MASALAH BANGSA KIAN PELIK, PERINGATAN PAK NATSIR DAN KI HADJAR TERBUKTI

Oleh: Dr. Adian Husaini, Ketua Umum DDII Pusat

Dewandakwahjatim.com, Depok – Mohammad Natsir (1908-1993) dan Ki Hadjar Dewantara (1889-1959) adalah
dua tokoh bangsa yang sudah lama mengingatkan akan bahaya besar yang dihadapibangsa ini. Jika dicermati, menurut keduanya, akar masalah bangsa ini adalah kesalahan
pendidikan. Bangsa ini salah didik, mengadopsi pendidikan Barat sekuler, yang akhirnya berujung kepada penyakit cinta dunia, individualisme, dan materialisme.

Pada tanggal 17 Agustus 1951, Pak Natsir sudah menulis artikel yang
mengingatkan akan bahaya perubahan sikap masyarakat. Sebelum merdeka, mereka cinta
perjuangan dan pengorbanan. Setelah negara merdeka, sikap mereka berbalik. Mereka sibuk menunjukkan jasa-jasanya untuk minta imbalan.

Pada tahun 1980-an, Pak Natsir semakin memahami kondisi bangsa yang semakin pelik. Ia mengingatkan, akar masalah bangsa kita adalah cinta dunia yang berlebihan.

Kondisi ini semakin buruk ketika pendidikan kita menjadikan pencapaian materi sebagai
indikator utama kesuksesan.
Sekolah dianggap bagus jika lulusannya sukses duniawi, banyak harta dan tinggi jabatannya. Iman, taqwa, dan akhlak mulia tidak dijadikan indikator kesuksesan utama.

Visi akhirat disingkirkan. Dunia ini adalah tujuan utama. Di sini dan saat ini. Inilahsebenarnya, inti dari paham sekularisme. Dalam buku Percakapan Antar Generasi, Pak Natsir menyatakan: ”Di negara
kita, penyakit cinta dunia yang berlebihan itu merupakan gejala yang ”baru”… Tetapi, gejala yang ”baru” ini, akhir-akhir ini terasa amat pesat perkembangannya, sehingga
sudah menjadi wabah dalam masyarakat.”

Ki Hadjar Dewantara pun mengingatkan hal senada. Tahun 1943 Ki Hadjar
menyatakan, bahwa pendidikan Eropa sangat mengabaikan kecerdasan budi-pekerti.
Akibatnya, timbullah penyakit intellektualisme yakni mendewakan angan-angan yang ujungnya muncul sikap “kemurkaan-diri” atau individualisme dan “kemurkaan-benda” atau materialisme.
“Itulah yang menyebabkan hancurnya ketentraman dan kedamaian di dalam
hidupnya masyarakat!” kata Ki Hadjar.


Kita bisa melihat, mendengar, dan merasakan, apa yang disampaikan oleh dua tokoh bangsa itu makin terlihat. Pemerintahan datang silih berganti. Program-program
pembangunan disusun dan diterapkan dengan sebaik-baiknya. Para pakar dari dalam dan
luar negeri dikerahkan untuk memberikan sumbangsih pemikiran bagi kemajuan bangsa.


Akan tetapi, setelah 80 tahun kita merdeka, harus kita akui, tujuan kemerdekaan yang dicita-citakan para pendiri bangsa, masih belum terwujud. Keadilan sosial masih
menjadi harapan banyak warga bangsa kita. Kemakmuran ekonomi dinikmati oleh sedikit orang. Kualitas moral bangsa – seperti kejujuran dan etos kerja – masih kalah dengan
banyak bangsa lain.

Salah satu prestasi pembangunan yang bisa kita banggakan adalah masih utuhnya NKRI. Keutuhan NKRI ini sangat mahal haragnya. Dengan utuhnya NKRI, Indonesia
masih dipandang sebagai satu negeri muslim terbesar. Jangan sampai NKRI terpecah belah, sehingga melemahkan dan mengecilkan peran NKRI di dunia internasional.

Kita berharap, pemerintahan Presiden Prabowo Subianto mampu memahami
masalah bangsa secara mendasar dan komprehensif. Masalah kemiskinan dan kesenjangan sosial merupakan masalah akut yang perlu penanganan super cepat. Di tengah-tengah keresahan masyarakat, jangan sampai ada kebijakan-kebijakan yang
memicu kecemburuan sosial.

Tetapi, kita tidak boleh berhenti di situ. Ada masalah mendasar dan fundamental. Yaitu, masalah akhlak. Problem ini perlu diselesaikan secara menyeluruh dan berkelanjutan melalui pendidikan. Kita harus menyiapkan satu generasi unggul yang akan menggantikan kepemimpinan negeri kita, dalam seluruh aspek kehidupan, dan di semua tingkatan.


Itulah yang sudah jauh-jauh tahun diingatkan banyak pendiri bangsa kita, seperti Mohammad Natsir dan Ki Hadjar Dewantara. Semoga kita masih sempat berpikir, merenung, dan bermusyawarah dengan bimbingan hikmah dari Allah SWT. Amin.
(Depok, 30 Juni 2025).

Admin: Kominfo DDII Jatim

Editor: Sudono Syueb

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *