi Perdana Menteri RI pertama, 1950-1951. Di luar itu, Natsir berulang kali duduk sebagai menteri di sejumlah kabinet. Semua itu, menunjukkan kapasitas Natsir sebagai pemimpin bangsa yang tepercaya. Di belakang hari, Natsir dianugerahi gelar Pahlawan Nasional.
Jejak Sangat Baik
Di antara kelebihan Natsir dalam hal penyampaian pendapat atau pemikiran, dia punya kemampuan yang sama baik antara lisan dan tulisan. Di aspek tulisan, Natsir menulis sekitar 35 judul buku dan ratusan artikel tentang berbagai masalah dalam Islam dan sosial-kemasyarakatan. Capita Selecta dan Fiqhud Da’wah adalah dua di antara karya bukunya yang menonjol dan berpengaruh.
Apa capita selecta? Dalam bahasa Indonesia baku, frase itu ditulis kapita selekta. Artinya, bunga rampai karya ilmiah yang dianggap penting.
Buku Capita Selecta karya Natsir terbit kali pertama pada 1954. Sementara, Fiqhud Da’wah terbit kali pertama pada 1969. Di masing-masing kehadiran kedua buku itu, ada jasa seseorang. D.P. Sati Alimin berjasa untuk Capita Selecta. Adapun S.U. Bayasut berjasa untuk Fiqhud Da’wah.
D.P. Sati Alimin menghimpun dengan sabar tulisan-tulisan Natsir yang tersebar di berbagai media untuk kemudian dibukukan menjadi Capita Selecta. Sementar, S.U. Bayasut mengumpulkan dengan telaten tulisan-tulisan Natsir tentang dakwah. Juga, mengumpulkan catatan pribadi dari banyak peserta kursus dakwah dengan pemateri Natsir di berbagai kota.
Tentu, pekerjaan menghimpun naskah yang dilakukan D.P. Sati Alimin dan S.U. Bayasut harus kita apresiasi. Hal ini karena, terutama di ketika itu, jauh sebelum adanya internet. Atas pekerjaan yang tak mudah tapi sangat bermanfaat itu, kita patut berterima kasih.
Kita bersyukur, Capita Selecta dan Fiqhud Da’wah sampai kapanpun akan tetap dibutuhkan. Pertama, Capita Selecta menjadi bagian sejarah. Hal ini karena si penulis adalah salah satu pelaku sejarah utama terbentuknya negeri ini. Hal lain, karena isi buku sebagian besar bertemali erat dengan situasi negara kala tulisan-tulisan itu dibuat.
Kedua, Fiqhud Da’wah pasti dibutuhkan masyarakat di sepanjang masa. Dari judul, dibahas serba-serbi tentang dakwah, Sementara, Islam adalah agama dakwah.
Sebagian Semangat
Ketika tulisan ini dibuat yaitu pada September 2025, Capita Selecta yang telah terbit adalah jilid 1, 2, dan 3. Sementara, jilid 4 masih berupa rencana. Sekarang, kita cermati sebagian kesaksian tokoh atas Capita Selecta yang telah terbit.
”Buku Capita Selecta 1 memuat tulisan Natsir dalam rentang 1936 sampai 1941. Berisi pemikiran tentang kebudayaan, filsafat, pendidikan, agama, ketatanegaraan dan politik,” kata Dr. Ade Salamun (2015, iv).
Bukalah Capita Selecta jilid 1. Di Bab I, Kebudayaan – Filsafat, antara lain di dalamnya ada bahasan Islam dan Kebudayaan. Di Bab II, Pendidikan, antara lain di dalamnya ada bahasan Ideologi Pendidikan Islam. Di Bab III, Agama, di dalamnya antara lain ada bahasan Tauhid sebagai Dasar Didikan. Di Bab IV, Ketatanegaraan, di dalamnya antara lain ada bahasan Percaya-Mempercayai. Di Bab V, Persatuan Agama dan Negara, di dalamnya antara lain ada bahasan Arti Agama dalam Negara.
Berikutnya, kita buka Capita Selecta jilid 2. Di dalamnya ada lima bab. Kita bisa membayangkan isinya lewat sebagian judulnya.
Bab I, Pidato di Parlemen dan Pidato di Radio. Ada enam naskah. Di antaranya berjudul Pidato tentang Pembentukan Negara Kesatuan. Bab II, Pidato dan Khotbah. Ada 13 naskah. Di antaranya, ada judul Jangan Berhenti Tangan Mendayung. Bab III, Bunga Rampai. Ada 26 naskah. Di antaranya, ada judul Agama dan Politik. Bab IV, Wawancara dan Guntingan Pers. Ada 29 naskah. Di antaranya berjudul Kemakmuran Menurut Islam. Bab V, Dari Hati ke Hati. Ada 16 naskah. Di antaranya, berjudul Tamsil yang Mengandung Hikmah.
Sekarang, kita cermati Capita Selecta jilid 3. Di dalamnya ada tiga bab. Bab I, Demokrasi Versus Otoritarianisme. Di dalamnya ada 12 bahasan, di antaranya berjudul Satu Contoh yang Tidak Baik dari Kepala Negara. Bab II, Pidato di Konsituante. Di dalamnya, ada 8 bahasan. Satu berjudul, Islam sebagai Dasar Negara. Bab III, Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia. Di sini, ada 18 naskah. Salah satunya berjudul, Rezim Sukarno telah Sampai kepada Puncak Kecongkakan dan Kesombongan.
Kesaksian dan Contoh.l
Di buku Capita Selecta ada sejumlah testimoni tokoh. ”Kalau kita menelaah tulisan-tulisan Pak Natsir, baik tulisan lepas maupun sebuah kolom, beliau mengemukakan pandangan berdasarkan data, analisa dan argumentasi yang kokoh,” kata Yusril Ihza Mahendra (2015, vii).
Mari rasakan apa yang dinyatakan Yusril di atas, terutama dalam hal argumentasi kokoh Natsir. Bukalah Capita Selecta jilid 1. Cermatilah bahasan berjudul Arti Agama dalam Negara. Kita ikuti bagaimana Natsir secara kokoh mengungkap pandangannya.
”Negara bagi kita bukan tujuan, tapi alat. Urusan kenegaraan pada pokoknya dan pada dasarnya adalah satu bagian yang tak dapat dipisahkan dari Islam. Hal yang menjadi tujuan ialah kesempurnaan berlakunya Undang-Undang Ilahi, baik yang berkenaan dengan perikehidupan manusia sendiri (sebagai makhluk individu) ataupun sebagai anggota dari masyarakat. Baik yang berkenaan dengan kehidupan dunia yang fana ini ataupun yang berhubungan dengan kehidupan kelak di alam baka,” kata Natsir (2015: 240).
Lebih lanjut, berikut ini kata Natsir tentang tujuan hidup seorang Muslim, yaitu: ”Berhimpunnya, berharmoninya kejayaan dunia dan kemenangan akhirat. Itulah bagi kita umat Muhammad ini yang dinamakan progress. Itulah bagi kita yang menjadi tujuan hidup, yang harus dicapai. Jika tercapai yang demikian baru kita berhak menamakan diri kita hamba Allah dengan arti sepenuh-sepenuhnya” (2015: 542).
Kisah Nama
Di balik terbitnya buku Capita Selecta, ada peran besar D.P. Sati Alimin. Dia lahir di Payakumbuh Sumatera Barat tahun 1909. Sebenarnya, nama asliya Alimin. Berikut ini kisahnya.
Sebelum Indonesia merdeka, di antara kegiatan Alimin adalah sebagi guru bahasa Melayu. Dia lulusan Normaal School. Setelah kemerdekaan, namanya ditambahi gelar karena diangkat sebagai Penghulu Nagari.
Gelar itu, Datuk Paduka Sati. Biasanya, gelar itu ditulis di belakang nama. Namun bagi Alimin, yang punya alasan kebahasaan dan estetika, gelar itu ditempatkan di depan namanya. Jadilah, nama itu ditulis D.P. Sati Alimin.
Pertemuan Berkah
Alimin pernah belajar kepada A. Hassan, Guru Utama Persatuan Islam (Persis). Alimin kenal Natsir kali pertama karena difasilitasi A. Hassan. Tentang ini, ada di tulisan Artawijaya yang disandarkan kepada Majalah Al-Muslimun terbitan April 1980.
Bahwa, pada 1930, usia Alimin baru 21 tahun. Ia bekerja sebagai pegawai negeri di Minangkabau, Sumatera Barat. Perkenalannya dengan A. Hassan dimulai lewat Majalah Pembela Islam, media yang dikelola oleh A. Hassan dan Natsir.
Tulisan-tulisan A. Hassan di majalah itu menggugah ghirah Alimin. Setelah itu, terjadi korespondensi antara Alimin dan A. Hassan. Ketika Alimin mengunjungi A. Hassan di Bandung, ulama itu menyambut hangat. Setelah beristirahat, A. Hassan mengajak Alimin bersilaturrahim ke teman-temannya yang merupakan tokoh-tokoh Persatuan lslam (Persis). Berkenalanlah Alimin dengan H. Zamzam, Sabirin, Natsir, Fachruddin Al-Qahiri, Qamaruddin Saleh, H. Mahmud Aziz, dan lain-lain (https://hidayatullah.com/kajian/sejarah/2021/09/13/215527/a-hassan-kisah-memuliakan-tamu.html).
Guru Bagus
Alimin guru bahasa Melayu. Salah satu yang pernah menjadi muridnya adalah Prof. Dr. Busthanul Arifin, S.H.. Nama yang disebut terakhir ini pernah mendapat amanah sebagai Ketua Muda Mahkamah Agung RI. Berikut ini kesaksian si murid kepada sang guru, di awal 1940-an.
Kata Busthanul Arifin (BA), saat itu bahasa pengantar untuk belajar adalah bahasa Belanda. Semua guru, terlebih yang memang berbangsa Belanda, selalu memakai bahasa Belanda. Hanya saja, Alimin adalah satu-satunya guru yang berbahasa Indonesia (Melayu) saat di kelas.
Kala itu Alimin baru lulus dari sekolah guru, yang ketika itu disebut Normaal School. Di Sumatera Barat waktu itu hanya ada satu Normaal School, yaitu di Padang Panjang. Lulusan sekolah itu amat terkenal karena kompetensinya untuk mengajar di Sekolah Dasar.
Kata BA, air muka Alimin selalu seperti tersenyum. Beliau amat ramah dengan murid-murid. Tentu, ini performa yang disukai semua orang.
Hal menarik lainnya, cara Alimin mengajar. Dalam mengajarkan bahasa Melayu, Alimin selalu menjalinkannya dengan prinsip-prinsip iman dan takwa. Berikut ini, masih kata BA, yang ditulisnya di Bulletin Da’wah terbitan Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia edisi 3 Mei 2002. Petikannya, di bawah ini:
Pernah ada selebaran Belanda, menjelang Jepang datang. Intinya, meminta warga agar setia kepada Belanda. Atas hal itu, Alimin mengajarkan tentang tujuan hidup kita, yaitu meraih Ridha Allah. Semua langkah harus untuk mendapat ridha Allah. Tentu, murid mengerti maksud penjelasan sang guru.
Alimin pernah pula menjelaskan hakikat nikmat. Dengan mensyukurinya, akan menenteramkan hati kita. Alimin lalu memberi ilustrasi. Lapar itu sakit, tapi saat kita berpuasa karena Allah, lapar menjadi nikmat. Segelas air di waktu berbuka, itu sangat nikmat. Seperti apa nikmatnya, tak akan dirasakan oleh mereka yang tak pernah berpuasa.
Pendidik Asyik
Alimin muballigh yang disenangi masyarakat. Di mana Alimin berdakwah, di Payakumbuh, banyak masyarakat yang hadir. Berikut ini, masih kesaksian dari BA.
Saat Alimin menyampaikan khutbah Jum’at, jamaahnya penuh. Padahal, nada penyampaiannya tidak meledak-ledak. Dia serius, datar. Kata BA, itulah jika bicara tak sekadar dari lisan tapi dari hati. Dari hati, masuk ke hati.
Alangkah baiknya, simpul BA, semua pendidik meniru Alimin, mengaitkan dengan Islam apapun pelajarannya. Terlebih lagi, bagi dosen dan Guru Besar, harus mengaitkan kajiannya dengan Islam. Pendapat BA ini, patut kita dukung.
Siapa Ikut
Orang baik ketemu orang baik. Alimin belajar kepada A. Hassan lewat tulisan-tuisannya. Belakangan, Alimin bisa silaturrahim langsung kepada A. Hassan, baik di Bandung dan di Bangil.
Ketika bersilaturrahim di Bandung, A. Hassan mengenalkan Alimin kepada tokoh-tokoh Persatuan Islam termasuk Natsir. Maka, sebuah jaringan orang-orang baik terbentuk. Selanjutnya, di antara buah baiknya adalah terbitnya buku Capita Selecta 1, 2, dan 3.
Demikianlah, kisah Alimin terutama yang terkait dengan Natsir dan Capita Selecta sudah kita ikuti. Keduanya, inspiratif. Keduanya layak kita teladani. Alhamdulillah, Allahu Akbar. []
Admin: Kominfo DDII Jatim
Editor: Sudono Syueb
